Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Berburu Pakaian Khas Imlek Cheongsam di Pasar Gede: Kaum Wanita Cari Model Terbaru, Pria Pilih Model Setelan

Maulida Afifa Tri Fahyani • Selasa, 30 Januari 2024 | 20:59 WIB
PAKAIAN KHAS IMLEK: Nanik Handayani sudah 38 tahun berjualan cheongsam di Pasar Gede.
PAKAIAN KHAS IMLEK: Nanik Handayani sudah 38 tahun berjualan cheongsam di Pasar Gede.

RADARSOLO.COM - Salah satu ciri khas Imlek adalah baju Mandarin atau bisa disebut cheongsam.

Nah, mendekati puncak perayaan tahun baru Tionghoa ini, baju yang kental warna merah ini mulai diburu.

Seorang perempuan tampak sibuk merapikan baju-baju yang dijual di tokonya di area Pasar Gede kemarin.

Dari baju-baju yang dijual itu hampir semuanya berwarna merah. Modelnya pun sama. Khas pakaian Tionghoa atau lebih akrab disebut cheongsam.

Ya, di musim mendekati perayaan Imlek ini, baju-baju tersebut memang banyak dicari. Tidak heran beberapa toko pakaian di Pasar Gede banyak menyetok.

Tidak hanya untuk kalangan dewasa, namun juga ada pakaian anak-anak. Modelnya juga mulai ikut dengan gaya kekinian, tanpa meninggalkan warna khas merah.   

"Kalau biasanya saya jual pakaian sekolah. Khusus Imlek saya memang rutin menyiapkan baju cheongsam sejak Desember lalu," jelas Nanik Handayani, pedagang pakaian saat ditemui di lapaknya area Pasar Gede, kemarin (29/1).

Naniek menyebut, penjualan cheongsam dalam beberapa pekan terakhir ini memang meningkat dibanding hari biasanya.

Namun jika dibandingkan tahun sebelumnya, justru mengalami penurunan cukup signifikan. 

"Lebih ramai yang tahun lalu, karena mungkin banyak yang pakai baju lama. Atau lagi pada mengumpukan uang buat beli mendekati hari H Imlek nanti," imbuhnya.

Sama seperti kebutuhan Imlek lainnya, baju cheongsam dengan gambar naga adalah paling banyak diburu pembeli.

Naniek menyebut, sampai saat ini dia telah menjual lebih dari 200 potong pakaian. Dengan harga mulai dari Rp 60 ribu hingga Rp 450 ribu.

"Biasanya kalau yang cewek cari yang model terbaru. Tapi kalau untuk cowok cari yang model setelan," sebutnya.

Naniek menjual baju-baju Imlek dari lokal hingga impor langsung dari Tiongkok. Dia juga menjelaskan, ada perbedaan bahan antara kedua produknya. Di mana pakaian bahan impor lebih nyaman dipakai.

"Bahannya (pakaian impor) dari satin, kalau yang lokal mungkin agak lebih panas. Jadi lebih nyaman yang impor," katanya.

Tak hanya kalangan warga Tionghoa, masyarakat umum juga cukup banyak yang membeli produk jualannya.

Terutama pakaian anak-anak. Sebab, di beberapa sekolah di Kota Solo juga ada yang merayakan Imlek bersama. 

"Luar kota juga ada. Seperti dari Jogja, Purwodadi, dan Semarang beli ke sini. Karena di toko saya cukup komplit pakaiannya," ungkapnya.

Nanik juga menyebut, akan berjualan hingga H+10 usai perayaan Imlek. Sebab, biasanya di rentang itu masih banyak pembeli datang.

"Saya sudah 38 tahun berjualan baju cheongsam saat Imlek. Karena waktu itu wilayah Pasar Gede kan terkenal Kampung Pecinan. Saya coba jual baju-baju Imlek ternyata ramai, dan keterusan sampai sekarang," tandas Nanik.

Salah seorang pembeli cheongsam, Riska Widya mengatakan, selalu mempersiapkan baju Imlek tiap mendekati hari H.

Termasuk untuk anaknya yang memerlukan untuk kepentingan acara sekolah.

"Sebenarnya tadi jalan-jalan ke Pasar Gede saja. Tapi begitu lihat baju cheongsam jadi ingat anak ada acara wajib di sekolah yang perlu baju itu. Akhirnya saya sekalian beli dua. Satu buat saya, satu buat anak," kata Riska. (ul/bun)

Editor : Damianus Bram
#imlek #cheongsam #pakaian #pasar gede #tionghoa