RADARBOYOLALI.COM - Misteri di Candi Watugenuk, Desa Kragilan, Kecamatan Mojosongo memang tak ada habisnya.
Lokasi candi yang berada di sana memang dikenal wingit oleh warga sekitar.
Termasuk saat ekskavasi akhir tahun ini, ada kejadian tak masuk akal.
Pekerja menemukan buntalan pocong mini dan dongkel akar jati. Anehnya, ekskavator untuk menggali tanah ikut mati.
Tak dipungkiri, menapaki Candi Watu Genuk di bukit kecil daerah Kragilan memang menenangkan.
Kawasan candi seluas 1.200 meter persegi itu menyisakan satu pohon beringin besar di pojokan.
Di sekelilingnya, di batas kawasan, masih ada beberapa pohon. Ekskavasi akhir tahun ini melanjutkan pengupasan tanah.
"Selamatan (doa bersama memulai ekskavasi, Red) itu dipasrahkan warga. Waktu mau mulai gali, pembukaan tanah pertama itu sudah selamatan,” tutur Ketua Boyolali Heritage Society (BHS) Kusworo Rahadyan.
“Pakai pisang dua tangkep, kelapa gading, ya seperti selamatan Jawa ditaruh di tampah anyaman bambu,” imbuhnya.
Ada sekitar empat pekerja pengupasan tanah. Tiga mengupas secara manual, satu pekerja menggunakan ekskavasi.
Mereka didampingi petugas Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X dan penggiat budaya BHS.
Saat pengupasan tanah di area candi utama, terdapat akar pohon jati yang harus didongkel.
Pekerja ekskavasi lantas mendongkelnya secara manual. Tak di sangka, di bawahnya terdapat bungkusan kain putih lusuh berbentuk pocong.
Ini kali kedua, ditemukan pocong mini selama proses ekskavasi Candi Watu Genuk.
Anehnya, ekskavator langsung mogok. Pengupasan tanah di sisi selatan pun berhenti.
"Ketika pekerja menaikkan tunggak (pohon) yang ada pocong mini itu langsung mogok (ekskavator, Red). Itu minggu awal (ekskavasi) akhir Oktober," ungkapnya.
Temuan pocong mini itu lantas disingkirkan di sisi selatan area candi. Operasional ekskavator bergegas memperbaiki mesinnya yang mati.
Alat berat itu kembali bisa berfungsi dengan normal.
Lalu, pekerja melanjutkan mendongkel akar jati itu untuk memudahkan pengupasan tanah. Tapi lagi-lagi, mesin ekskavator langsung mati.
"Giliran dinamo starternya mati. Selain itu, pas kami menemukan kala pipi tangga, berbentuk buto, langsung hujan angin deras sekali. Ya, menggali di tempat seperti ini, percaya tidak percaya, ya ada," terangnya. (rgl/bun)
Editor : Tri Wahyu Cahyono