Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kisah Batu Keramat di Alun-Alun Klaten: Pernah Terlindas Truk, Mesin Langsung Mati

Angga Purenda • Minggu, 24 Desember 2023 | 14:35 WIB
Batu keramat menyerupai bentuk lumpang di kawasan Alun-Alun Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
Batu keramat menyerupai bentuk lumpang di kawasan Alun-Alun Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

RADARKLATEN.COM- Di tengah hiruk-pikuk keramaian Alun-Alun Klaten, ada benda yang beraroma mistis. Adalah batu yang berbentuk menyerupai lumpang, tepat di bawah pohon beringin.

Posisinya di sisi timur alun-alun. Dilindungi pagar besi. Tak jauh dari batu lumpang itu, terdapat batu alam yang dicor menyatu dengan lantai jalan setapak.

Oleh warga sekitar, batu tersebut dianggap keramat. Sebelum dilakukan penataan pada 2022, sebagian warga dan pedagang Alun-Alun Klaten kerap melakukan ritual dengan meletakan sesaji di sana.

Termasuk ketika ada event musik di alun-alun, panitia kegiatan juga memasang sesaji.

Sutik, warga sekitar Alun-Alun Klaten menjelaska, sudah sejak lama batu tersebut diberi sesaji.

Dahulu, alun-alun yang merupakan tanah lapang sering digunakan untuk pagelaran wayang kulit hingga ketoprak.

“Jadi sebelum acara, biasanya ada kenduri dan meletakan sesaji. Harapannya acara berjalan lancar. Kalau sekarang mulai jarang yang meletakkan sesaji. Mungkin hanya satu dua orang saja,” papar warga Tegal Blateran, Kelurahan Kabupaten, Kecamatan Klaten Tengah ini.

Sesaji berupa bunga biasanya diletakan di batu keramat pada hari tertentu. Di antaranya malam Jumat Kliwon (penanggalan Jawa).

“Batu itu dulu di pinggir jalan, tidak seperti sekarang yang masuk area alun-alun. Dulu era 70-an pernah ada kejadian truk yang melindas batu itu. Truknya macet tidak bisa dihidupkan,” beber Sutik.

Kejadian aneh lainnya diungkapkan Sumarno, 74, warga sekitar. Pernah saat dilakukan rehab alun-alun, pekerja mengalami kecelakaan.

Kejadian itu selalu dikaitkan dengan keberadaan batu keramat tersebut. “Kalau tidak salah Alun-Alun Klaten ini pernah direhab empat kali,” ujarnya.

Sementara itu, Hari Wahyudi, pegiat cagar budaya asal Klaten menduga, batu lumpang itu bekas parit.

Bagian dari Benteng Engelenburg yang pernah berdiri pada 1804. Di mana benteng tersebut kini berubah menjadi Masjid Raya Klaten, tepat di samping alun-alun.

“Soalnya lokasinya di ujung parit benteng zaman dulu. Kalau melihat peta Belanda, airnya dari arah Pasar Gedhe Klaten. Dari arah utara mengarah ke selatan. Ini masih dugaan saya. Itu saluran drainase pembuangan benteng,” beber dia. (ren/fer)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#batu lumpang #sesaji #truk #alun-alun klaten