RADARSOLO.COM - Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pracimaloyo, Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo menyimpan banyak cerita menarik. Terutama cerita yang dianggap di luar logika akal sehat. Terutama di sekitar kompleks makam keramat yang bentuknya mirip bangunan candi.
Kompleks TPU Pracimaloyo luasnya sekitar 11.000 meter persegi. Tepat di tengah-tengah TPU, terdapat makam keramat yang pantang digunakan untuk berbuat bermaksiat. Jika nekat maka petaka yang didapat.
Menurut pengakuan warga sekitar, makam keramat tersebut dibangun pada 1960-an. Pagarnya terbuat dari batu bata yang terekspos, khas bangunan era Kerajaan Majapahit. Sayangnya bata merahnya sudah dicat warna putih yang mulai memudar. Kendati demikian ciri khas bangunan candi Hindu masih kental.
“Ini makam Ki Djayeng Kusumo dan istrinya. Ki Djayeng itu sentono dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di masa Paku Buwono (PB) VII,” kata Jayadi, 50, penggali kubur TPU Pracimaloyo, Jumat (27/10).
Jayadi menambahkan, makam keramat ini memiliki dua trap alias tingkat. Trap pertama merupakan makam kerabat Ki Djayeng Kusumo. Mengelilingi makam Ki Djayeng Kusumo dan istrinya di trap kedua yang tepat di bagian tengah.
“Di sini memang angker. Banyak kejadian mistis yang di luar nalar,” bebernya.
Menurut Jayadi, sekira 80-an pernah ada sepasang anak usia SMA nekat berbuat mesum di dekat pagar makam tersebut. “Setelah itu gancet (tidak bisa lepas). Kemudian saat makam direhab, dua pekerjanya meninggal,” ujarnya.
Cerita lainnya, yakni meninggalnya pasangan suami istri (pasutri), saat melakukan ritual di dalam komplek makam keramat. Saat ditemukan, jasad keduanya sudah membusuk.
“Ya benar, dulu ada suami-istri yang meninggal di dalam komplek makam keramat. Jenazahnya baru ditemukan 40 hari setelah meninggal,” beber Jayadi.
Masih belum cukup, ada kejadian mistis lain yang dialami seorang pencuri saat hendak menggasak sebuah arca di sana. Bukannya kabur dengan hasil curian, pencuri itu hanya mondar-mandir sehari semalam di dalam kompleks makam.
“Pencurinya tidak bisa keluar kompleks makam. Padahal sudah siang. Hanya jalan bolak-balik di di dalam komplek makam. Seperti orang kebingungan,” papar Jayadi.
Baca Juga: Kompleks Makam Kuno di Kecamatan Tasikmadu, Tempat Peristirahatan Terakhir para Tokoh Besar
Masyarakat meyakini, kompleks makam Ki Djayeng Kusumo tidak boleh digunakan untuk hal-hal negatif. Juga tidak sembarang orang bisa memasukinya.
“Sudah banyak kejadiannya. Masyarakat di sini sudah tahu semua. Jadi memang tidak ada yang berani macam-macam di makam keramat,” tandas Jayadi. (kwl/fer)
Editor : Damianus Bram