RADARSOLO.COM - Sabiq Muhammad, 25, menjadi kepala desa (kades) termuda di antara 67 kades yang dilantik Bupati Klaten Sri Mulyani kemarin. Demi mengabdi untuk desanya, dia bahkan rela mengubur mimpinya belajar ke negeri Tiongkok.
Sejak Januari lalu, Sabiq Muhammad, 25, sebenarnya sudah mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi jenjang S2 ke Tiongkok usai menjadi penerima beasiswa pendidikan. Tepatnya di China Agricultural University dengan mengambil jurusan pertanian. Dia dijadwalkan berangkat pada awal September ini.
Sabiq sejak kecil sudah mengenyam pendidikan di sejumlah pondok pesantren (ponpes) sehingga jarang di rumah. Kemudian melanjutkan S1-nya di Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta dengan mengambil jurusan hukum. Baru dua tahun belakangan ini dia di rumah dengan aktif berkegiatan di sektor pertanian di desanya.
Nah, ketika ada kontestasi pemilihan kepala desa (pilkades), pria kelahiran 18 Maret 1998 ini mencoba ikut bertarung. Dan hasilnya, masyarakat memberi amanah menjadi Kepala Desa (Kades) Prawatan, Kecamatan Jogonalan. Dia terpilih di pilkades pada 5 Juli lalu dengan memperoleh 1.565 suara. Mampu menyisihkan calon kades lainnya.
Terpilihnya dia sebagai kades, di luar prediksi Sabiq sendiri. Sebab, sejak awal tidak ada niatan dia untuk maju menjadi kades. Dia bahkan baru mendaftarkan diri setengah jam sebelum pendaftaran ditutup.
“Saya sendiri mendaftar karena ada desakan dari masyarakat. Tapi saya punya prinsip tanpa politik uang. Soalnya itu tidak mendidik dan menjerumuskan masyarakat,” ucap Sabiq ditemui seusai pelantikan kades serentak di Pendapa Pemkab Klaten, Rabu (27/9).
Awalnya ada 15 bakal calon kades yang mendaftar di Pilkades Prawatan. Hingga akhirnya diseleksi menjadi lima orang termasuk dia. Tetapi saat pemungutan suara hanya tiga calon kades yang hadir hingga akhirnya dia yang terpilih.
Tapi jauh sebelumnya sempat diwarnai kebimbangan karena berada di dua pilihan. Antara melanjutkan kuliah S2 di negeri Tirai Bambu atau mengabdi ke masyarakat ketika terpilih menjadi kepala desa. Mengingat mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri menjadi kesempatan yang langka.
“Memang ada desakan dari masyarakat dan saya juga aktif dalam kegiatan sosial (di desa). Maka itu saya memutuskan untuk membatalkan sepihak beasiswa itu hingga kedutaan. Saya sempat mendapatkan teguran dari kedutaan,” ujar Sabiq yang mengaku masih lajang ini.
Sempat ada sedikit penyesalan karena tidak jadi kuliah di luar negeri sesuai jurusan yang dimimpikan itu. Nah, tesis yang sebenarnya sudah disiapkan ini akan segera dia wujudkan menjadi program di desanya. Mengingat dia sudah mengemban amanah menjadi kades.
Dia hendak memanfaatkan tanah kas desa untuk pengelolaan pertanian organik. Mengingat sektor pertanian menjadi potensi Desa Prawatan. Dalam mengembangkan pertanian organik itu dia akan menggandeng kelompok tani desa setempat yang selama ini dia dampingi.
“Jadi tesis yang saya siapkan sekalian dijadikan program saja di desa. Apalagi memang membutuhkan percobaan,” ucap Sabiq.
Salah satu program yang digulirkan adalah pertanian organik lewat pengelolaan sampah menjadi pupuk. Selain itu dia akan melakukan pemetaan sungai di desanya untuk menjamin kelancaran pengairan saat musim kemarau tiba.
Sementara itu, sang ayah, Purwadi Hidayat, 58, mengaku juga sempat bimbang saat ada desakan dari masyarakat agar anaknya maju pilkades. Hingga akhirnya dia merestui anaknya untuk maju pilkades setelah mendapatkan keyakinan dari seluruh elemen masyarakat desa untuk mengawal putranya hingga jadi kades.
“Saya sempat dua minggu bimbang, karena sampai terpilih mendapatkan beasiswa di luar negeri kan eman-eman (kalau tak melanjutkan S2). Posisi saat itu anak sudah mendaftar (pilkades). Hingga akhirnya saya merestui. Semoga bisa menjalankan (pemerintahan) sesuai aturan,” ujar dia. (ren/bun)
Editor : Damianus Bram