Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Yang Tak Terlupakan dari Lo Siaw Ging, Dokter Murah Hati di Kota Solo

Silvester Kurniawan • Kamis, 11 Januari 2024 | 17:01 WIB
Jenazah Dr Lo disemayamkan di Rumah Duka Thiong Ting.
Jenazah Dr Lo disemayamkan di Rumah Duka Thiong Ting.

RADARSOLO.COM-Berpulangnya dokter Lo Siauw Ging merupakan kehilangan besar bagi masyarakat Kota Solo. Terutama bagi kaum duafa.

Pantauan radarsolo.com di Rumah Duka Thiong Ting, Jebres, Kota Solo, para pelayat berdatangan mengucap belasungkawa.

Sebagian dari mereka merupakan orang yang pernah menjadi pasien sang dokter murah hati ini.
Kepergian dr Lo memang menyisakan duka mendalam bagi mereka yang pernah merasakan sentuhan dokter dermawan ini.

Bagi kaum duafa, dr Lo adalah “dewa penolong”. Sudah tak terhitung pasien mendapat pelayanan kesehatan gratis.

“Keluarga saya ini pasien dari dr Lo. Anak saya yang paling besar, saat ini usia 25 tahun dan yang kedua usia 21 tahun. Kami semua merasa sangat kehilangan sosok dokter seperti beliau,” kata seorang pelayat, Nyonya Iva, 60.

Para anak muda pun turut merasa kehilangan sosok panutan yang benar-benar menedepankan kebutuhan pasien di atas segalanya.

“Dari umur 5 tahun saya sudah jadi pasien beliau. Yang terakhir itu setahun lalu saat kakak saya sakit masih berobat di dr. Lo,” terang Umari, 21, putri Nyonya Iva.

Iva pun terkenang pengalaman berobat puluhan tahun silam. Waktu itu anaknya sakit selama dua hari.

Namun Iva bertahan dengan memberikan obat “warung” yang dijual bebas. Dengan harapan, setelah beberapa hari minum obat dan istirahat, anaknya bisa sembuh.

Dua hari berselang, anaknya tak kunjung sehat, dan akhirnya dibawa ke dr. Lo. Saat itulah dia kena marah dari sang dokter karena teledor dalam mengutamakan kesehatan anak.

“Sempat dimarahi dr. Lo. Beliau ini saking pedulinya sama pasien, sangat tegas. Jadi kalau orang tuanya kurang peduli, maka beliau akan marah,” ujarnya.

Tri Avianto, 40, yang menjadi pasien dr. Lo sejak 23 tahun lalu. Kedekatan pasien dan dokter ini terjadi asaat TriAvianto kecelakaan hebat yang membuat kakinya lumpuh hingga saat ini.

“Setelah saya tertimpa reklame, saya mulai periksa rutin ke rumah sakit tempat beliau praktik. Dan berhenti karena ada masalah ekonomi,” terang dia.

Setengah tahun berselang, pihak rumah sakit menghubungi Tri Avianto agar datang ke rumah sakit.

“Dokter Lo bilang begini, kowe ngopo kok ra tau kontrol? Saya bilang begini…begini…. Lalu Dokter Lo menyarankan agar tetap periksa dengan bantuan sosial dari beliau. Jadi semua biaya periksa dan obat semua ditanggung beliau,” papar Tri Avianto.

Ditambahkannya, dr. Lo sangat marah ketika ada pasien yang lalai atau menyerah terkait kondisi kesehatannya.

“Kowe ki iso mlaku bejo. Wes urip ki bejo. Kudune kowe lumpuh, syukurono wae. Saya sempat dongkol. Tapi selang beberapa lama, akhirnya saya sadar niat baik pak dokter. Sosok beliau tak akan pernah tergantikan,” tutur Tri Avianto.

Mantan Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo juga merasakan sentuhan dr. Lo. Banyak kenangan. Sebab, semua anak Rudy saat masih belia, ketika sakit, selalu dilarikan ke tempat praktiknya.

"Mau sakit apa saja, mesti larinya ke beliau (dr. Lo). Saya sama istri tidak pernah dimarahi. Soale manut (karena patuh). Memang beliau orangnya galak kalau ada yang ngeyel soal kesehatan, terutama untuk kesehatan anak," ujarnya.

Rudy kali terakhir bertemu dr. Lo sekira sembilan tahun silam. Saat masih menjabat sebagai wali kota.

"Beliau orang baik. Bukan sekadar omongan, namun dengan perbuatan," ujar Rudy

Sementara itu, Sumartono Hadinoto, karib dr. Lo memastikan bahwa keluarga telah memilih prosesi pemakaman. Sang dokter akan dikremasi di Krematorium Delingan.

"Akan di kremasi Kamis. Jam 2 siang (pukul 14.00). Berangkat dari rumah duka Thiong Ting. Satu jam sebelumnya ada misa jenazah," jelasnya.

Usai dikremasi, abu mendiang Dr Lo akan dibawa oleh keluarga.

Sehari sebelum prosesi kremasi dilakukan, sesuai tradisi Tionghoa akan dilakukan prosesi Maesong atau malam bunga. Prosesi itu merupakan upacara penghormatan terakhir kepada jenazah. (*/bun)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#lo siaw ging #meninggal dunia #pasien #kenangan #Dokter Lo