RADARSOLO.COM - Bermodal sisa uang kas kelas di akhir semester, Malik Maliki dan rekan-rekannya tergabung dalam komunitas sosial turun membantu masyarakat yang membutuhkan.
Ke depan dia memiliki cita-cita mendirikan yayasan sosial kemanusiaan berintegritas se-Solo Raya.
Ketika melihat saldo kas kelas ada Rp 700 ribu rupiah, Malik Maliki bersama rekan-rekannya mulai berpikir memanfatkan uang itu.
Awalnya, mereka memiliki tiga opsi. Pertama untuk piknik, kedua untuk membuat kaos angkatan, dan ketiga untuk bakti sosial (baksos).
“Awalnya memang bingung juga mau diapakan uang ini. Akhirnya kami pilih untuk digunakan baksos. Tetapi ada dilema lagi, karena kami di kelas ada dua agama yakni nasrani dan Islam. Kami bingung lagi mau di baksoskan untuk yang mana,” kata Malik.
Hingga akhirnya dia berupaya untuk membuka open donasi selama beberapa hari. Dari donasi tersebut terkumpul Rp 1 juta lebih.
Maka jika digabungkan dengan sisa uang kas kelasnya, uang yang saat itu dipegang Malik dan kawan-kawannya sebanyak Rp 1,7 juta.
“Akhirnya uang Rp 1,7 juta itu kami bagi dua untuk baksos bagi masyarakat Islam di Sumber dan masyarakat nasrani di Cemani,” ujar mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Solo ini.
Dari sana Malik dan kawan-kawannya mengaku ketagihan untuk melakukan kegiatan baksos.
Berawal dari tiga orang, beberapa teman lainnya juga mulai tertarik untuk ikut bergabung. Hingga akhirnya Malik membuka open volunteer lewat sosial media.
“Kami kumpul itu di sebuah kafe, karena basecamp kami itu di sana. Dari situ kami mulai membentuk Social Charity Solo (SCS),” ujar salah satu pendiri SCS ini.
Dikatakan Malik, latar belakang terbentuknya komunitas SCS lantaran karena banyak mahasiswa yang merasa overthinking dengan permasalah kampusnya.
Mulai dari tugas dan skripsi. Maka dibentuknya komunitas ini sebagai wadah untuk memberikan refreshing bagi mahasiwa yang sudah penat dengan segala urusan di kampusnya.
“Banyak yang overthinking dan kufur nikmat, maka dengan kegiatan baksos ini aku secara pribadi dan kawan lainnya agar bisa lebih bersyukur,” paparnya.
Komunitas SCS ini berdiri sejak 9 Agustus 2019. Anggotanya terbuka untuk semua kalangan yang ingin aktif di bidang sosial.
SCS mengajak masyarakat lebih peka dan peduli terhadap keadaan sekitar. Kepedulian ini menjadi langkah awal untuk mencegah terjadinya sikap apatis pada masyarakat.
“Kami ada beberapa proyek kegiatan. Misalnya social on the road. Jadi setiap tanggal 7 kami adakan pembagian makanan gratis. Kedua ada baksos yang kami lakukan empat bulan sekali. Ketiga Konsep’s (Koin share happiness SCS) dan terakhir adalah branding produk,” paparnya.
Hingga saat ini, Malik mengatakan, terdapat 92 volunteer yang bergabung dalam komunitas ini. Diakuinya banyak suka duka yang dilami selama merintis komunitas sosial tersebut.
Namun, dia mengatakan lebih banyak mendapatkan kebahagian karena bisa berbagi dengan sesamanya.
“Kami sering melakukan kegiatan baksos itu dalam berbagai bentuk. Misalnya kami berkunjung ke panti asuhan untuk bagi-bagi alat kebersihan. Saat di sana kami juga sering memberikan pelayanan cukur rambut gratis,” bebernya.
Dengan berdirinya komunitas SCS ini, Maliki berharap bisa menumbuhkan jiwa sosial, serta berkontribusi secara nyata dalam kegiatan sosial.
Banyaknya anak muda yang tertarik dalam kegiatan sosial juga diharapkan bisa menjalankan proyek-proyek sosial yang sudah digagas SCS dari dulu.
“Ke depan harapan saya, kami bisa mendirikan yayasan sosial kemanusiaan yang berintegrasi se-Solo Raya,” harapnya. (ian/bun)
Editor : Damianus Bram