Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kisah Istiqomah Yuri Meilani, Gagal Masuk PTN Malah Sukses Gondol Gelar Sarjana dari Universitas di Korea

Fauziah Akmal • Kamis, 14 Maret 2024 | 04:02 WIB
Istiqomah Yuri Meilani usai diwisuda di Dong-A University Korea Selatan
Istiqomah Yuri Meilani usai diwisuda di Dong-A University Korea Selatan

RADARSOLO.COM--Garis perjalanan hidup manusia hanya Tuhan yang tahu. Istiqomah Yuri Meilani sempat galau ketika gagal masuk perguruan tinggi negeri impiannya. Namun, dari kegagalan inilah dia justru mendapat jalan kuliah di luar negeri.

Iisti—panggilan akrab Istiqomah Yuri Meilani—masih ingat ketika dia gagal masuk perguruan tinggi negeri (PTN) di Solo dia hanya diberi satu pilihan oleh orang tuanya. Yakni, tetap kuliah di Kota Bengawan. Akhirnya setelah mencari referensi dia pun mendaftar di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

 

"Saya coba lihat semua jurusan saya cek satu-satu, unit kegiatan mahasiswa juga saya cek satu per satu. Karena saya masih mencoba mencari kesempatan lainnya yang bisa saya dapat dari kuliah. Saya merasa perlu dapat pengalaman lain biar waktu lulus ijazah dan curriculum vitae (CV) saya bisa di-compare dengan orang lain," kata mahasiswa asal Laweyan, Solo, ini.

 

Sebelum ujian pendaftaran mahasiswa baru di UMS pada 2018 silam, Isti mengatakan sempat iseng membaca brosur di papan pengumuman. Isti melihat kolom paling bawah ada program international dan double degree. 

 

"Saya cek program, biaya, dan lain-lain. Kemudian telepon orang tua, karena saat itu mereka bekerja dan tidak bisa menemani pendaftaran," ujar Isti. 

 

Isti mengatakan, orang tuanya sempat tidak setuju. Sebab harus berpisah jauh dengan anaknya. Tetapi Isti terus meyakinkan orang tuanya.

 

"Saya bilang sepertinya ini kesempatan bagus. Misal nanti punya international experience di CV ku nanti aku mau masuk di perusahaan besar. Akhirnya orang tua mengizinkan," paparnya.

 

Isti menjalani studi di program studi ilmu komunikasi di kelas internasional UMS selama dua tahun. Sembari mencari informasi kampus untuk program double degree. Pilihannya Australia, Taiwan, dan Korea Selatan.

 

"Awalnya, saya menginginkan Australia untuk memperdalam kemampuan berbahasa Inggris. Kalau di Taiwan atau Korea terlalu susah bahasa mereka dan nggak ada ketertarikan juga," kata Isti.

 

Namun, Australia belum ada perpanjangan kontrak kerja sama dengan UMS. Selain itu, untuk program studi komunikasi yang tersedia kerja sama hanya dengan Dong-A University Korea Selatan. Pada September 2020, akhirnya Isti berangkat ke Korea Selatan dan belajar bahasa setempat selama 1,5 tahun.

 

"Kampus memberikan fasilitas kelas bahasa Korea dengan orang Korea asli. Setelah satu tahun belajar bahasa, saya mengikuti ujian. Tetapi nilai ujian belum bisa untuk masuk kampus. Pilihannya pindah kampus, diperpanjang 6 bulan, atau kembali ke Indonesia. Akhirnya saya perpanjang 6 bulan biar level bahasa Korea saya meningkat dan berhasil kuliah di Dong-A University," imbuhnya.

 

Isti mengatakan, kampusnya menanggung biaya pendidikan di Dong-A University sebanyak 50 persen dan dibantu juga dalam mengurus visa pelajar Korea Selatan. Kemampuan bahasa dia meningkat pesat ketika di kampus. Sebab setiap hari mendengar penutur Korea.

 

Tahun pertama kuliah, dia merasa bingung dan gagap terhadap budaya lokal. Memasuki tahun kedua, hampir seratus persen penyampaian materi dari dosen dapat dia pahami.

 

"Terus dapat pengetahuan tentang budaya dan sejarah Korea dari penduduknya langsung. Mendapat insight baru, bisa eksplor banyak hal di luar kampus dengan ikut organisasi dan lomba," ujarnya dengan bangga.

 

Kegembiraannya ketika bertemu dengan teman-teman asing dari berbagai penjuru dunia. Sebagai perantau yang jauh dari orang tua dan harus melewati perjuangan untuk kuliah di negeri asing, membuat Isti bertahan di Korea.

 

Selain itu, fokus pembelajaran hingga kebiasaan orang Korea sangat berbeda 180 derajat dengan orang Indonesia. Kondisi ini membutuhkan adaptasi.

 

"Di sini pembelajaran sepenuhnya menggunakan bahasa Korea. Jadi setelah kelas harus di review lagi. Semua materi dalam power point diterjemahkan ke bahasa Indonesia atau Inggris. Biar bisa mengikuti pembelajaran," katanya.

 

Selama menjalani kuliah di sana dia mendapat pelajaran tentang disiplin tinggi. Kultur inilah yang membedakan dengan mahasiswa di Indonesia.

 

“Kalau ada yang terlambat dua menit saja sudah dikurangi nilainya. Dan teman-teman ingin menyelesaikan tugas kurang dari satu minggu meski batas pengumpulan tugas masih satu bulan,” ungkapnya.

 

Isti memberikan beberapa tips bagi yang ingin mengikuti jejaknya dalam mengikuti program double degree di Dong-A University. Dari pengalaman dia, yang kebanyakan mahasiswa lain berfokus untuk mencari penghasilan sampingan, dia berpesan untuk tetap fokus kepada tujuan utama yaitu menempuh pendidikan.

 

“Menurut aku jangan fokus ke hal lain. Fokuslah sebagai pelajar karena niat utamanya untuk belajar,” kata Isti. 

 

Setelah lulus dari Dong-A University, Isti memiliki rencana untuk membangun karier di Korea Selatan. Isti ingin berkiprah di bidang media hiburan Korea, komunikasi pemasaran, dan interpreter bahasa. (*/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#korea selatan #UMS #ptn #Kultur