RADARSOLO.COM - Meskipun tidak di Indonesia, namun tetap menggunakan hak pilihnya. Hal inilah yang dilakukan Monika Sri Yuliarti yang menjalani pesta demokrasi di luar negeri, tepatnya Korea Selatan.
Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Sebelas Maret (UNS) tersebut telah menggunakan hak suaranya pada TPS 01 KBRI, 10 Februari lalu.
Monika sendiri tinggal di daerah Sinchon, Seodaemun-gu, Seoul. Menuju lokasi pencoblosan, Monika menaiki angkutan umum yakni subway. Perlu waktu sekira 40 menit untuk sampai di lokasi pencoblosan.
"Itu cenderung terkategori sebagai dekat. Karena moda transportasinya juga lancar nyaman, jadi walaupun 40 menit tapi gak masalah. Jaraknya dibilang bisa terjangkau dengan mudah, tidak begitu jauh," bebernya kepada RadarSolo.com.
Setibanya di lokasi pencoblosan, suasana tak terlalu ramai. Lantaran, Monika beserta sang suami memilih datang di pagi hari.
Hal ini dilakukan, guna menghindari antrian mengular saat melakukan pencoblosan. Apalagi saat ini Korea Selatan memasuki musim dingin atau winter.
"Di surat undangan disebutkan pencoblosan bisa dilakukan dari jam 8-6 sore. Namun di setiap undangan, kami diberi jam rekomendasi," beber PhD student di Department of Women's Studies, Ewha Womans University, Seoul Korea Selatan
Monika disarankan datang pukul 10 pagi. Lantas dirinya mengikuti jam tersebut. Di waktu tersebut terhitung masih sangat pagi. Jika digambarkan mungkin masih seperti pukul 8 pagi di Indonesia.
"Jadi memang sampai sana sepi. Saya tidak antri. Bahkan di ruang pencoblosan itu kan ada enam bilik, ketika saya datang benar-benar tidak ada orang lain yang lagi nyoblos atau nunggu di luar," sambungnya.
Saat itu datang, dirinya beserta suami langsung daftar ulang, kemudian diberi surat suara, diminta mengecek surat suara, nyoblos, dan yang terakhir mencelupkan jari ke tinta.
"Jadi cepet banget kemarin saya pas nyoblosnya. Cuma memang sempat beberapa kali melihat story (di sosial media) teman-teman lain itu mereka sampai mengantri mengular seperti itu. Mungkin karena datangnya udah sore," jelasnya.
Di sisi lain meski baru pertama kali nyoblos di luar negeri, Monika tak merasa mendapat kendala.
Menurutnya dari awal pendaftaran pemilu 2024 hingga proses pencoblosan, dirinya selalu dibantu. Baik itu dari media sosial kedutaan atau panitia pemilu.
"Media sosial kedutaan itu sering banget (mengungah) konten imbauan untuk nyoblos. Bahkan ketika masih dalam masa pendaftaran pemilu mereka gencar sekali kontennya. Isinya mengimbau warga Indonesia (yang berada di Korea Selatan) untuk memilih," jelasnya.
Selain itu dipermudah dengan adanya student asal Indonesia di Korea Selatan yang berpartisipasi sebagai panitia. Kebetulan, banyak teman-teman sekampus Monika yang terlibat secara aktif.
"Jadi sangat membantu, sangat merangkul mahasiswa-mahasiwa Indonesia yang lain. Contohnya, saya kan di Ehwa, kami (mahasiswa) punya grup di Kakaotalk," ujarnya
"Di grup itu, mereka gencar banget untuk ngajakin kita semua. Ayo daftar, jangan lupa cek, ini linknya. Terus kalau ada permasalahan (contoh) sudah daftar tapi belum ada list. Mereka itu mau membantu. jadi istilahnya kami tidak dilepas di sini. Walau jauh dari Indonesia tetap ada yang bantu untuk kami menggunakan hak pilih," tambahnya.
Disinggung soal perbedaan pencoblosan di Indonesia dan luar negeri, Monika mengatakan di luar negeri tidak ada baliho-baliho yang ada di jalan-jalan.
"Satu satunya sumber informasi untuk mengetahui kandidat dan sebagainya hanya melalui media. Karena kandidatnya kan tidak ada yang kampanye langsung ke sini," tambahnya.
Melalui media itu juga, Monika bisa leluasa memilih sendiri mana yang mau dia cari. Mulai dari kandidat yang mana, informasi apa, dan sebagainya. Istilahnya lebih tenang pemilu di luar negeri. (nis/dam)
Editor : Damianus Bram