RADARSOLO.COM - Merespons kasus diskriminasi yang dialami para penyandang disabilitas, mahasiswa ini menciptakan alat khusus. Fungsinya untuk mempermudah para disabilitas tunarungu wicara dalam berkomunikasi dengan orang umum.
Penyandang bisu tuli di Indonesia masih sulit mendapat informasi. Sebab, jumlah juru bahasa isyarat masih sedikit, kurang dikembangkan dan tidak ada kelas atau fakultas juru bahasa isyarat.
Nah, memaksa orang bisu dan tuli agar bisa memahami apa yang dibicarakan orang normal merupakan tindakan yang diskriminasi. Masih adanya stigma negatif pada penyandang disabilitas ini menjadi inspirasi bagi Ananda Putra Kanieza dan beberapa rekannya menciptakan glova atau sarung tangan penerjemah SIBI.
“Tidak gampang memang hidup sebagai penyandang disabilitas. Banyak yang harus mereka hadapi selain kekurangan fisik, termasuk stigma negatif dan justru seringkali dikasihani,” ujar dia.
Tidak terkecuali bagi penyandang disabilitas tunarungu dan wicara. Para penyandang disabilitas ini akan menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan sesama maupun kepada masyarakat pada umumnya. Bahasa ini biasanya digunakan dengan mengkombinasikan gerak atau bentuk tangan, tubuh, lengan, serta ekspresi wajah untuk menyampaikan sebuah pesan.
Inovasi glova menjadi rangkaian kata bagi para disabilitas tunarungu dan wicara. Alat ini memanfaatkan sensor flex pada lima jari untuk menerjemahkan gestur gerakan tangan membentuk suatu kata dari rangkaian huruf yang diterjemahkan.
Alat ini lahir untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs) bagi disabilitas. Inovasi ini lahir dari tangan-tangan kreatif mahasiswa asal Solo. Selain Ananda, ada Gilang Fajar Ramadhan dari program studi teknik elektro, Dea Muthia Febry dan Velisa Nur Ainie dari program studi pendidikan fisika.
“Produk inovasi kami ini akan menggunakan output audio. Kami berharap para penyandang disabilitas tunarungu wicara dapat terbantu dalam berkomunikasi terutama kepada masyarakat normal yang cenderung tidak mengenal gesture bahasa isyarat,” tutur Ananda.
Diceritakan Ananda, ketika stigma terhadap penyandang disabilitas masih kuat, tentu sulit untuk menjadikan mereka bagian inklusif dari masyarakat. Sebab itu, perlu terus menerus diupayakan untuk menghapus stigma yang telah mengakar di masyarakat. Salah satunya memberikan bantuan agar lebih leluasa melakukan komunikasi kepada masyarakat umum.
“Alat ini ditujukan bagi para disabilitas tunarungu wicara untuk mewujudkan isu pembangunan berkelanjutan. Alat ini juga dapat digunakan sebagai batu loncatan peningkatan kualitas hidup bagi semua individu dan kesetaraan bagi disabilitas,” paparnya.
Selain itu, Ananda melihat bahwa teknologi yang telah ada saat ini masih memiliki kelemahan. Di mana tingkat akurasi sangat rendah dalam menerjemahkan Bahasa isyarat. Sebab, beberapa huruf memiliki gestur tangan yang sama. Alasan tersebut membuat Ananda dan teman-temannya mengkombinasikan dengan algoritma leveishtein distance sebagai algoritma autotext correction.
Banyak kata dalam bahasa Indonesia telah diinputkan ke dalam database sistem sehingga teknologi yang diberi nama Glova ini dapat menerjemahkan secara real time dan langsung mengoreksi kesalahan huruf yang disusun menjadi rangkaian kata.
“Keunggulan dari produk ini adalah kami menggunakan output audio dari kata yang telah disusun dapat muncul di layar LCD dan aplikasi Blynk pada baris pertama. Koreksinya dapat dilihat pada baris kedua apabila ada kesalahan,” jelas Ananda.
Menurut dia, memaksa penyandang disabilitas untuk berkomunikasi tanpa alat bantu tak ubahnya melanggar hak mereka dalam undang-undang. Ananda menegaskan sudah jelas keliru jika menganggap ketidakmampuan bicara seorang bisu dan tuli adalah karena kurang dilatih. Dengan logika yang sama, mengapa tidak masyrakat normal yang juga belajar tentang bahasa isyarat.
“Maka dikembangkan dengan tujuan mempermudah para disabilitas tunarungu wicara untuk berkomunikasi dengan manusia normal,” tegasnya. (ian/bun)
Editor : Damianus Bram