RADARSOLO.COM-Ruang eksperimen bagi koreografer tari kembali tersaji di Pendhapa Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Selasa malam (5/12).
Berupa sajian Tidak Sedekar Tari #83. Menampilkan empat karya menarik, salah satunya Side oleh Puspita Putri.
Gelap. Segala penerangan meredup. Dibalik panggung berdiri sosok Puspita Putri. Menggenakan setelan baju dan celana kulot berwarna abu-abu.
Saat cahaya menyorot, tubuhnya mulai bergerak. Tak lama kemudian seorang pria muncul. Sorot matanya tak terlepas dari Puspita.
Pria itu mulai mempercepat tempo kakinya. Berlari-lari mendekati Puspita. Setelah jarak kian dekat, mata keduanya bertemu.
Setelah itu gerakan yang nyaris serupa ditampilkan Puspita dan penari pria tersebut. Gerakan-gerakan itu terkadang dilakukan bersamaan. Kadang juga bergantian.
Inilah babak pertama dari karya Side yang ditampilkan Puspita. Menggambarkan tentang konflik batin dan pikiran Puspita terhadap kepribadiannya sendiri.
“Di babak pertama saya tidak bisa menghubungkan alter ego di dalam diri sendiri,” ucap koreografer asal Kota Solo tersebut usai pentas.
Selang beberapa menit, kedua penari berhenti menggerakkan tubuhnya. Penari pria mengganti pakaian yang dikenakan Puspita. Dari abu-abu menjadi warna krem dan maroon.
Di waktu bersamaan, pria itu memakaikan heels ke kaki Puspita yang awalnya tanpa alas. Lalu menggoreskan lipstick ke bibir Puspita. Sembari tersenyum Puspita menerima dan langsung meratakannya ke bibirnya.
Tiba-tiba, ekspresi Puspita berubah. Begitu pula musik yang mengiringi pertunjukan itu. Inilah gambaran babak kedua. Di mana Puspita berganti kostum dan memakai heels.
“Ini gambaran alter ego saya. Kepribadian kedua saya. Secara sadar ini saya bentuk. Memakai lipstik dengan menghadirkan nuansa musik dan kostum berbeda. Sangat men-trigger sekali kemunculan kepribadian kedua ini. Tentunya dengan genre tari berbeda, yaitu waacking dance,” imbuhnya.
Dalam karya Side, Puspita ingin menyampaikan tentang diri sendiri maupun fenomena di lingkungannya. Sebelum perform, dia juga sempat mendiskusikan karya ini ke teman-teman sesama kereografer.
“Ini mengangkat soal alter ego. Di mana alter ego adalah kepribadian kedua seseorang yang dibentuk secara sadar,” beber mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Solo tersebut.
Karya Side digarap Puspita sejak dua bulan lalu. Memulainya dengan membangun narasi karya. “Kemudian proses latihannya sekira 10 hari,” sambungnya.
Selama latihan, banyak tantangan dihadapi Puspita. Terutama dalam hal penyusunan koreografi. Kemudian olah tubuh dari penari pria. Maklum, pria bernama Jagad ini tidak memiliki basic menarik.
“Dia mahasiswa jurusan desain mode batik. Jadi itu tantangan terbesar buat saya. Ke depan, saya ingin lanjut dengan karya ini. Mungkin akan tampil di platform berbeda,” ujar Puspita. (nis/fer)
Editor : Tri Wahyu Cahyono