RADARSOLO.COM - Pada 2006 silam Rus Hardjanto memutuskan pensiun menjadi guru lepas agar dapat fokus menekuni passion-nya dalam merawat lingkungan hidup sekaligus berkarya melalui tata artistik khas seni pemanggungan.
Bermodal koran, dia mengolahnya menjadi bahan baku pembuatan topeng dan wayang kreasinya.
Ditemui di kediamannya di Jalan Sibela Raya No. 32, Mojosongo, Jebres, pria yang akrab disapa Mbah Jantit ini tengah sibuk mengupas sejumlah bilah bambu untuk dijadikan rangka wayang kertas kreasinya.
Di waktu bersamaan, dia mengeluarkan sejumlah topeng kertas yang setengah jadi yang selalu dia bawa untuk memberikan pelatihan-pelatihan kesenian dalam sebulan terkahir ini.
”Kebetulan kemarin dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 10 menunjuk saya sebagai salah satu pegiat seni yang diminta menggelar pelatihan. Jadi kebutuhannya didanai pemerintah, tinggal berikan pelatihan saja ke anak-anak dan warga yang ada di lima kecamatan di Solo,” kata dia, Selasa (31/10).
Pelatihan yang dipelopori oleh Balai Pelestarian Kebudayaan tersebut merupakan salah satu pencapaian tertinggi yang akhirnya bisa membuatnya lega.
Bukan karena bisa mendapatkan pundi-pundi keuntungan dari pemerintah, namun juga kepuasan karena karya-karyanya dan buah eksistensi selama 17 tahun itu kini dihargai tinggi.
Pria kelahiran Kelurahan Jagalan itu pun kini semakin bangga dengan keputusannya melepas statusnya sebagai tenaga pendidik untuk siswa TK hingga SMP kala itu.
”Dulu itu saya guru tidak tetap, sudah lama saya mengajar. Sampai akhirnya 2006 saya putuskan untuk pensiun. Saya putuskan untuk fokus mengelola sampah agar bisa dijadikan berbagai benda yang memiliki nilai seni. Ilmu berkesenian ini sebetunya saya dapat saat saya muda, waktu saya masih aktif bermain teater,” jelas dia.
Kegundahan akan masalah sampah dan lingkungan itu bukan tanpa alasan. Rumahnya yang berada di tepi jalan menuju TPA Putri Cempo, kerap dihadapkan pada tontonan yang tidak sedap.
Banyaknya truk sampah yang lalu lalang itu tidak jarang membuat sampah kertas berterbaran di jalan lingkungannya. Satu per satu sampah kertas itu dia kumpulkan dan kemudian dia bersihkan.
Setelah bersih, barulah dia mencari ide yang pas agar sampah-sampah kertas itu menjadi hal-hal baru yang memiliki nilai seni.
”Jangan ada sampah di antara kita, itu visi saya. Makanya kalau ada sampah saya bersihkan, saya manfaatkan untuk berbagai hal. Akhirnya tercetuslah ide untuk membuat topeng dan wayang dari bubur kertas seperti ini. Akhirnya kegiatan itu membuat saya sering melakukan pelatihan-pelatihan ke sekolah-sekolah, ke kampung-kampung warga, dan sebagainya. Jadi sebelum dengan Balai Pelestarian Kebudayaan ini, saya sudah mulai sejak 17 tahun lalu. Akhirnya dapat pengakuan dari pemerintah, saya bisa berbangga diri,” terang Mbah Jantit.
Pria kelahiran Surakarta, 29 September 1962 ini menduga Balai Pelestarian Kebudayaan itu mengetahui aktivitasnya dari pemberitaan di media elektronik.
Dari sana dia mendapat informasi untuk ikut mendaftarkan program yang dibiayai oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 10 kala itu.
”Saya menganggap ini hanya menghibur diri saja dari apa yang saya kerjakan selama ini. Sama sekali tidak mencari peluang ekonomi. Kalau motifnya hanya ekonomi, tentu akan jadi sebuah kerajinan yang saya jual. Tapi yang saya pilih ini jalur seninya agar marwah pengelolaan sampahnya tidak hilang,” jelas dia.
Di usia yang sudah tidak lagi muda ini, dia berharap apa yang diperjuangkan ini suatu saat bisa jadi kurikulum untuk pendidikan formal yang bisa menjembatani semagat bersih lingkungan melalui cara mengolah sampah menjadi karya seni.
Lulusan Filsafat Universitas Gajah Mada pada 1989 itu berharap generasi muda bisa mengikuti semangat para pegiat lingkungan untuk terus berkarya melalui jalur yang diambil masing-masing.
”Projek yang akan saya kerjakan ke depan Sastra Rupang, karya sastra yang ditempelkan pada seni fisik (seperti prasasti, Red). Nanti saya coba ke dinas kebudayaan biar kegiatan mengolah sampah ini bisa jadi kurikulum, nanti bisa kita diskusikan,” beber Mbah Jantit. (ves/adi)
Editor : Damianus Bram