RADARSOLO.COM - Sukesnya sebuah film tak lepas dari peran sang sutradara. Nah, Fajar Nugroho atau yang akrab dipanggil Fajar Nugros ini memiliki cara tersendiri dalam menggarap sebuah film. Terutama dalam mengelola para aktornya.
Meski termasuk dalam jajaran sutradara kondang di tanah air, namun tak ada kesan sombong dari Nugros ketika mengobrol dengan koran ini di food court salah satu mall di Kota Bengawan usai launching film terbarunya beberapa waktu lalu.
Bercengkrama dengan pria kelahiran Jogjakarta, 29 Juli 1979 ini sangat asyik. Sosoknya terbuka, santai, namun memiliki pemikiran yang luas. Kecintaan dia dalam memproduksi film berawal dari hobinya menulis cerita pendek (cerpen) pada saat masih duduk di bangku sekolah di Jogjakarta.
Bertambah usia, dia lantas mulai tertarik dengan dunia film setelah menonton film pendek. "Kemudian saya masuk ke komunitas film di UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). Ketemu beberapa sutradara, saya serap ilmunya," ujarnya.
Tak berpuas diri, Nugros lantas merantau ke Ibu Kota Jakarta. Dengan maksud belajar penyutradaraan dengan Hanung Bramantyo. Karena sama-sama berasal dari Jogja. Dari mentornya itulah, Nugros lantas mendapat ilmu apa saja yang menjadi tugas dari seorang sutradara. Berikut tips dan trik dalam menggarap sebuah film.
Pada 2004, dia mencoba membuat film pendek dengan judul Sangat Laki-Laki. Lima tahun berselang, dia memulai debutnya dengan menggarap film Queen Bee.
"Menggarap film itu juga mendapat pengalaman juga. Karena banyak aktor yang sudah senior, seperti Mathias Muchus, Jajang C Noor, Reza Rahadian, yang notabennya saya baru lahir, mereka sudah makan film," kelakarnya.
"Tetapi saya malah dapat wejangan dari mereka. Film itu ibarat kapal, sutradara itu nakhodanya. Kalau nakhodanya bimbang, sungkan, ya kapalnya karam. Jadi dari situ, meski aktornya senior, saya diminta tetap tegas dalam mengarahkan (pemain)," kata Nugros.
Berawal dari situ, dia mulai percaya diri dalam menggarap film. Namun, meski dia nakhodanya, tak melulu dia menciptakan karakter. Dia memberi kebebasan kepada para aktor untuk mengeksplor karakter dari naskah yang ditulisnya. Seperti pada film Yowis Ben.
"Para pemain saya minta jadi apa adanya. Contohnya Bayu Skak yang jadi pemeran utamanya. Ya itu karakter dia. Di dunia nyata juga seperti itu. Buktinya sukses dan sampai jadi trilogi," ujarnya.
Hal yang sama juga dilakukan saat menggarap film teranyarnya Sleep Call. Di mana dia juga memberi kebebasan kepada pada pemeran untuk mengeksplor karakter mereka masing-masing.
"Setiap saya sedang akan menggarap film, pasti selalu bisa mendapat pemeran yang pas. Mungkin ini yang dinamakan jodoh dari Tuhan," candanya.
Berhasil menjadi sutradara kondang sebenarnya bukan menjadi salah satu mimpinya. Salah satu cita-citanya dulu malah menjadi seorang wartawan. Ya, Nugros dulu pernah pernah menjabat sebagai ketua lembaga pers kampus di bangku kuliah. Bahkan dia sempat melamar ke sebuah media surat kabar, tapi tak lolos.
"Mungkin kalau dulu diterima, saya jadi wartawan. Seru jadi wartawan itu. Karena bisa ketemu banyak orang dan banyak bidang, terus ditulis jadi berita. Memang basicnya saya itu penulis sih," ungkapnya.
Nugros mengatakan, selain menggarap film, dia sempat juga akan menulis novel guna menyalurkan hobinya. Tapi, karena harus fokus dengan banyak hal sebagai pembesut film, dia tidak memiliki waktu banyak untuk menulis.
"Banyak di laptop novel yang saya tulis tapi berhenti di tengah jalan. Karena awalnya pas nulis itu sedang tidak garap film. Kemudian setengahnya nulis, sedang fokus garap film. Akhirnya terputus idenya. Terus mau lanjut nggak mood. Itu yang buat novel saya ngak selesai-selesai," ujar dia. (atn/bun)
Editor : Damianus Bram