Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Novianti, Puluhan Tahun Berprofesi Jadi Perias Jenazah: Awal Terjun Sempat Ragu, Luluh oleh Wejangan sang Ayah

Damianus Bram • Jumat, 29 September 2023 | 16:57 WIB
TOTALITAS: Novianti menunjukkan alat perias jenazah.
TOTALITAS: Novianti menunjukkan alat perias jenazah.

RADARSOLO.COM - Bagi kebanyakan orang mungkin tak terbersit menekuni profesi sebagai perias jenazah. Namun, bagi Novianti ini menjadi sebuah panggilan demi membantu orang lain. Seperti apa tantangan menekuni profesi ini?

Hari-hari Novianti tak lepas bergelut dengan pemulasaraan jenazah. Selain membuka warung makan di Jebres, Solo, ibu dua anak ini juga sigap menerima panggilan ketika ada orang meninggal.

Ya, inilah freelance job Novianti sebagai perias jenazah. Khususnya bagi jenazah nonmuslim. Profesi yang mungkin dipandang menakutkan bagi sebagian orang, namun dia dilakoni dengn suka cita demi rasa kemanusiaan.

"Saya otodidak bisa merias (jenazah). Ya namanya manusia, pasti ada rasa deg-degan tapi dilakoni semaksimal mungkin yang saya bisa. Karena niat saya juga untuk membantu (sesama)," kata dia kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (28/9).

Puluhan tahun sudah Novianti menggeluti profesi ini. Ketertarikan perempuan yang kini tinggal di Jebres, terhadap dunia rias jenazah, bukan tanpa alasan. Bakat meriasnya itu berasal dari sang ibunda. Karena sedari kecil sering mengikuti jejak ibunya merias jenazah di rumah duka.

Kini, tangan terampil Novianti bisa melanjutkan profesi tersebut. Berbekal beberapa alat make up, keluarga yang ditinggal sang mendiang pun cukup puas dengan hasil riasan Novianti.

"Habis dimandikan lalu dirias. Pakai foundation, blush on, alis, dan lipstik. Biasanya keluarga request mau dikasih apa gitu. Kalau baju dibawakan dari keluarga. Saya hanya merias dan merawat," lanjut dia.

Menjalani profesi ini bukan tanpa tantangan. Menurut Novianti, merias jasad tidak segampang merias wajah mereka yang masih hidup. Butuh usaha lebih agar riasan bisa melekat dengan sempurna ke wajah orang yang sudah meninggal. 

Kesulitan ini meningkat manakala wajah jenazah mengalami kerusakan karena sakit maupun kecelakaan. Di sanalah kemampuannya ditantang untuk bisa mempercantik sang mendiang.

"Kesulitannya ya kalau misal jenazah tidak utuh. Tapi biasanya dari rumah sakit bagian tubuh yang rusak atau tidak utuh itu sudah ditutup. Jadi kami merias bagian yang bisa saja," lanjut dia.

Novianti tak memungkiri, layaknya manusia biasa perasaan cemas tak ayal juga kerap datang. Untuk menghalau rasa cemas itu, Novianti rupanya memiliki trik tersendiri. Di mana dia merias sambil mengajak komunikasi sang mendiang layaknya orang masih hidup.

Panggilan Mbak, Mbah dan Bu adalah sapaan yang sering digunakan kepada jenazah. Sembari memulasari, Novianti merasa dapat berbicara dari hati ke hati dengan sang mayat.

"Saya biasanya mengajak berbincang 'Ayo bu, muter dulu badannya mau pakai baju' begitu. Seperti komunikasi dengan orang yang masih hidup. Misal ada yang anggota tubuh yang kaku gitu dipijat sambil kasih alkohol biar bisa luwes untuk dipakaikan baju," imbuh dia.

Rupanya Novianti mengaku sempat gelisah menekuni profesi ini. Rasa tersebut muncul di awal dia terjun sebagai perias jenazah. Namun, kegelisahan itu terhapuskan seiring mendapat wejangan dari sang ayah.

"Sempat merasa bimbang karena saya muslim dan biasanya yang dirias kan orang nonmuslim. Namun, ayah saya berpesan kalau bekerja itu harus ditekuni dan diniati dengan baik. Meski berbeda (keyakinan), saya melakoni dengan cara saya sendiri. Misal mengawali dengan bismillah. Itu yang masih saya terapkan," lanjutnya.

Bagi Novianti, bergelut dengan profesi ini lebih banyak sebagai jalan untuk melayani daripada mencari materi. Untuk itu, dia berpesan bagi siapa pun yang ingin mengikuti jejaknya, maka dia harus lebih dahulu meluruskan niat. 

"Kadang juga ikut terbawa emosi karena melihat keluarga yang ditinggal menangis. Maka dengan menjalani profesi ini saya berusaha untuk memberi memori baik lewat riasan cantik untuk mendiang," kata dia. (ul/bun)

Editor : Damianus Bram
#make up #mayat #Novianti #merias #perias jenazah