Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Ratih Ayu, Mahasiswa ISI Surakarta Bisa Kuasai 11 Bahasa Asing, Begini Cara Belajarnya

Fauziah Akmal • Selasa, 26 Maret 2024 | 04:38 WIB
Ratih Ayu Puspitasari
Ratih Ayu Puspitasari

RADARSOLO.COM—Ratih Ayu Puspitasari, mahasiswa Program Studi Teater ISI Surakarta bisa memiliki kemampuan berbicara dalam 11 bahasa asing dan empat bahasa daerah, belajar bahasa secara otodidak.

 

Ratih memanfaatkan buku bacaan, lagu atau film, konten-konten di media sosial, dan praktik berbicara dengan orang-orang terdekat termasuk keluarga. 

 Baca Juga: Membanggakan, Mahasiswa ISI Surakarta Borong 10 Medali Kompetisi Bahasa, Dari Bahasa Mandarin, Jerman, Korea, Perancis, hingga Belanda

"Saya biasanya mendengarkan lagu, podcast, dan percakapan seperti di film maupun konten-konten video di platform digital,” ujar Ratih.

 

“Saya putar berulang kali dan saya lambatkan. Kalau sudah merasa cukup bisa menangkap apa yang didengar, saya putar lagi dalam kecepatan normal," sambung Ratih. 

 

Ratih juga memanfaatkan kelas pelatihan bahasa secara daring yang bebas biaya. Misalnya, melaui grup di sebuah aplikasi pesan, pelatih akan mengirimkan file materi pembelajaran dan penjelasan materi disampaikan dalam pesan suara. Ataupun kelas bahasa melalui aplikasi konferensi.

 Baca Juga: Ratih Ayu Puspitasari, Mahasiswa ISI Surakarta yang Kuasai 11 Bahasa Asing dan Empat Bahasa Daerah

"Biasanya ada tugas dan praktik setelah kelas selesai. Dan dapat sertifikat sebagai apresiasi," kata Ratih.

 

Pelatihan bahasa secara daring ini dimanfaatkan Ratih untuk menanyakan kata yang sulit yang ditemukan ketika membaca buku-buku karya sastra, jurnal, dan artikel. Hal itu dilakukan apabila dia tidak menemukan arti kata tersebut setelah menelusuri internet atau membuka kamus.

 

"Saya kan, juga seorang penyair, ya. Kalau lagi nulis puisi begitu, ada yang saya buat dalam beberapa versi bahasa. Di situ saya akan terbiasa menulis kalimat-kalimat dalam bahasa yang bisa dibilang sukar cara penulisannya,” ujar Ratih.

 

“Sekaligus bisa memilih kata yang lebih spesifik. Ibaratnya seperti bahasa kita (Indonesia) yang memiliki beragam kata dengan makna yang berbeda pula," sambung Ratih.

 

Ratih kerap menulis puisi, cerita pendek, quotes, dan fabel. Tidak sedikit yang lolos tahap kurasi dan diterbitkan menjadi buku bersama penulis lain. Selain itu, banyak karya sastra ciptaan Ratih menang lomba. Terbaru, puisi berjudul Khitah Tuan Nyonya ciptaan Ratih menjadi juara 3 dalam lomba cipta puisi nasional yang diikuti 1.205 peserta, pada Januari lalu.

 

"Saya ingin dengan kemampuan di bidang bahasa ini dapat berkontribusi dalam perkembangan bahasa di Indonesia,” ujar dia.

 

Kontribusi itu seperti berpikir kritis dalam mengkaji problematika lewat beragam bahasa. Bisa mengetahui seluk beluk negara lain dengan memahami bahasa.

“Kemudian menjadikan bahasa itu sebagai salah satu jembatan saya untuk mendapatkan beasiswa atau bekerja," ucap perempuan yang bercita-cita menjadi seniman teater, penyair, dan aktivis itu.

 

Belajar bahasa menurut Ratih seperti belajar menghafalkan Alquran yang memerlukan murojaah atau mengulang kembali untuk merawat hafalan. Ratih menambahkan, kunci dalam belajar bahasa adalah percaya diri.

 

"Kalau dari saya pribadi, belajar apa pun termasuk bahasa saya sertakan dengan membangun kepercayaan diri. Karena dengan begitu akan muncul keberanian dalam mengeskplor hal baru. Ini salah satu faktor yang membuat berhasil dalam menguasai dan memahami bahasa," tutur Ratih. (zia/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#bahasa asing #isi surakarta #otodidak #mahasiswa #Ratih Ayu Puspitasari