RADARSOLO.COM - Performance art oleh Choiri menghiasi Taman Budaya Jawa Tengah, 19 Februari lalu.
Karya tersebut berjudul Brangus. Rangkaian dari pameran seni rupa Arus Terowongan, Kelompok Bumi Manusia selama lima hari, Senin-Jumat (19-23/2).
Sejumlah kertas kosong diambil oleh Choiri, sore itu. Di tangannya juga menggenggam spidol berwarna merah berserta lem.
Setelah itu, Choiri masuk ke area yang sudah taburi tanah, tepat di tengah-tengah galeri.
Dengan kertas dan spidol tersebut, Choiri mulai menulisi satu per satu kasus. Menurutnya, kasus tersebut terjadi di rezim yang tidak pernah terselesaikan.
Setelah itu kertas tersebut dilem dan ditempelkan di badannya.
Choiri tak bisa menjangkau atau menempelkan kertas di seluruh tubuhnya. Terutama di punggung. Sehingga dia berteriak ke penonton. Isyarat meminta tolong.
“Penonton semua. Publik. Silakan. Anda pasti tahu. Anda juga masyarakat yang cerdas. Anda juga terlibat. Mengalaminya pasti. Tolong Anda tuliskan kasus apa?” teriak Choiri lantang.
Choiri mulai berputar menghampiri penonton yang menyaksikan live performance. Sembari memberikan kertas-kertas kosong, agar ditulis audience. “Saya kasih lem. Tempel sendiri. Sampai banyak tulisannya,” koarnya lagi.
Kemudian Choiri kembali ke tempat semula. Lalu mengambil cat merah. Dilumurkan ke patung warna putih. Patung tersebut simbol rakyat yang putih dan bersih. Tidak punya kesalahan.
“Ini simbol fakta. Ini rakyat. Darah berceceran di tubuh rakyat yang tidak bersalah. Berdarah-darah. Mungkin ada yang meninggal. Tidak tahu kemana arahnya,” beber Choiri.
Setelah itu Choiri mengambil patung yang diberi pelepah pisang. Sebelum itu, dia sempat melakban mulutnya.
“Ini simbol pembungkaman seorang seniman. Tidak bisa ngomong. Ini simbol pembrangusan,” paparnya.
Di sudut lain, juga ada patung yang bergelantungan. Ada yang terbalik, ada yang terbungkam, dan sebagainya. Patung-patung tersebut digambarkan sebagai sosok rakyat.
“Ini rakyat yang tersakiti. Terdzolimi dengan berbagai aksi dan ekspresi,” ujarnya.
Ya, karya-karya dalam pameran seni rupa Arus Terowongan, ini menggambarkan kritikan para seniman kepada pemerintah.
Selama lima hari pameran, menampilkan atraksi 12 seniman dari berbagai penjuru tanah air. Mulai dari Jogjakarta, Jakarta, Sukabumi, Tangerang, Maluku, Bali, termasuk Kota Solo.
Pameran juga diselingi pertunjukan tari, musik, teater, wayang, diskusi seni, dan sebagainya.
“Memang karyanya harus kritikan. Kalau tidak mengkritik jangan masuk sini,” tegasnya. (nis/fer)
Editor : Damianus Bram