Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Ataya Sabian Awanta, Olah Minyak Jelantah Menjadi Sabun Mandi dan Kecantikan: Ide Muncul usai Melihat Limbah Minyak Dibuang Sembarangan

Antonius Christian • Senin, 29 Januari 2024 | 22:10 WIB
INSPIRATIF: Ataya memperlihatkan sabun mandi terbuat dari minyak jelantah.
INSPIRATIF: Ataya memperlihatkan sabun mandi terbuat dari minyak jelantah.

RADARSOLO.COM - Berawal dari iseng membuat produk olahan limbah saat masih duduk dibangku sekolah dasar (SD), kini malah menjadi ceruk bisnis.

Ini yang dilakukan Ataya Sabian Awanta. Dia memanfaatkan limbah minyak jelantah untuk membuat sabun cuci pakaian, sabun mandi dan kecantikan.

 

Gadis yang duduk di bangku SMA ini memiliki ide membuat sabun dari minyak jelantah ketika melihat limbah ini banyak dibuang langsung ke parit.

Kondisi ini tentu akan mencemarkan lingkungan. Mengingat air dan minyak merupakan pertikel yang tidak mungkin bersatu. limbah ini akan terus terbawa hingga ke sungai bahkan ke laut.

"Tentu akan menggangu ekosistem alam kita. Akhirnya dari situ saya dapat ide bagaimana bila limbah ini dimanfaatkan untuk bahan lain. Sempat cari-cari, ternyata ada yang buat lilin (dari jelantah). Karena tidak mau seperti yang sudah-sudah, akhirnya saya memilih sabun, ternyata ada caranya," urai Sabian.

Sabian mengatakan, proses pembuatan sendiri diawali dengan penjernihan jelantah yang dilakukan dengan mencampurnya dengan arang yang dibiarkan semalaman. 

Saringan jelantah kemudian dicampur dengan larutan alkali yang terdiri dari bahan kimia kaustik dan akuades.

"Alkali yang sudah dicampurkan kemudian dikocok bersama jelantah selama dua menit dan didiamkan dalam loyang hingga mengeras kira-kira dua jam. Tapi untuk NaOH menjadi gliserin dan sabun itu kira-kira butuh waktu 14 hari sampai ready dipasarkan," jelasnya. 

Proses pencampuran tidak boleh sembarangan, takarannya harus pas. Sebanyak 80 gram kaustik dan 130 gram akuades yang sudah dicampur menjadi larutan alkali dimasukkan ke dalam 450 gram jelantah.

Adonan itu menghasilkan satu loyang sabun padat yang bisa dipotong menjadi 10 sabun ukuran kecil dan siap kemas.

Sabian menjual sabun jelantah di rumahnya seharga Rp 7.500 per batang. Selama ini, sabun jelantah itu hanya dipakai untuk membersihkan noda pada pakaian atau lap pel. Belum digunakan untuk sabun mandi dan perawatan wajah.

Sebab itu, Sabian saat ini juga mengembangkan sabun mandi dan sabun kecantikan. Prosesnya sama.

Hanya saja untuk bahannya menggunakan olive oil atau minyak zaitun, minyak almond, dan minyak kelapa.

"Larutan untuk memadatkannya sama, bedanya dikasih ekstrak aroma therapi," ujarnya.

Untuk sabun mandi ini memang belum dipasarkan secara massal. Sebab, dia masih menunggu testimoni dari dokter kecatikan yang ada di kawasan Boyolali.

"Untuk beberapa dokter sudah merespons, dan hasilnya positif," katanya.

Uji laboratorium juga sudah dilakukan, dan sudah dinyatakan aman. Tinggal uji testimoni.

“Ada 10 dokter yang saya mintai tanggapan. Karena bagaimanapun ini nanti untuk kulit, harus terjamin. Beda dengan sabun dari jelantah, yang memang untuk pakaian. Kalau nanti 10 dokter ini sudah keluar semua uji testomininya baru produksi massal," ujar Sabian. (atn/bun) 

Editor : Damianus Bram
#Sabun kecantikan #produk olahan limbah #sabun cuci #sabun mandi #Ataya Sabian Awanta #minyak jelantah