RADARSOLO.COM - Pernah tak mendapatkan restu dari orang tua, atlet muda berparas cantik ini tetap nekat maju ke ring tinju untuk adu ketangkasan dalam cabang olahraga kickboxing. Lebam-lebam pasca bertanding hilang seketika setelah berhasil mengangkat sabuk emas.
Malang melintang di dunia kickboxing baik nasional maupun internasional membuat Dwi Ani Retno Wulan semakin tangguh. Namun, dia tetap tidak melupakan daerahnya. Dara cantik ini tetap bersedia turun di ajang level regional seperti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2023. Hasilnya sangat membanggakan. Dia berhasil mempersembahkan medali emas di cabor kickboxing bagi Kota Bengawan.
Keseriusan Dwi Ani menekuni dunia beladiri sudah sejak SMA. Demi menekuni dunia ini dia memilih merantau ke Kota Bengawan. Namun saat pamit merantau itu, dia tak mengaku kepada bapak ibunya jika akan terjun ke olahraga beladiri.
Sebab, sejak awal, keluarga tak mendukung pilihan Dwi Ani untuk berkecimpung di olahraga beladiri. Beberapa tahun di Solo, Dwi Ani sempat menganggur dan hanya berlatih olahraga.
Hingga saat ini orang tuanya juga belum sepenuhnya memberikan izin dia untuk terjun di olahraga beladiri. Bahkan ketika prestasi demi prestasi dia persembahkan. Berkali-kali orangtuanya mendesak Dwi Ani untuk tetap pulang kampung.
“Awalnya memang datang ke Solo itu pamitnya untuk bekerja. Kalau pamit untuk latihan beladiri tidak akan diizinkan. Saya juga tidak punya rencana untuk sekolah, pokoknya lulus SMA mau kerja saja,” ucap gadis asal Rembang ini.
Hingga suatu ketika selesai berlatih, pelatihya menawari dia untuk berkuliah di program studi pendidikan dan kepelatihan olahraga. Tanpa berpikir panjang, gadis 25 tahun itu pun langsung mengiyakan tawaran tersebut.
Tak disangka, di kampus tersebut, Dwi Ani mengaku mendapat banyak dukungan untuk terus berprestasi di bidang olahraga tanpa mengabaikan kuliah. Dia juga mendapat dukungan untuk berlatih oleh pihak kampus. Bahkan, di sering dimudahkan untuk tidak mengikuti kuliah jika sedang mengikuti kompetisi.
"Saya bersyukur sekali bisa berkuliah di UTP ini. Sebab saya bisa menyeimbangkan prestasi keolahragaan dengan ilmu. Saya banyak belajar dan merasa bahwa saya ingin melanjutkan pendidikan setelah lulus sarjana, " papar alumnus SMA Negeri Sulang, Rembang tersebut.
Ketika disinggung mengenai alasan dia ingin melanjutkan pendidikan, gadis berparas manis ini mengaku ada beberapa hal. Pertama, pendidikan selalu menjadi hal penting karena masa depan yang penuh ketidakpastian hanya bisa diantisipasi dengan pendidikan. Kedua, pendidikan yang memadai juga sedikit banyak menunjang prestasi keolahragaan yang dia geluti.
"Karir dan prestasi olahraga itu penting. Olahrgaa akan lebih baik jika didukung pendidikan," imbuhnya.
Menurut dia, selain harus berprestasi di ring dia juga harus memiliki bekal pengetahuan yang matang untuk bisa terus melanjutkan mimpinya. Salah satunya dengan tetap melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Jalan itu diambil Retno, sekaligus untuk bisa memiliki alasan agar tetap di Solo agar bisa tetap mengikuti ajang kickboxing.
"Makanya saya ingin lanjut kuliah pascasarjana sekaligus memperdalam latihan setelah lulus kuliah. Sebab, jika tidak pasti langsung diajak pulang kampung, " kata gadis pemegang sabuk juara kelas Women strawweight 52,5 kg di MMA Juni 2023 lalu ini.
Retno juga menceritakan, selama menggeluti olahraga kickboxing, dia juga sering mengalami lebam dan luka-luka akibat menerima pukulan dari lawan. Dia bahkan pernah sempat tak bisa melihat karena mendapatkan pukulan keras di matanya. Namun, dia menegaskan jika semua yang dilakukan di dalam atas ring pasti dijaga keamanannya.
Meski garang di dalam ring, gadis kelahiran 7 Juli 1998 ini justru mengaku tak pernah berani jika harus memukul atau menantang orang lain di luar ring. Dia bahkan tak pernah memukul orang lain di luar ring. Ini berbeda ketika sudah di atas ring.
“Pokoknya kalau di dalam ring kudu ngedan, kalau tidak ya bisa kalah. Tapi kalau di luar ring saya justru gak berani kalau ditantang berkelahi,” ujar dia. (ian/bun)
Editor : Damianus Bram