RADARSOLO.COM-Kontestan Energen Champion SAC Indonesia National Championship di Stadion Sriwedari, Kamis (18/1/2024) lalu kedatangan tamu istimewa.
Siapa lagi kalau bukan Suryo Agung Wibowo. Pemecah rekor SEA Games lari cepat 100 meter.
Mendung menggelayut langit Stadion Srtiwedari, siang itu. Disusul hujan gerimis yang menambah keasrian Monumen PON I tersebut. Satu per satu peserta dari enam qualifiers Energen Champion SAC Indonesia 2023 National Championship berdatangan.
Mereka dipersilakan menjajal lapangan. Sekaligus mendapat coaching clinic dari mantan sprinter nasional.
Coaching clinic tersebut dipandu Suryo Agung Wibowo. Pelari nasional kelahiran Solo, 8 Oktober 1983.
Nama Suryo tak asing lagi di dunia atletik tanah air. Tak heran ketika Suryo menampakkan batang hidungnya, antusiasme peserta meledak.
Sesi coaching clinic dibuka dengan panggung diskusi. Ada peserta yang awalnya malu-malu kucing saat duduk di tribun.
Tapi ketika diminta mendekat ke Suryo yang berdiri di lintasan atletik, mereka dengan sigap berlari mendekat. Ingin memanfaatkan kesempatan emas nan langka ini untuk memacu karir.
“Contohnya, ada yang tanya akselerasi itu idealnya berapa meter untuk mendapat hasil maksimal? Dan juga pertanyaan-pertanyaan lainnya,” kata Suryo kepada Jawa Pos Radar Solo usai coaching clinic.
Di SAC Indonesia ini, Suryo sekaligus ingin berburu bibit-bibit atletik potensial. Maklum, saat ini dia menjadi salah seorang anggota talent scouting di Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI).
Di sisi lain, dia juga disibukkan sebagai aparatur sipil negara (ASN) Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bidang Asdep Tenaga Keolahragaan.
Tapi siapa sangka, sejak kecil Suryo malah kesengsem dengan sepak bola. Ketika duduk di bangku SD kelas III, dia memutuskan bergabung dengan klub lokal PS Ster. “Saya latihan di Lapangan Banyuanyar,” ujarnya.
Menginjak SMP, Suryo sering diundang ikut turnamen antarkampung (tarkam). Mulai dari Wonogiri, Karanganyar, Sragen, dan sekitarannya.
“Terus main bola sampai ikut seleksi Persis Solo. Waktu itu kelas XI SMA. Saya mewakili PS Ster yang juga klub internal Persis Solo,” bebernya.
Seleksi tahap pertama, Suryo bersaing dengan sekira 100 pemain. Kemudian lolos tahap kedua bersama 23 pemain lainnya. Sayangnya saat seleksi 20 besar, namanya terlempar.
“Ya sudah nggak lolos. Lalu ikut seleksi Piala Mendagri di Jawa Tengah. Mainnya di Jakarta, bawa nama Jawa Tengah. Saya juga tidak lolos. Dua kali gagal seleksi,” timpalnya.
Di saat nyaris bersamaan, ada mata pelajaran (mapel) olahraga di sekolahnya. Ketika mencoba nomor lompat tinggi, ternyata Suryo mencatatkan lompatan tertinggi. Dari sini dia tertarik banting stir menggeluti atletik.
“Saya ikut lomba atletik pelajar se Kota Solo mewakili sekolah. Ternyata juara. Sama Dispora (Dinas Pemuda dan Olahraga) Kota Solo, para juara dikumpulkan . Latihan rutin tiap Senin, Rabu, dan Jumat di Stadion Sriwedari,” ungkapnya.
Setelah menjalani latihan rutin, ada suasana suntuk yang menggelayuti batin Suryo. Mungkin karena kurangnya aroma kompetisi waktu itu.
Akhirnya saat ada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda), dia memutuskan terjun di sepak bola dan atletik.
“Waktu itu ketahuan dispora. Saya dipanggil. Harus memilih salah satu. Sebelumnya gagal dua kali di sepak bola, akhirnya saya fokus ke atletik,” ujarnya.
Di Popda Suryo turun di nomor lari cepat 100 meter dan lompat tinggi. Dua-duanya mendapat medali emas.
“Setelah itu saya didatangi pelatih PPLP (Pusat Pendidikan Dan Latihan Pelajar) Jateng. Ditanya data segala macam. Diminta ikut Kejurnas (kejuaraan nasional) di Jakarta. Kalau hasilnya bagus, bisa masuk PPLP,” beber Suryo.
Secara mengejutkan, Suryo meraih hasil ciamik di Kejurnas. Alhasil dia bergabung dengan PPLP Jateng. Proyeksi Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) Palembang 2001, nomor lari cepat 100 meter. Lagi-lagi dia meraih medali emas.
“Akhirnya pada 2002 dipanggil PB PASI untuk ikut Pelatnas (pelatihan nasional) jangka panjang. Lalu 2003 ikut Pelatnas SEA Games di Hanoi, Vietnam,” ujarnya.
Puncak karis Suryo terjadi pada 2007. Tepat saat SEA Games di Thailand. Turun di nomor sprint 100 meter, dia mempersembahkan emas pertama bagi Indonesia. Sekaligus meraih tiket ke Olimpiade.
“Jadi saya pecah rekor 2007, lalu 2009 mempertajam rekor SEA Games jadi 10.17 detik,” paparnya.
Di balik kesuksesan tersebut, jalan yang dilalui Suryo tak semudah membalik telapak tangan. Tapi dia tak pelit membeberkan kunci sukses tersebut. Yakni mengalahkan diri sendiri.
“Sendiri itu tidak ada temannya. Tidak seperti olahraga permainan. Jadi ya tantangannya mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan rasa bosan dan perlu perjuangan ekstra,” pesannya.
Rupanya Suryo juga memiliki trik khusus untuk membunuh rasa bosan tersebut. Dia memilih tetap menjalani hobi bermain bola.
“Kadang nonton bola, kadang juga main. Buat refreshing saja. Kadang juga main PS (PlayStation) yang sepak bola,” tandasnya. (nis/fer)
Editor : Tri Wahyu Cahyono