Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Fitri Anekawati, Inisiator Sanggar Sosial Sukoasih: Niat Mengabdi ke Masyarakat, Tak Pungut Biaya Pelatihan

Mannisa Elfira • Jumat, 22 Desember 2023 | 16:15 WIB
MENGINSPIRASI: Fitri Anekawati (kiri) bersama anak didiknya usai ikuti kejuaraan seni tari.
MENGINSPIRASI: Fitri Anekawati (kiri) bersama anak didiknya usai ikuti kejuaraan seni tari.

RADARSOLO.COM - Seorang pegiat budaya Fitri Anekawati mencetuskan sanggar sosial Sukoasih.

Dia mengajari anak-anak hingga orang dewasa dari pelosok daerah untuk menari tanpa memikirkan biaya yang memberatkan. Bagaimana ceritanya?

Pelataran rumah Fitri di kawasan Colomadu, Karanganyar menjadi saksi perkembangan skill tari anak-anak sanggar Sukoasih.

Sebuah sanggar yang bergerak di bidang sosial. Siapapun boleh belajar tanpa memberatkan biaya.

Sanggar ini sudah didirikan Fitri sejak 2018 silam. Nama Sukoasih diambil dari sebuah gendhing. Gendhing yang memiliki arti ketika seorang ibu sedang menasihati anaknya.

”Jadi sudah hampir enam tahun, geraknya sosial terus,” ujar Fitri kepada Jawa Pos Radar Solo saat ditemui di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) belum lama ini.

Murid-murid Fitri kebanyakan dari daerah-daerah kecil. Masih di sekitar kawasan Colomadu. Seperti Gawanan, Simo, Sambi (Boyolali, Red) dan sekitarnya. Daerah-daerah yang jarang diberdayakan karakter seninya.

”Niat saya untuk pengabdian masyarakat. Saya ngasih pengertian, ini sanggar sosial. Temen-temen bisa belajar di sini. Pendaftarannya gratis,” imbuh mahasiswa S3 Universitas Sebelas Maret tersebut.

Sanggar ini juga sangat terbuka. Bahkan untuk orang yang sama sekali tidak bisa menari. Fitri bersedia untuk membimbing mereka dari nol.

”Awal mula mengajarkannya tentang bahwa menari itu tidak hanya untuk orang yang bisa menari. Tapi juga terbuka untuk orang yang belum bisa,” imbuh wanita yang berperan sebagai Dewi Sri dalam agenda Borsang Umbrella Festival di Thailand, awal tahun lalu.

Karena muridnya beragam, Fitri harus ekstra sabar. Plus mencari pendekatan yang paling sederhana, diterima, dan logis.

Salah satunya lewat teknik pendekatan emosional dewasa, seperti kakak dan adiknya.

”Saya jarang pakai bahasa Indonesia, pakainya bahasa Jawa. Ayo dek reneo, iki ngene dek, bar iki ngene (Ayo dek ke sini. Ini begini dek. Setelah ini begini, Red). Jadi lebih enak, lebih deket. Agar mereka tidak takut,” sambungnya.

Kepercayaan diri juga diajarkan oleh Fitri. Sebab, hal tersebut merupakan kunci penting dalam sebuah pementasan.

Andai kata sudah pede (percaya diri), baru memasuki fase penghafalan.

”Kalau sudah hafal baru ke ekspresi,” jelasnya.

Anak-anak sanggar Sukoasih juga kerap mengisi sejumlah acara. Bukan hanya di kawasan Colomadu saja, juga di lingkup yang lebih luas.

Contohnya di Kota Solo. Terdekat mereka akan tampil pada 30 Desember di Ngarsopuro.

”Kalau anak-anak sudah mau tampil itu, saya kasih sertifikat, jadi untuk menambah motivasi mereka biar semangat,” ujarnya.

Di sanggar Sukoasih, Fitri tak memandang usia. Dari anak-anak kecil hingga dewasa boleh bergabung.

”Kira-kira ada jam pertama ada 15 orang. Lanjut anak-anak dewasa 10 orang. Jadi hanya dua jam yang saya kosongkan,” tambahnya.

Ke depan, Fitri ingin membuat road ke desa-desa terpencil. Yakni untuk memperkenalkan dan mengajari seni budaya kepada anak-anak di kawasan itu.

”Saya juga lagi nyari anak muda perempuan yang punya skill lain selain menari. Contohnya sketch atau mewarnai atau baca atau pokoknya pegiat seni. Biar jangkauannya lebih luas,” tandasnya. (nis/adi)

Editor : Damianus Bram
#Sukoasih #Fitri Anekawati #pegiat budaya #menari #belajar #sanggar sosial