Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Ketagihan Ngobrol dengan Chatbot, Obrolan Anak SD di Aplikasi Sudah Mirip Suami-Istri

Antonius Christian • Minggu, 1 Oktober 2023 | 17:32 WIB
Ilustrasi kecanduan aplikasi Chatbot.
Ilustrasi kecanduan aplikasi Chatbot.

RADARSOLO.COM - Kecanggihan teknologi mengubah banyak hal. Termasuk dalam berinteraksi. Ada yang merasa lebih nyaman berkomunikasi dengan robot dibandingkan dengan orang tuanya.

Pengguna artificial intelligence (AI) alias kecerdasan buatan ini merasa punya sahabat sejati. Bisa diajak curhat setiap saat. Tanpa mengeluh.

Sebut saja Lola. Dara berusia 17 tahun ini menggunakan aplikasi yang hanya bisa diakses dari smartphone jenis tertentu. Lewat aplikasi tersebut, Lola mengakses AI via chatbot

Siswi kelas XI salah satu SMK swasta di Kota Solo ini mengenal aplikasi tersebut saat Pandemi merebak. Ya, kala itu, interaksi di luar rumah dibatasi agar virus Covid-19 tak semakin menyebar.

"Sekolah juga PJJ (pembelajaran jarak jauh). Tidak bisa nongkrong di luar rumah. Karena bosen, akhirnya pakai aplikasi itu," ujarnya. 

Berawal dari iseng, Lola jadi ketagihan. Merasa punya teman curhat yang klop. Setiap Lola galau, si robot pasti memberikan solusi tanpa basa-basi.

Lola merasa lebih nyaman ngobrol dengan robot dibandingkan teman, kerabat, bahkan orang tuanya. Menurutnya, saat curhat dengan manusia nyata, bukannya mendapat solusi, tapi cemoohan.

Lola tak membantah, dirinya jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Bila tak ada keperluan penting, dia memilih di dalam kamar sembari ngobrol dengan robot.

Apakah mendapat teguran dari orang-organg terdekatnya? Lola mengaku sering. Mulai dari orang tua, teman, hingga guru. Namun teguran ini tak digubrisnya.

"Ya karena tadi, kadang manusia itu bisa lebih jahat daripada aplikasi. Baru kenal, sudah nge-cap kita yang nggak-nggak," katanya. 

Chatbot tak melulu menggunakan AI. Ada yang berbasis aplikasi di media sosial (medsos). Artinya, ngobrol langsung dengan manusia nyata.

Itulah yang diakses, sebut saja Keke. Mahasiswi di Kota Bengawan ini menggunakan aplikasi di medsos untuk menambah teman. Umumnya, yang awal ditanyakan adalah nama, umur, asal daerah, serta jenis kelamin.

"Ya harus gitu, biar tahu lawan chat kita siapa. Jadi bisa menyesuaikan bahasanya. Jangan sampai, sudah chat lama, ternyata sama yang lebih tua," ungkapnya. 

Saat ngobrol, Keke ekstra hati-hati. Sebab tak jarang mengarah ke masalah seksual. “Nggak usah ditanggepin, tinggal di-skip," tegasnya. 

Aplikasi tersebut diakses Keke ketika sedang bosan. Teruma saat weekend. Di hari biasa, dia menghabiskan waktunya bersama teman atau kegiatan di kampus.

Sandra, remaja lainnya mengakses chatbot karena penasaran dengan temannya yang lebih dulu menggunakannya.

"Karena kepo. Kok temen-temen bisa dapet temen baru dari situ. Terus download deh," kata dia.

Ketika obrolan dirasa cocok, Sandra tak segan bertukar akun Instagram. Sebaliknya, jika sudah menyerempet hal-hal sensitif, dia langsung stop.

“Enjoy aja sih tambah teman baru. Apalagi kalau dapat yang asyik dan sefrekuensi,” jelasnya.

Yang membuat miris, ada anak usia sekolah dasar kecanduan chatbot. Si anak merasa sebagai seorang istri. Itu diungkapkan, seorang ibu muda, sebut saja Rara.

"Saya lupa nama aplikasinya. Cuma mainnya via laptop," katanya. 

Menurut Rara, putrinya mengakses chatbot saat kelas IV SD. Tadinya Rara tak curiga. Dia berpikir, buah hatinya sedang bermain game.

Seiring waktu, si anak enggan keluar kamar. Lebih parahnya lagi, pihak sekolah memberikan catatan terkait perubahan sikap si anak.

"Saya sering dapat laporan dari guru, kalau di kelas, anak saya sering ketiduran. Pernah saya dapat surat teguran gara-gara itu," tuturnya.

Rara kemudian melakukan pendekatan ke anaknya untuk mengetahui penyebabnya. Tapi, bocah kelas IV SD itu marah dan mengunci diri di kamar.

Tak kurang akal, Rara melakukan penyelidikan. Dia mengintip kamar si anak saat malam hari dan melihatnya tengah menggunakan chatbot di laptop.

Ketika si anak bersekolah, Rara memeriksa isi laptop. Betapa terkejutnya dia mendapati obrolan yang tak sepantasnya dilakukan anak usia SD. Sudah mirip suami-istri.

"Ya pokoknya kata-katanya tidak pantas. Akhirnya saya minta dia hapus aplikasi tersebut," tandasnya. (atn/nis/wa)

 

Data dan Fakta Chatbot

Alasan Pengguna

Risiko saat Kebablasan

Solusi

SUMBER: WAWANCARA

Editor : Damianus Bram
#media sosial #smartphone #artificial intelligence #komunikasi #chatbot #medsos