RADARSOLO.COM--Masih banyak anak-anak yang belum faimiler atau bahkan takut ketika menghadapi hewan berbahaya seperti ular dan sejenisnya. Nah, Komunitas Musang Solo (Muslo) dan beberapa komunitas pecinta hewan lainnya ini rela blusukan ke sekolah-sekolah untuk memberi edukasi.
Terbentuk sejak 10 tahun lalu, Muslo rutin menjalin silaturahmi antaranggota dan sesama kelompok penyayang binatang lainnya yang biasa berkumpul tiap Minggu pagi di car free day Jalan Slamet Riyadi. Dari sana Muslo dan sejumlah komunitas penyayang binatang lainnya makin intens berkomunikasi.
Ternyata, masing-masing komunitas ini memiliki visi-misi yang serupa yakni pengin mengedukasi masyarakat dan mengenalkan hewan-hewan yang dianggap menakutkan itu agar lebih familier bagi masyarakat.
“Di CFD itu kami berkumpul dan ketemu komunitas lainnya, sekaligus bisa bertemu masyarakat dan mengenalkan berbagai satwa yang saya dan teman-teman pelihara. Jadi ini lho yang namanya hewan ini, ternyata tidak menakutkan kan?,” kata Goen Sugiyanto, pengurus Muslo saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Solo, Selasa (12/3).
Aktivitas setiap minggu pagi itu akhirnya membuat Muslo dan komunitas sejenis makin dikenal masyarakat. Hingga akhirnya ada salah satu sekolah yang meminta mereka untuk memberikan edukasi kepada siswa pada jam pelajaran tertentu.
Kebetulan pihak sekolah ada jam pelajaran khusus untuk pengenalan hewan. Muslo pun diajak untuk terlibat dalam kegiatan tersebut. Dari sana Muslo dan komunitas lainnya mulai rutin memberikan edukasi dari sekolah satu ke sekolah lainnya.
“Ini sudah berjalan lima tahun. Pertama memberikan edukasi itu masih dari Muslo saja, tapi lama kelamaan kami mulai mengajak komunitas lain untuk sama-sama ikut kegiatan ini,” terang dia.
Kali pertama memberikan edukasi di sekolah, personelnya masih terbatas. Begitu pula jenis hewan yang dibawa. Dari awalnya delapan jenis hewan kini sudah mulai beragam. Sebab, mereka juga didukung dari berbagai komunitas lain di Solo.
“Awalnya itu ya agak sedikit kesulitan berinteraksi, apalagi kalau muridnya takut. Setelah diedukasi akhirnya interaksinya jauh lebih baik. Anak-anak sekolah ini tidak ragu untuk bertanya, berinteraksi dengan hewan yang selama ini dianggap menakutkan seperti ular,” papar Goen.
Sampai saat ini, Muslo dan komunitas lain telah mengedukasi ratusan sekolah baik di Solo maupun kabupaten sekitar. Bahkan sebulan bisa sampai 15-20 kali kunjungan.
Goen tidak pernah mewajibkan kawan-kawannya untuk terus terlibat. Mengingat masing-masing memiliki kesibukan masing-masing.
“Biasanya kami ini bergantian karena juga punya kesibukan masing-masing. Karena kami ada juga yang bekerja, berdagang, dan lainnya. Minimal kalau tidak ikut hewannya masih bisa dibawa untuk edukasi,” terang dia.
Meski aktivitas tersebut tidak berorientasi profit, Muslo dan komunitas lainnya itu tetap semangat dalam mengikuti kegiatan. Bahkan tak jarang para anggota sampai harus mengambil cuti atau izin kerja agar bisa ikut a dalam giat edukasi di sekolah-sekolah itu.
Bagi pecinta satwa seperti mereka, mengedukasi anak-anak usia dini itu memiliki nilai kepuasan tersendiri. Mereka berharap edukasi ini bisa membawa perubahan perilaku pada generasi muda agar lebih peduli pada binatang di sekitar mereka.
“Harapan kami saat mereka dewasa nanti tidak takut dengan hewan liar, atau tidak asal bunuh saat mendapati hewan liar di sekitar mereka,” ujar dia.
Editor : Kabun Triyatno