Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Razan Wirjosandjojo, Mahasiswa ISI Surakarta: Dari Geluti Seni Tari, Kini Rambah Dunia Perfilman

Mannisa Elfira • Jumat, 9 Februari 2024 | 15:53 WIB
Razan Wirjosandjojo, mahasiswa ISI Surakarta yang memiliki bakat di bidang seni tari dan film.
Razan Wirjosandjojo, mahasiswa ISI Surakarta yang memiliki bakat di bidang seni tari dan film.

RADARSOLO.COM-Di kalangan seniman Kota Solo, wajahnya mungkin sudah tak asing.

Dia adalah Razan Wirjosandjojo. Perjalanannya merintis karir di bidang seni tari cukup berliku.

Setiap pentas, Razan selalu tampil mengesankan. Persiapan acara pun tidak main-main. Radarsolo.com pernah beberapa kali menjumpai Razan di acara kesenian di Kota Solo.

Salah satunya saat Razan tampil di Teater Arena akhir tahun lalu. Bersama dengan rekan-rekan Studio Plesungan, dia membawakan karya Melati Suryodarmo berjudul Rite of Spring. Malam itu, Razan menari dengan indah.

Tidak hanya piawai pentas di atas panggung, Razan juga aktif dalam diskusi seni.

Seperti ketika dia menjadi moderator di acara Tidak Sekedar Tari #82 di Pendapa Wisma Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) belum lama ini.

Lantas sejak kapan Razan tertarik dengan dunia kesenian? Sejak kecil, itulah jawabannya.

Razan lahir di lingkungan yang kerap memperkenalkannya dengan kesenian oleh keluarganya. Kebetulan, neneknya merupakan seorang pembatik.

“Tante saya juga seorang pelukis. Kesenian cukup dekat di dalam keluarga,” ungkap Razan kepada radarsolo.com.

Ketika duduk di bangku SD, Razan mulai tertarik dengan gerak tubuh. Namun belum menjurus kepada seni tari.

Melainkan sejumlah aktivitas fisik yang cenderung masuk ke bidang olahraga.

“Pada saat SD, saya berlatih wushu dan futsal. Pada dasarnya saya suka aktivitas yang melibatkan gerak tubuh. Jadi sekolah saya lebih semangat di sana," bebernya.

Masuk SMP, Razan mulai menari. Diawali dengan tarian hip-hop. Pada eranya kala itu, beberapa film yang melibatkan tari hip-hop cukup marak. Dari sanalah Razan tertarik untuk mulai belajar.

"Kebetulan ada beberapa teman yang juga terdorong (ikut belajar) dari sosial media atau internet. Internet juga yang menjadi sarana awal belajar. Lihat-lihat tutorial," sambungnya.

Tak puas hanya belajar dari internet. Razan memutuskan untuk mencari ilmu di sejumlah komunitas tari.

Hal tersebut berlanjut hingga Razan duduk di kelas IX SMP. Dari break-dance, dia lalu mulai banyak mempelajari disiplin tari lainnya.

"Setelah lulus SMP, saya masih punya ketertarikan menari. Namun teman-teman komunitas saya berhenti menari, jadi hanya saya lakukan di rumah,” tambahnya.

Salah satu aksi Razan ketika menari di atas pasir pantai.
Salah satu aksi Razan ketika menari di atas pasir pantai.

Setelah itu, ada panggilan terbuka dari sekolah Razan untuk menampilkan seni tari dengan format teatrikal.

Di situ Razan kali pertama bertemu Gianti Giadi, sang guru. Setelah produksi, Razan semakin intens terlibat dalam Studio Gigi Art of Dance.

"Saya sebagai murid jadi ikut workshop, kelas reguler. Hampir seminggu empat kali ke sanggar itu. Jika dibayangkan jarak rumah saya ke sanggar itu seperti Solo-Klaten. Biasanya saya naik angkutan umum, sekira 1,5 jam," bebernya.

Kendati demikian, semangat Razan cukup membara untuk melakoni kegiatan-kegiatan di studio itu.

Banyak teman baru yang ditemuinya. Ditambah pengalaman di bidang seni tari.

“Sejak awal, saya selalu ingin belajar banyak hal dan mengumpulkan pengalaman," imbuhnya.

Salah satu faktor yang meyakinkan Razan untuk menetapkan hati belajar di Jurusan Tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta juga ketika berada Gigi Art of Dance.

Dia banyak bertemu penari dan koreografer yang singgah dan mengajar di Gigi Art of Dance.

"Saya biasanya tanya ke mereka, kalau saya mau sekolah tari, baiknya ke mana. Kemudian banyak yang menyarankan di ISI Surakarta," ujarnya.

Dinamika dan lingkungan di Kota Solo juga mendukung untuk pengembangan potensi Razan.

Terbukti, setelah pindah ke Kota Solo, dia banyak bertemu seniman yang mampu memberinya banyak pelajaran. Salah satunya Melati Suryodarmo.

Sejak tahun 2018 hingga sekarang, Razan belajar bersama Melati Suryodarmo. Saat ini Razan merupakan murid dan staf paro waktu di Studio Plesungan, yang mana direkturnya merupakan Melati Suryodarmo.

Pada ruang ini, Razan mengembangkan praktik artistiknya. Tidak hanya dalam tari, namun merambah ke disiplin lainnya, seperti seni performance dan film.

Sudah banyak pameran dan festival yang diikuti Razan. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga mancanegara.

Sebut saja “MANIFESTO” Galeri Nasional (Indonesia), Stre@m: An Asian Digital Platform 2021 (Korea Selatan and Singapura).

Ada pula Thai Short Film and Video Festival (Thailand), Alcine Film Festival 52 (Spanyol), dan sebagainya.

Razan juga pernah berpartisipasi dalam karya “Opera Gandari” oleh Melati Suryodarmo, dan saat ini sedang terlibat dalam karya “Lapse”.

Selain itu, Razan mulai menciptakan karyanya sendiri. Karya-karyanya bertajuk Hidoep Baroe (2020). Berikutnya, If There Was A Chance To (2020), Fajar di Ufuk Barat (Tari,2021).

Harga Mahal yang Dibayar Murah (2022). Razan pun sedang memelajari
ramalan Jayabaya untuk penciptaan karya selanjutnya. (*/bun)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#seni tari #film #isi surakarta #menari #Razan Wirjosandjojo