Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Ari Nugroho, Kolektor Kain Batik Kuno dari Penjuru Nusantara: Tak Peduli Biaya yang Dikeluarkan, Rajin Berburu

Silvester Kurniawan • Senin, 2 Oktober 2023 | 16:27 WIB

 

TETAP TERAWAT: Ari Nugroho memamerkan salah satu koleksi batik produksi keluarga Tjoa.
TETAP TERAWAT: Ari Nugroho memamerkan salah satu koleksi batik produksi keluarga Tjoa.

RADARSOLO.COM - Berburu batik kuno yang kaya akan sejarah dan sarat keindahan sudah menjadi hobi bagi Ari Nugroho, 52. Meski membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak murah, pemilik batik Rosalina ini sangat menikmati. Kini ada ratusan lembar kain batik lawas yang dia koleksi.

Awal jatuh cinta dan berburu kain batik lawas diakui Ari Nugroho tumbuh sejak dia menseriusi bisnis batik pada 2015 lalu. Awalnya dia lama menjadi karyawan batik. Kemudian mencoba memulai bisnis batik mandiri sejak 2006. Bermodal Rp 250 ribu, dia membelanjakan uang itu untuk membeli sepuluh kemeja bermotif batik seharga Rp 25 ribu. Hasil belanja itu kemudian diposting di akun medis social miliknya dan langsung ludes dalam waktu dua jam.

“Kemeja batik yang per picisnya Rp 25 ribu itu mampu terjual dengan harga Rp 55 ribu. Keuntungan dari penjualan itu saya putar untuk belanja produk serupa dan begitu seterusnya sampai perputaran uang bertambah besar,” kata dia.

Pada momen tertentu, salah seorang pelanggannya dari Lampung hendak mampir ke toko miliknya. Ari yang kala itu belum memiliki toko fisik atau showroom kemudian meminjam sejumlah properti dan produk batik dari sejumlah vendornya. Pertemuan itulah yang akhirnya membuat Ari memantapkan diri untuk seriusi menekuni bisnis ini.

Hasil dari pertemuan yang tidak pernah dia bayangkan itu akhirnya mendorong dia untuk menyewa sebuah kios di salah satu mal di Solo. Nah, momen itulah yang membuat dia mulai mem-branding usahanya sendiri. Langkah itu membuat dia makin dikenal dan sering terlibat dengan berbagai kegiatan yang digelar pemkot.

“Dari pengalaman bisnis itu saya makin mengenal batik. Akhirnya mulai menyukai batik-batik yang usianya tua atau bisa dibilang kuno atau jadul. Awalnya beli satu atau dua potong. Nggak sadar sudah sebanyak ini. Mungkin ada kalau 200 potong kain,” ujar dia.

Salah satu koleksi yang paling dia suka adalah batik produksi keluarga Tjoa yang berasal dari Solo. Batik Tiga Negeri seri Tjoa ini diakui memiliki beragam keunikan yang membuat dia kepincut sejak pertama melihatnya. Yang pertama tentu karena nama besar keluarga Tjoa yang sudah lama eksis dan dikenal dalam industri batik di Indonesia.

Alasan yang lainnya tentu karena keindahan motif dan kerumitan polanya. Pada kesempatan itu, Ari memamerkan koleksi 70-80 picis batik Tiga Negeri miliknya dari keluarga Tjoa. Mulai dari Nj Tjoa Giok Tjiam, Nj Tjoa Siang Hing, dan Tjoa Siang Swie yang dianggap sebagai generasi terakhir dari batik Tiga Negeri.

Informasi yang dia dapat, batik Tiga Negeri produksi Tjoa ini berasal dari Solo, namun pangsa pasarnya memang ada di Jawa Barat. Tak heran bila kebanyakan koleksinya seri Tjoa ini didapat dari berbagai daerah seperti Garut, Tasikmalaya, Sukabumi, Ciamis, dan Kuningan. Ari memiliki kolega-kolega yang membantunya dalam menggumpulkan koleksi batik antik tersebut.

“Alasannya mengapa barang ini sampai ke Jawa Barat saya pikir karena pada masa-masa itu Solo lebih senang dengan batik klasik dengan warna-warna sogan. Sementara batik Tiga Negeri ini lebih beragam warnanya. Makanya lebih popular di daerah lain. Tapi ya memang tidak semua saya dapat dari Jawa Barat, ada juga dari pemilik di Solo dan Jogjakarta,” kata dia.

Soal biaya yang dia keluarkan untuk memburu batik-batik antic itu, Ari mengaku tidak bisa menghitung biaya yang dikeluarkan. Karena alasan utamanya hanya sekadar untuk dikoleksi dan tidak untuk dijadikan bisnis jual beli batik antik.

“Batik kuno itu tidak ada takaran harganya. Kalau yang punya patok harga tinggi katakanlah di atas harga pasaran juga bisa saja. Sebaliknya kalau dijual harga murah juga bisa. Contoh lainnya, sama-sama batik lawas, dijual di pasar loak (pasar barang bekas, Red) harganya tentu jauh lebih murah dibandingkan batik yang dijual di sebuah pameran batik antik. Kalau harga pameran mungkin untuk seri Tjoa ini di kisaran Rp 3,5 – 4 jutaan,” kata dia.

Soal urusan perawatan, Ari mengaku tidak melakukan hal-hal rumit. Dia hanya rutin mengangin-anginkan saja koleksinya pada waktu tertentu. Dia juga tidak pernah mencuci kain lawas itu atau langsung menjemur di bawah terik metahari. Ini untuk menjaga kondisi kain lawas agar tetap baik untuk durasi waktu yang lama.

Semua koleksi itu disimpan rapi dalam sebuah almari kayu di ruang tamunya yang siap kapan saja dia buka untuk mengedukasi tamu dan kolega yang mampir ke rumahnya. Seperti ketika Jawa Pos Radar Solo bertandang ke rumahnya akhir pekan lalu.

“Kita harus bangga dengan warisan nenek moyang. Salah satunya soal batik ini. Selain sarat makna dan filosofi, batik-batik ini masih relevan digunakan sampai saat ini. Bahkan masih digunakan dalam ritual-ritual adat untuk berbagai peruntukan yang berbeda. Ini yang harusnya jadi kebanggaan untuk generasi sekarang dan yang akan datang,” tutur Ari. (ves/bun)

Editor : Damianus Bram
#Kain Batik Lawas #berburu kain batik #Ari Nugroho #kolektor kain batik