RADARSOLO.COM – Tak banyak orang yang menguasai beberapa bahasa asing sekaligus. Nah, Ratih Ayu Puspitasari salah satunya. Mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini bahkan mampu menguasai 11 bahasa asing secara otodidak dan empat bahasa daerah.
Baru-baru ini Ratih meraih medali dalam kompetisi sepuluh bahasa. Kemampuan dia menguasai berbagai bahasa asing ini tak lepas dari kebiasaan dia sejak kecil.
Sang ayah kerap membelikan Ratih buku-buku cerita saat dia masih anak-kanak. Bahkan, Ratih memiliki kemampuan membaca sudah sejak usia 3 tahun.
Saat di bangku sekolah dasar (SD), anak bungsu perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara itu telah menjadi langganan menjadi presenter cilik dalam berbagai kegiatan di sekolah.
Dalam berbagai mata pelajaran bahasa, Ratih bisa menangkap dan menghafalkan materi bahasa yang diajarkan guru dengan lebih cepat dibandingkan teman-temannya.
Maka tak heran, Ratih sering kali ditunjuk guru untuk mengikuti lomba pidato. Salah satunya, ketika duduk di bangku madrasah tsanawiyah (MTs) Ratih pernah menjadi juara umum dalam pidato lima bahasa dalam rangka memperingati bulan bahasa. Yakni, bahasa Inggris, Arab, Indonesia, Melayu, dan Jawa.
Kemampuan multilingual Ratih sedikit banyak mendapat pengaruh dari kedua orang tuanya. Ayahnya berasal dari Tiongkok yang saat usia 14 tahun merantau ke Kota Singkawang, Kalimantan Barat.
Sementara ibunya, wanita asal Solo yang semasa muda merantau ke berbagai kota, salah satunya Sambas, Kalimantan Barat.
"Orang tua saya sebelum memiliki anak pernah kerja di beberapa kota dan bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Di situ, orang tua saya mengerti akan beberapa bahasa dan turun ke anak-anaknya," kata perempuan kelahiran Sambas, 5 Oktober 2004.
Cerita pengalaman orang tua Ratih ini semakin memacu dia untuk belajar banyak bahasa. Di luar bahasa Indonesia dan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu, dia mahir dalam 11 bahasa asing.
Antara lain bahasa Mandarin, Jerman, Belanda, Korea, Jepang, Prancis, Spanyol, Portugis, Inggris, Arab, dan Turki. Serta bahasa daerah, seperti Sunda, Dayak, dan Melayu.
"Saat kelas X pernah mendapat tawaran menjadi admin bahasa Jerman dalam komunitas literasi secara daring. Tapi, saya tolak karena sedang fokus ujian," ujar Ratih. (zia/bun)
Editor : Kabun Triyatno