RADARSOLO.COM - Tak semua umat yang beragama Katholik mau atau sanggup menjalani hidup sebagai biarawati. Sebab dengan memilih jalan ini, mereka harus meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi.
Veronica Kurniati salah satunya. Sejak beberapa tahun terakhir dia telah memantapkan hati sebagai seorang biarawati.
Perempuan yang akrab dipanggil Kurnia ini, saat ini menjalani kehidupan sebagai biarawati pendamping iman para lansia di Wisma Lentera Harapan, Mojosongo.
Dia sendiri awalnya tak pernah memiliki rencana menjadi seorang biarawati.
Anak keempat dari enam besaudara ini mengatakan, awalnya yang berkeinginan menjadi biarawati adalah dua saudara perempuannya. Yakni kakaknya yang nomor 3 dan adiknya nomor 5.
"Saya sendiri cita-citanya menjadi seorang guru. Sebab itu, setelah lulus SMA, saya menempuh kuliah pendidikan matematika," ujarnya.
Setelah kuliah, Kurnia lantas merantau ke ibu kota dan mengajar di salah satu SMA swasta di Jakarta selama empat tahun.
Dari Jakarta, dia lantas pindah mengajar di salah satu SMA di Purwokerto sekira 4 tahun.
"Saat menjadi guru itu, muncul kebimbangan dari dalam diri saya, apakah akan berkeluarga, atau hidup sendiri. Namun bukan membiara," ujarnya.
Namun, lama-lama panggilan untuk hidup membiara terus mengusik dirinya. Bahkan dalam hati, selalu menolak panggilan sebagai biarawati.
Namun, karena usikan hati terus datang, dia akhirnya mendatangi seorang monsiyur di Purwokerto.
Dia lantas menceritakan apa yang menjadi kegalauannya. Kemudian dia mendapat saran untuk menjalani life in atau tinggal di kesusteran.
"Jadi saya tinggal di kesusteran sampai beberapa kali. Untuk melihat seperti apa kehidupan para suster itu. Hingga akhirnya pada 2007, baru berani memutuskan hidup membiara," ujar perempuan kelahiran Klaten 5 Agustus 1974 ini
Setelah itu, Kurnia lantas mencari katalog rumah-rumah biara. Dia mendapat tujuh nama konggregasi, kemudian dia meminta petunjuk kepada Tuhan, hingga mendapat dua nama Konggregasi. Satu berada di Malang, satu lainnya di Solo.
"Saya telepon nomor biara yang di Malang, diminta datang satu minggu lagi. Kemudian saya telepon di Solo, waktu itu diminta datang. Nah, ini mungkin jawaban doa saya," papar dia.
Dia lantas mendatangi rumah Postulan Konggregasi Suster Penyelenggaraan Ilahi (PI) Solo (sekarang bernama Konggregasi Sisters of Divine Providence (SDP)), yakni tempat pendidikan awal bagi calon suster. Dia lantas menginap di kesusterean tersebut selama dua hari.
"Setelah cocok dengan Konggregasi ini, saya langsung kembali ke Purwokerto, mengajukan pengunduran diri dari sekolah, dan Puji Tuhan, diberi kemudahan," ungkapnya.
Kurnia lulus pada tahap awal, atau kaul pertama pada 2012, kemudian lulus pendidikan lanjutan atau kaul kekal dan dinyatakan sebagai suster pada 2020.
Setelah kaul kekal, saya melakukan aksi karya di Semarang sekaligus menempuh pendidikan S2 di Universitas Katolik Soegijapranata.
Setelah lulus, barulah dia ditugaskan oleh Konggregasi SDP menjadi pendamping lansia di Wisma Lentera Harapan.
Kurnia sempat bingung ketika mendapat tugas tersebut. Sebab tak memiliki background pendidikan sebagai perawat, atau pendamping lansia. Kemudian dia membuat program lansia bahagia.
"Jadi saya ingin disisa usia senja para oma-opa di sini itu, mereka bisa bahagia. Tidak hanya dari luar, namun juga dari dalam. Yakni kebahagiaan senjati itu adalah ketika kita dekat dengan Tuhan. Maka saya mencoba mengajak mereka berbahagia dengan mendekatkan diri kepada Tuhan," kata wanita asal Kebon Arum, Klaten.
Dalam mendampingi para lansia ini, lanjut Kurnia, juga sebagai pengingat, bahwa pada suatu saat nanti, dia juga akan menjadi lansia.
Sebab itu, selama mendampingi para lansia ini, dia selalu berusaha untuk menjaga agar mood mereka tetap terjaga.
“Sebagai manusia biasa, ada kalanya suasana hatinya gundah. Namun bagaimana carany, ketika berhadapan dengan para lansia ini tidak memperlihatkan kalau sedang bad mood,” ujar dia. (atn/bun)
Editor : Damianus Bram