RADARSOLO.COM - Unik, kata inilah yang paling cocok menggambarkan usaha yang dirintis oleh Yayung, 47.
Pemilik usaha kopi keliling yang dikenal dengan nama Vesko (Vespa Kopi) ini mampu mengawinkan aura klasik vespa tua dengan indahnya suasana malam di sudut Kota Bengawan melalui secangkir kopi.
Suara knalpot kering yang terdengar meletup-letup jadi penanda ketika Yayung tiba di spot jualannya di tepi Jalan Slamet Riyadi, timur SMP Bintang Laut Solo.
Waktu sudah lebih dari pukul 20.00 ketika Yayung memarkirkan Vespa tua warna biru malam keluaran 1965 ini.
Malam itu Yayung sedikit terlambat karena cuaca tampak lebih mendung dari biasanya.
”Cuaca agak mendung malam ini, agak ragu hujan nggak ya. Akhirnya saya putuskan berangkat dulu saja,” katanya pada Jawa Pos Radar Solo, Senin (11/12) malam.
Tak berselang lama, peracik kopi keliling itu langsung membongkar sejumlah perkakas yang dia bawa. Bak kayu yang ada di bagian belakang pun mulai dibongkar dan dipasang sedemikian rupa. Hingga berbentuk seperti dapur mini yang siap digunakan untuk meracik kopi.
”Yang spesial di sini kopi tubruk mas. Tapi beberapa bulan ini saya mulai melengkapi berbagai variannya. Jadi pilihan untuk pelanggan bisa lebih banyak,” terang dia.
Salah seorang pelanggan memesan secangkir kopi hitam. Yayung kemudian menuang kopi Temanggung ke dalam alat seduh yang dikenal dengan istilah V60.
Kopi yang sudah ada di dalam alat seduh itu kemudian dituangi air panas dan ditunggu beberapa saat sebelum disajikan dalam kondisi panas.
”Kebetulan menu-menu yang banyak saat ini itu masukan dari pembeli mas. Waktu itu ada dua orang berhenti di sekitar sini, mereka tertarik dengan Vespa yang saya pakai. Setelah ditengok oh ternyata jual kopi, lalu mereka pesan dan memberi masukan supaya ditambah variannya. Ternyata pembelinya itu barista di salah satu kedai kopi di Jogjakarta,” kata Yayung.
Dari sana pria yang gemar memakai Pet Cap itu mulai belajar tentang seluk beluk perkopian. Dia mulai bertanya pada sejumlah koleganya apa saja kopi yang enak. Bagaimana cara membuatnya dan sebagainya.
Tak jarang penikmat kopi yang satu ini juga sering mampir ke penjaja kopi di berbagai tempat. Mulai dari kafe sampai tepi jalan untuk menajamkan indra pengecapnya agar bisa semakin jeli menilai kopi buatannya.
Setelah semua siap, Vespa Kopi di tepi Jalan Slamet Riyadi itu makin banyak dikunjungi masyarakat.
”Awal-awal yang beli itu hanya kalangan sendiri. Kebetulan kan tempat saya jualan ini di samping tongkrongannya anak-anak ISSO (Ikatan Skuter Solo, Red) jadi di awal yang datang itu memang kenalan sendiri. Tapi makin lama banyak pelanggan baru yang mulai datang. Puji Tuhan cukup untuk hanya sekadar makan,” imbuhnya.
Ide jualan seperti itu terinspirasi dari banyak hal. Selain karena dirinya penikmat kopi, juga karena ingin memberikan kesan unik pada pada pelanggannya.
”Di Solo penjual kopi yang pakai motor vespa seperti saya ini ada empat. Satu orang sudah berhenti dagang, lalu dua lainnya jenis dagangannya beda karena menjualnya kopi sasetan. Jadi yang benar-benar pakai vespa dan jualan kopi yang benar-benar diolah dari biji kopi ini ya tinggal saya ini,” jelas dia.
Dengan konsep seperti itu, dia akhirnya bisa mengawinkan aura klasik vespa jadul dengan seduhan kopi.
Cocok diseruput saat malam hari serta suasana urban di Kota Benagwan yang indah dengan berbagai sudut kotanya.
Tak heran kopi yang hanya dijual hingga belasan ribu ini sering membuat pelanggannya kembali.
”Pernah sekali waktu jualan dari pukul 20.00 sampai 02.00 hanya laku tiga gelas. Puji Tuhan sekarang bisa sampai 30 an gelas pas lagi ramai. Saya pikir pelanggan itu ada yang datang karena tertarik sama vespanya jadi bisa tukar pikiran soal barang yang sudah langka ini, tapi ada juga yang datang karena memang pingin ngopi saja. Ya semoga bisa tetap ramai kedepannya asal tidak hujan saja,” harap dia. (ves/adi)
Editor : Damianus Bram