Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Upaya Komunitas Yuk Belajar Seni Kenalkan Seni ke Anak-Anak: Blusukan ke Sekolah-Sekolah

Maulida Afifa Tri Fahyani • Jumat, 20 Oktober 2023 | 16:46 WIB
TERUS GAUNGKAN SENI: Anggota Komunitas Yuk Belajar Seni membimbing anak-anak SD belajar soal seni.
TERUS GAUNGKAN SENI: Anggota Komunitas Yuk Belajar Seni membimbing anak-anak SD belajar soal seni.

RADARSOLO.COM - Seni tak melulu soal pertunjukan. Tetapi juga bisa membawa kebahagiaan. Nah, komunitas seni satu ini membawa misi untuk mengembangkan potensi seni bagi anak-anak di daerah.

Berawal dari ide sang inisiator Ridya Nisa, Komunitas Yuk Belajar Seni (YBS) semakin bertumbuh membersamai anak-anak. YBS menunjukkan bahwa seni bisa ditekuni oleh semua orang. Lewat berbagai kegiatan pembelajaran, YBS menjadi ruang inklusif anak- anak dalam mengembangkan potensinya.

“Karena aku melihat kesenian itu penting terutama di dunia peniddikan. YBS ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa pendidikan tidak melulu soal formal atau akademik. Soft skill seperti seni juga penting dan bisa terus di asah. Inilah yang coba YBS masuk dengan membantu mengembangkan potensi dan kreativitas anak," kata Ridya kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (19/10).

Terbentuk sejak 2019, komunitas ini hadir melingkupi seluruh ranah seni dalam mengajar anak-anak. Mulai dari musik, tari, teater, karawitan, lukis, hingga kriya. YBS mencoba menebarkan kecintaan anak-anak terhadap seni dengan memberikan pengenalan dan perhatian melalui kelas-kelas seni. Seperti pada program unggulannya yakni Jejak Kawruh. Menyasar anak-anak sekolah dasar di eks Karesidenan Surakarta.

"Semua bidang seni. Jadi di awal kami akan mengajarkan seni secara keseluruhan kepada mereka. Kemudian kami membagi kelas sesuai bidangnya. Anak-anak bisa memilih mau masuk dan belajar seni apa, sesuai penanggung jawab dari relawan peduli seni YBS," ujar alumnus Institut Seni Indonesia Surakarta ini.

Setiap materi yang disampaikan disesuaikan dengan kelas anak-anak. Misalnya materi yang disampaikan untuk usia TK dan SD kelas I-III berbeda dengan kelas IV-VI dan SMP.

Ridya mengaku, mengajar seni kepada anak-anak bukan datang tanpa tantangan. Paling utama adalah membuat bahasa seni yang cukup rumit bisa mudah dimengerti oleh anak-anak. Sehingga mau tak mau mereka harus memutar otak untuk mengemas metode belajar yang aktif dan asyik.

"Biasanya kelas I-III SD kami ajarkan seni menyanyi, melukis, pokonta yang mudah mereka pahami. Kalau yang kelas empat sampai enam. Biasanya kami fokuskan pada pementasan. Nantinya output program kami adalah pementasan. Sehingga anak-anak bisa menjunjukkan potensinya kepada orang tua mereka," tukas Ridya.

Tak hanya menjunjung seni dalam bidang pendidikan. YBS rupanya juga menunjukkan bahwa seni bisa menjadi sumber trauma healing. Seperti pengalaman YBS dalam mengajar masyarakat di daerah bencana di Jawa Barat. Komunitas ini hadir menghibur para korban bencana.

"Inilah yang selalu kami usung bahwa seni tak melulu soal pertunjukan saja. Namun juga menjadi sumber kebahagiaan orang-orang lewat makna dan cerita dibaliknya," ujar Ridya. (ul/bun)

Editor : Damianus Bram
#Yuk Belajar Seni #pendidikan #belajar seni #kesenian