RADARSOLO.COM - Memelihara burung predator memang memberikan sensasi sendiri bagi para peminatnya. Salah satu yang banyak dipelihara adalah burung hantu.
Memelihara burung predator, karakternya yang beringas jadi salah satu hal yang membuat orang meliriknya.
Sementara kecerdasan tinggi dan mudah dilatih membuat orang makin tertarik untuk memeliharanya.
Hal itulah yang diungkapkan penggemar burung hantu asal Jebres, Agus Junianto yang sudah 10 tahun terakhir banyak memelihara berbagai jenis burung hantu yang ada di pasaran.
Baca Juga: Mengatasi Hama Tikus Sawah, Pemdes Beji Dirikan Rumah Burung Hantu
Kepada Jawa Pos Radar Solo, Agus membagikan pengalamannya dalam memelihara burung predator tersebut.
Secara spesifik dia menyebut gemar memelihara burung hantu sebagai salah satu spesies burung predator yang ada di Indonesia.
Alasannya karena banyak varian burung hantu di Indonesia yang boleh dipelihara secara bebas, berbeda dengan varian burung predator lain seperti Elang yang banyak jenisnya dan masuk kategori spesies dilindungi.
“Lebih senang ke burung hantu karena masih banyak variannya yang bebas dipelihara di Indonesia. Kalau burung elang kan banyak yang dilindungi ya, jadi kalau dipelihara harus ada izin-izinnya. Nah kalau burung hantu ini nggak, apalagi untuk varian-varian yang masih banyak hidup di sekitar lingkungan kita,” tuturnya.
Agus memiliki beberapa jenis burung hantu yang kadang dia pun tidak tahu jenis dan asalnya, kecuali penyebutan nama lokalnya.
Namun yang ada di rumahnya sampai saat ini tinggal dua jenis seperti tyto alba (barn owl) atau yang dikenal dengan sebutan serak jawa dan buffy fish owl yang juga dikenal dengan banyak nama seperti beluk ketupa, ketupa ketupu, bloketupu oleh berbagai kalangan masyarakat.
“Tyto alba ini burung hantu yang masih banyak kita temukan di area persawahan di Jawa, di sekitar Solo juga masih banyak burung hantu ini ditemukan. Biasanya dipelihara para petani untuk memburu tikus di sawah. Begitu juga dengan buffy fish owl yang juga masih banyak di area Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, dan banyak wilayah di Indonesia, bahkan persebarannya sampai luar negeri seperti Thailand, Vietnam, Laos, dan sekitarnya,” terangnya.
Bagi sebagian orang, burung hantu dianggap menakutkan, namun baginya burung hantu itu seperti hewan peliharaan yang menyenangkan.
Seekor burung hantu yang terlatih bisa diajak untuk melakukan berbagai trik, seperti terbang bebas dan kembali ke pemilik (free fly) dan sebagainya.
Kuncinya tinggal bagaimana melatih burung hantu itu dengan baik agar terbiasa dengan instruksi yang diberikan.
“Sarannya sebaiknya pelihara sejak masih baby karena akan lebih mudah dijinakkan dan dilatih. Pendekatannya mulai dari memberikan makan secara langsung, sering dipegang (handle, Red), diberi instruksi, misalnya saat memberi makan burung diminta untuk menghampiri dan sejenisnya. Kalau sudah terbiasa burung hantu akan makin kenal dengan pemiliknya,” paparnya.
Soal perawatan, memelihara burung predator sejatinya tidak lebih sulit daripada memelihara burung jenis kicau atau burung hias.
Kebersihan kandang dan kebersihan tubuh menjadi syarat utama agar burung kesayangan dapat tumbuh dengan sehat.
Dari segi kandang, burung predator sejatinya tak memerlukan kandang karena cukup diberi angkringan.
Atau bisa juga cukup diberi tali pengikat di salah satu kakinya. Dengan begitu burung akan lebih leluasa untuk bergerak atau beraktivitas ketimbang dipelihara di dalam kandang.
“Harus sering bersihkan kotorannya saja, kalau soal mandi biasanya yang tyto alba saya semprot pakai semprotan burung. Sementara yang Buffi, yang seperti burung hantunya Master Limbad (pesulap jebolan program The Master) biasanya diberi wadah berisi air karena senang mandi sendiri. Yang perlu diperhatikan lainnya soal pemberian pakannya saja karena burung predator ini memang setiap hari harus makan, minimal dua kali sehari,” terang Agus.
Jika sudah memahami hal-hal yang harus dipersiapkan, pecinta burung predator bisa menyiapkan dana untuk membeli burung hantu itu.
Soal harga, burung hantu tidak terlalu mahal dibandingkan jenis hewan predator lainnya karena anakannya mayoritas dijual dengan harga ratusan ribu rupiah saja dan dapat ditemui di berbagai pasar burung yang ada di berbagai tempat.
"Harganya tidak mahal kalau burung hantu. Yang tyto alba itu kalau tidak salah dulu itu saya belinya hanya Rp 100 ribuan, ukuran baby. Tapi kalau yang buffy fish owl itu Rp 600 ribu-Rp 800 ribu untuk anakannya kalau pas lagi ada panen dari peternak," bebernya. (ves/nik)
Editor : Damianus Bram