Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Gebrakan Kelompok Tani Sumber Berkah, Ubah Lahan Kumuh Menjadi Produktif

Antonius Christian • Senin, 11 Desember 2023 | 16:44 WIB
RAMBAH SEGMEN LUAS: Salah satu produk pengembangan warga berupa kerupuk lele.
RAMBAH SEGMEN LUAS: Salah satu produk pengembangan warga berupa kerupuk lele.

RADARSOLO.COM - Membenahi lingkungan kumuh menjadi lahan produktif butuh kesadaran bersama. Nah, ini yang dilakukan Kelompok Tani Sumber Berkah.

Di mana, kelompok tani ini mengubah lahan kosong bekas tempat pembuangan sampah (TPS) menjadi kebun sayur di tengah kampung.

Tak hanya mengubah lahan kosong menjadi kebun tanaman. Namun hasil dari kebun itu juga diolah menjadi beragam produk olahan makanan.

Uang hasil penjualan produk olahan makanan tersebut bisa untuk mensejahterakan masyarakat di RW 05 Kelurahan Joglo, Banjarsari.

Pegiat sekaligus perintis Kelompok Tani Sumber Berkah Ahmad Yani Tanjung menjelaskan, lahan seluas 770 meter persegi ini awalnya merupakan lahan milik seorang warga yang tak terurus.

Akibatnya banyak warga yang membuang sampah di lokasi tersebut. Mulai dari sampah rumah tangga hingga puing-puing sisa bangunan. Bahkan bangkai binatang.

Hingga kemudian, pada 2019 di samping lahan terbengkalai tersebut dibangun kantor Kelurahan Joglo.

"Terus kami berpikir. Masak samping kelurahan ada tempat kumuh. Kesannya negatif kan. Akhirnya saya bersama warga dan PKK berniat membersihkan lahan ini," jelas pria yang akrab dipanggil Yani ini.

Niatan tersebut lantas disampaikan kepada pihak Kecamatan Banjarsari. Gayung bersambut kecamatan mendukung penuh.

Bahkan dari pihak kelurahan membantu dengan menyewakan alat berat untuk mempercepat proses permbersihan lahan tersebut. 

Setelah lahan tersebut bersih, barulah mereka merencanakan langkah selanjutnya guna pemanfaatan lahan tersebut.

Akhirnya tercetuslah ide untuk membuat area perkebunan. Hal ini disebabkan sudah sangat jarang sekali ruang terbuka hijau di Kota Bengawan, apalagi perkebunan.

Ide ini lantas diungkapkan pemilik lahan yang juga merupakan warga setempat. Pemilik lahan juga memperbolehkan lahan tersebut dikelola tanpa harus menyewa atau secara cuma-cuma. 

"Mulailah kami kecil-kecilan untuk menanam sayur, kemudian buah dan bunga lain sebagainya. Hingga akhirnya mendapat bantuan lagi dari dinas pertanian berupa rumah pembibitan tanaman. Terbaru kami mendapat bantuan kolam indukan lele," ujarnya.

Dengan adanya bantuan tersebut, pria yang menjabat sebagai ketua RW setempat ini menuturkan, semangat warga untuk berkegiatan di lokasi tersebut semakin tinggi.

Tak hanya berkebun, lokasi tersebut juga dimanfaatkan sebagai tempat Posyandu maupun pengecekan kesehatan lansia, rapat hingga kegiatan warga lainnya.

"Untuk kenyamanan, kami buatkan gazebo juga di tengah kebun. Jadi di sini ini hampir setiap hari, terutama pagi dan sore pasti ada kegiatan. Minimal anggota kelompok tani ini datang merawat tanaman. Kalau malam juga untuk tempat nongkrong warga. Waktu panen, yang datang makin banyak lagi. Sudah seperti pasar," urainya.

Ya, hasil sayuran dari kebun tersebut memang dijual kembali ke masyarakat sekitar. Di mana sayur tersebut dijual dengan harga murah di bawah harga sayuran di pasar.

Yani mencontohkan sayur terong. Bila di pasar saat ini dijual dengan harga Rp 9000 per kilogram (kg), maka di kebun dijual dengan harga Rp 6000 per kg.

Uang hasil pejualan ini digunakan untuk membeli bibit baru yang nantinya dijual kembali pada saat musim panen.

"Seperti itu terus. Jadi kegiatan kami ini terus berputar. Tidak sekadar kegiatan sesaat. Jadi warga juga tidak bosan. Yang tidak bisa ke kebun sayur bisa kami antar sampai rumah mereka masing-masing," kata Yani. 

Ditambahkan pria asli Tasikmalaya ini, kelompoknya juga terus berinovasi, agar produk yang dihasilkan tidak monoton.

Hingga akhirnya berhasil membuat produk berupa sirup wedang jahe telang. Terbaru, mereka juga sudah memproduksi kerupuk rambak lele.

Dijelaskan Yani, kelompok tani mereka juga banyak menerima tamu dari masyarakat yang mau belajar memanfaatkan lahan mereka dengan konsep berkebun perkotaan.

"Tidak hanya dari Solo dan sekitarnya saja. Namun juga yang datang dari Bandung, Jakarta, Malang, Surabaya, Jogja, dan kota-kota lainnya," ujarnya. (atn/bun)

Editor : Damianus Bram
#Berkebun di Perkotaan #Ruang Terbuka Hijau #kelompok tani #perkebunan