Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Rafif Aswidar Samudra, Mengolah Limbah Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi: Dulu Hanya Dibuang ke Sungai, Kini Menjadi Ladang Bisnis Baru

Antonius Christian • Senin, 19 Februari 2024 | 04:12 WIB
UNIK DAN MENARIK: Rafif memperlihatkan lilin aroma terapi dengan wadah cantik dari bambu.
UNIK DAN MENARIK: Rafif memperlihatkan lilin aroma terapi dengan wadah cantik dari bambu.

RADARSOLO.COM - Berawal dari ingin menuntaskan limbah di desa, bisa menghasilkan cuan.

Ya, inilah yang dilakukan sejumlah mahasiswa ini. Di mana mereka membuat lilin aroma terapi dari bahan limbah minyak jelantah. 

 

Beragam lilin warna-warni dengan aneka aroma dipamerkan di kawasan Ngarsopuro.

Lilin-lilin itu ditaruh dicetakan bamboo, sehingga ketika dinyalakan aman. Tidak tumpah ke sekitarnya.

Ya, lilin-linin ini merupkan karya dari Rafif Aswidar Samudra dan rekan-rekannya.

Ide membuat lilin ini muncul saat dia bersama anggota kelompoknya melaksanakan program kuliah kerja nyata (KKN) dari kampusnya di Desa Pereng, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar.

"Pada saat itu, kami mengenalkan produk kerajinan yang bersumber dari minyak jelantah. Di mana di Desa Pereng ini terdapat beberapa rumah produksi kerupuk. Sehingga banyak menghasilkan minyak jelantah yang banyak," kata mahasiswa Universitas Sebelas Maret ini.

Biasanya, oleh warga desa, minyak jelantah ini digunakan terus untuk produksi, lalu dijual kembali menjadi minyak curah, atau dibuang ke aliran sungai.

Tentu hal-hal ini dirasa Rafif dan kawan-kawannya tidak tepat karena bisa mencemari lingkungan.

"Kalau digunakan kembali, untuk kesehatan juga tidak baik, kalau dibuang ke aliran sungai, menjadi limbah," ujarnya.

Akhirnya Rafif dan rekan-rekannya berpikir keras bagaimana caranya agar limbah jelantah ini bisa menjadi produk dan menghasilkan. Baik dari segi kualitas, maupun ekonominya jelantah ini bisa terangkat.

Sebenarnya, dari minyak jelantah ini bisa disulap menjadi lilin ataupun sabun. Namun, Rafif memilih mengubah jelantah ini menjadi lilin karena dinilai lebih estetis.

Nah, untuk menunjang nilai estetis dari lilin ini sendiri, wadah yang digunakan adalah bambu.

"Karena di Desa Pereng ini juga banyak bambu juga, sehingga selain berfungsi untuk aroma terapi, juga bisa sebagai hiasan di rumah juga," katanya. 

Untuk proses pembuatannya, awalnya jelantah disaring menggunakan arang selama semalaman.

Setelah jernih, minyak dipanaskan dan ditambahkan bahan kimia stearic acid. Setelah itu diberi pewarna serta parfum aroma therapi. Untuk variannya ada kopi greentea, vanila dan lain sebagainya.

Mulai pembuatan hingga menjadi lilin set membutuhkan waktu dua jam. Ada dua ukuran yang dibuat, yakni ukuran tinggi 10 cm dengan harga Rp 20 ribu, ada juga yang ukuran 20 cm dengan harga Rp 40 ribu.

"Untuk 1 liter minyak jelantah bisa dibuat menjadi 20 lilin kecil," ungkapnya

Penjualan produk ini sementara dilakukan ketika ada pameran seperti saat didatangi RadarSolo hari ini. Atau melalui media sosial.

"Dengan adanya pameran ini, diharapkan pesanan bisa masif. Kemudian bisa menjadi pendapatan juga," katanya

Apakah ada ide untuk mengembangkan menjadi produk lain? Rafif mengatakan, sementara masih fokus di lilin.

Mereka juga selalu mengedukasi masyarakat agar minyak jelantah ini tidak digunakan dan dibuang sembarangan.

“Kampanye kami agar tidak lagi menggunakan minyak jelantah untuk proses masak, atau dibuang sembarangan, namun bisa dimanfaatkan sebagai produk yang miliki nilai jual tinggi," ujar dia. (atn/bun)

Editor : Damianus Bram
#lilin aroma terapi #uns #limbah #minyak jelantah