RADARSOLO.COM-Pertunjukan Wasiat Diponegoro memasuki hari ketiga di Masdon Art Center, belum lama ini. Pentas tersebut merupakan riset performance dari Sardono W. Kusumo, Hanindawan, Rahman Sabur, Peni Candrarini, Otto Sidharta, Tisna Sanjaya, Eko Supriyanto, dan Peter Carey.
Penerangan di Senin malam itu agak redup. Tak lama kemudian Eko Supriyanto yang berperan sebagai Pangeran Diponegoro saat masih muda muncul di atas panggung.
Dia memakai baju hitam transparan yang diambil dari sebuah peti. Selepas itu peti ditutup.
Alunan musik mulai merasuk ke telinga penonton.
Mengiringi suara merdu Peni Candra Rini yang sedang bersenandung. Dia datang dari sisi kanan panggung, membawa semacam sentir (lampu penerangan dari api) dan buku.
Dalam pementasan ini, Peni berperan sebagai Ratu Adil. Peni melantunkan nada-nada sambil melakukan gerakan, bak mengajak sang pangeran.
Sementara itu, Eko tetap menari dengan spirit yang kuat. Berawal dari atas peti, hingga masuk ke dalam sebuah wajan.
Pementasan Wasiat Diponegoro ini mengandung pesan untuk menciptakan masa depan. Di mana Pangeran Diponegoro menerima panggilan gaib setelah bertemu Ratu Adil.
Ini mendorongnya untuk keluar dari zona nyaman. Berani mengambil risiko untuk mengalami takdir sebagai pelaku sejarah perebutan Pulau Jawa dari tangan penjajah.
Memasuki babak kedua, muncul dua seniman teater sambil membacakan naskah. Kata per kata didengungkan. Intonasinya jelas. Naskah tersebut merupakan Babad Diponegoro.
Naskah yang berisi riwayat hidup Pangeran Diponegoro, sebagai pemimpin perlawanan terhadap kolonial Belanda di era 1825-1830.
Di sela pertunjukan, giliran Sardono W. Kusumo memasuki wajan. Dia menari lemah tak berdaya. Menggambarkan sososk Diponegoro yang sudah renta karena serangan penyakit malaria.
Inilah adegan di mana Diponegoro ditangkap dan diangkut dengan kapal layar berdayung (korvet pollux) selama dua bulan dua minggu menuju pengasingan. Di Manado, Sulawesi Utara.
Puncak wasiat Diponegoro adalah, jika mati ingin dikuburkan di Makassar, Sulawesi Selatan. Tepat di samping makam anaknnya, R.M. Sarkuma. Dikubur bersama pusakanya keris Bondoyudo. Hasil peleburan tiga pusaka, sebagai tanda kepercayaan memimpin rakyat Jawa.
“Meski keturunanku berjumlah 18 orang, mereka harus memahami bahwa mewarisi pusaka ini tidak mudah. Karena menjadi simbol penguasa tanah Jawa. Tak seorang pun dari mereka merasa mampu mengemban tugas seberat bapaknya,” ujar Sardono yang memerankan Diponegoro.
Setelah pementasan usai, applause meriah disorakkan penonton. Belum cukup, penonton mendatangi satu per satu seniman untuk memberikan ucapan selamat.
Artistic director pentas Wasiat Diponegoro Sardono W. Kusumo mengaku, tema Diponegoro merupakan peristiwa sejarah yang banyak memberikan pelajaran.
Sejarah di mana Diponegoro mampu menggerakkan hampir seluruh masyarakat di pulau Jawa.
“Ada 200 ribu penduduk Jawa yang meninggal (akibat penjajahan Belanda). Artinya seorang pemimpin itu sebenarnya bisa menangkap apa yang dirasakan masyarakat,” beber Sardono.
Menurut Sardono, Diponegoro dianggap sebagai pahlawan yang mampu menggerakkan perlawanan rakyat terhadap penjajahan.
“Bisa memberi contoh. Bahwa Diponegoro dulu tidak bisa dan tidak tahan membunuh (penjajah). Karena melihat rakyat ditindas. Dan penjajah harus dilawan,” tegasnya.
Sementara itu, pementasan ini digelar selama tiga hari mulai 6-8 Januari. Pentas di hari terakhir, bertepatan dengan hari wafatnya Pangeran Diponegoro pada 8 Januari 1855. (nis/fer)
Editor : Tri Wahyu Cahyono