RADARSOLO.COM – Peran perempuan dan pariwisata tidak bisa dinafikan. Pariwisata tanpa sentuhan tangan dingin dan kreativitas perempuan rasanya kurang lengkap. Ada hal-hal naluriah perempuan yang bisa dioptimalkan dalam pengembangan pariwisata.
Nah, salah satu sosok yang tak lepas dalam pengembangan dunia pariwisata di Kota Solo adalah Retno Wulandari. Kiprah perempuan yang kini menjabat sebagai general manager The Sunan Hotel ini di dunia perhotelan maupun pariwisata di Kota Bengawan sudah tidak diragukan lagi.
Berkat tangan dingin nya, dia mampu membawa hotel yang dia pimpin bisa melewati pandemi dengan baik. Bahkan kini terus berkembang dan menjadi salah satu hotel bintang berpengaruh di Kota Solo.
Tak hanya itu, peran dia sebagai ketua Badan Promosi Pariwsata Daerah (BPBD) Solo ini juga memiliki andil besar dalam membangkitkan industri pariwisata di Kota Bengawan. Terutama setelah dihantam pandemi. Kini industri pariwisata di kota ini semakin bergeliat dan menjadi magnet wisata dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satu kuncinya tak lepas dari sentuhan perempuan.
"Perempuan dan pariwisata meru pakan satu hal yang tidak bisa dipi sahkan. Ada unsur yang penting dalam pengembangan pariwisata di tangan perempuan. Keramahan, ketulusan," kata srikandi pariwisata Kota Solo ini saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Solo belum lama ini.
Penggalian potensi dan peluang local tourism masih terbuka lebar. Puluhan tahun, Icon Inspiratif Jawa Tengah 2017 ini merasakan asam dan garam dunia hospitality industry. Tak heran, sejumlah gagasan kreatif muncul dari pemikirannya.
Retno memiliki optimisme bahwa wisata Kota Bengawan akan semakin moncer di masa depan. Terlebih, adanya pembangunan 17 proyek prioritas di kota ini. Ini tentu semakin menjadi daya tarik bagi wisatawan dari berbagai kota untuk datang dan berwisata ke Solo.
"Momen ini menjadi perubahan positif untuk pariwisata meski situasinya baru usai dihantam pandemi. Kita mengalami pertumbuhan dan recovery cukup cepat. Harapannya pondasi ini bisa terus digerakkan dan dijaga, agar ke depan sektor wisata lebih atraktif," ungkap nominee of Asia’s Top Outstanding Women Marketer of The Year ini.
Menurut dia, berkembangnya potensi lokal itu tak lepas dari peran penting perempuan. Di mana sekitar 50 persen pekerja sektor pariwisata dan ekonomi kreatif adalah kaum hawa. Kontribusi perempuan memperkuat pilar kesejahteraan masyarakat sekaligus penjaga tradisi dan budaya.
"Perempuan punya potensi yang besar untuk mendorong kebangkitan ekonomi dan membuka lapangan kerja," imbuh srikandi pariwisata Kota Bengawan ini.
Pernyataan itu pun selaras dengan posisinya sebagai pemimpin perempuan di sektor perhotelan. Baginya, ketangguhan perempuan diuji saat menduduki jabatan strategis. Sebab, di situlah dia harus bijak dalam mengambil setiap keputusan. Dengan mengedepankan empati, ketelitian, serta rasa mengayomi.
Meski tak mudah memang. Retno mengungkapkan, sejumlah tantangan muncul seperti kesenjangan gender yang masih terasa. Akhirnya memengaruhi pengembangan karir dan kurangnya mentor atau role model perempuan di posisi senior.
"Selain itu, juga tantangan terkait keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sebagai ibu rumah tangga, yang memiliki tanggung jawab pada keluarga," ungkapnya.
Sebab itu, perempuan harus saling men dukung dan memiliki modal kuat. Seperti capability, good mindset, hingga nyali atau keberanian.
Prinsip "Hidup yang tidak diperjuangkan, tidak akan dimenangkan" sangat melekat pada diri Retno. Membangun keseimbangan dengan percaya diri dan tahu potensi diri. Serta mengupayakan yang terbaik pada setiap proses hidup. Agar menuai hasil di kemudian hari.
Di samping itu, dalam menjalani perannya sebagai general manager, Retno juga memiliki prinsip harus memiliki impact sosial. Baginya, memberi manfaat kepada orang lain akan membawa nilai tambah pada diri sendiri. Hal ini dia wujudkan dengan menyusun berbagai program. Baik itu Sunan Mengajar, Sunan Peduli, Sunan Berkebaya, dan lainnya.
"Sepanjang kita yakin bahwa di setiap perjalanan sudah melakukan terbaik yang kita bisa, selanjutnya kita pasrahkan pada Yang Maha Kuasa," kata Retno.
"Karena menurut saya hal paling berharga adalah waktu. Maka saya pribadi itu juga selalu menggunakan waktu sebaik mungkin, untuk belajar mendapatkan ilmu baru. Entah berguna untuk karir saya atau tidak, namun mempelajari hal yang baru adalah cara saya mempergunakan waktu terbaik saya bisa,” ujar dia. (ul/nik)
Editor : Damianus Bram