RADARSOLO.COM - Eceng gondok menjadi momok bagi para pelaku usaha di tambak ikan Waduk Cengklik. Namun ternyata tanaman air ini mampu diubah menjadi pupuk hingga biogas yang bisa dimanfaatkan masyarakat
Sudah sejak setahun terakhir Kelompok Masyarakat (Pokmas) Ngudi Tirto Lestari Desa Sobokerto, Kecamatan Ngemplak memanfaatkan eceng gondok yang tumbuh liar di kawasan Waduk Cengklik.
Salah seorang anggota Pokmas Ngudi Tirto Lestari, Dalmanto mengatakan, eceng gondok ini memang menjadi masalah di Waduk Cengklik. Tidak hanya mengurangi kualitas air pada tambak, namun juga merusak peralatan para nelayan.
Bila musim penghujan tiba, kondisi ini makin parah karena tanaman ini bisa tumbuh dengan cepat. Bahkan bila tak ditanggulangi seluruh waduk bisa dipenuhi tanaman ini.
"Warga sebenarnya sudah sering membersihkan. Terutama saat musim hujan. Dibantu juga sama BBWSBS (Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo). Tapi tumbuhnya cepat banget. Sehari dibersihkan, selang beberapa hari tumbuh lagi. Ya seperti rumput liar itu kalau di daratan," jelas Dalmanto.
Lalu dikemanakan eceng gondok itu? Dalmanto mengatakan, awalnya hanya dibuang atau menjadi menjadi pakan ternak. Hingga pada 2022, pemerintah desa setempat mendapat pelatihan untuk mengubah enceng gondok ini menjadi pupuk dan biogas.
"Latihannya di Musuk (Kecamatan Musuk). Tapi kalau di sana bahannya sayuran. Akhirnya kami coba pakai eceng gondok. Karena tujuan kami ikut pelatihan ini agar masalah eceng gondok ini bisa kami manfaatkan," ujar Dalmanto.
Setelah mendapat ilmu tersebut, barulah mereka membentuk pokmas ini. Di mana ada 24 anggota yang merupakan warga Desa Sobokerto. Untuk peralatan, mereka mendapat bantuan dari corporate social responsibility (CSR).
"Setelah itu, baru kami mengaplikasikan ilmu yang telah kami dapat. Awalnya tidak langsung biogas, tapi kami coba membuat pupuk dulu. Jadi eceng gondok yang diambil kami cacah. Terus dicampur dengan kotoran sapi. Perbandingannya 70 persen eceng gondok, 30 persen kotoran sapi. Terus diberi cairan fermentasi untuk mempercepat proses," jelas Dalmanto.
Dalmanto mengurai proses pembuatan pupuk ini. Di mana cairan fermentasi dicampur menggunakan air. Kemudian disemprotkan pada eceng gondok yang telah dicacah. Setelah itu dibungkus menggunakan terpal. Proses pembusukan sendiri berlangsung selama tiga pekan. Setiap pekan diaduk.
"Dari proses tersebut, 1 kuintal enceng gondok bisa menghasilkan 70 kilogram pupuk padat dan 40 liter pupuk cair. Sudah diuji coba di perkebunan warga dan hasilnya bagus," imbuh Dalmanto.
Setelah bisa membuat pupuk padat dan cair dari eceng gondok, Pokmas Ngudi Tirto Lestari juga mencoba untuk pembuatan biogas. Di mana prosesnya proses pupuk ini dimasukkan dalam tong digester.
Ketika proses fermentasi di tong digester, juga menghasilkan gas yang disalurkan melalui ban bekas hingga penuh. Hanya saja tidak bisa langsung dipakai sebagai biogas.
“Gas yang masuk ke ban hingga penuh, perlu dikeluarkan sebanyak tiga kali dan baru bisa dipakai untuk memasak. Gas di dalam ban disalurkan melalui selang ke kompor. Biogas yang dihasilkan sejauh ini baru bisa dipakai memasak selama 1 minggu. Namun demikian, keberadaannya tetap membantu karena pemakaian gas elpiji menjadi lebih irit," ujarnya.
Dijelaskan Dalmanto, saat ini hampir seluruh warga telah memanfaatkan metode ini. Di mana mereka memasak menggunakan biogas. Jadi selain memproduksi pupuk, bisa juga untuk menghemat pengeluaran rumah tangga.
"Bahkan kami saat ini sedang proses pembuatan tong untuk dikirim ke daerah Jawa Timur. Alhamdulillah, ternyata dari sebelumnya tak berguna bisa jadi ladang rezeki untuk masyarakat," ujar dia. (atn/bun)
Editor : Damianus Bram