RADARSOLO.COM- Pemudik diimbau selalu berhati-hati dalam perjalanan. Karena kecelakaan lalu lintas bisa mengintai setiap saat.
Terutama di jalur-jalur tengkorak, salah satunya ruas Tol Solo-Ngawi di segmen Sragen.
Momentum mudik Lebaran menjadi saat yang dinanti-nanti umat muslim di Indonesia.
Budaya mudik mewajibkan para perantau untuk pulang kampung.
Bersilaturahmi ke rumah orang tua maupun sanak famili. Namun, para pemudik diimbau selalu waspada dan berhati-hati. Terutama bagi pengguna Tol Trans Jawa.
Banyak cerita-cerita penuh misteri yang mengiringi berbagai kejadian kecelakaan lalu lintas di Tol Solo-Ngawi, terutama di segmen Sragen.
Tidak sedikit warga sekitar yang berspekulasi, kecelakaan di tol sering dikaitkan dengan hal-hal mistis.
Di Kabupaten Sragen, jalur tol yang dikenal angker antara Kecamatan Masaran hingga Gondang.
Tak terhitung kejadian kecelakaan yang terjadi di sana, sejak tol resmi dibuka akhir 2018 lalu.
Kecelakaan yang terjadi di sana, disebabkan berbagai faktor. Ketika pihak kepolisian mengidentifikasi dengan hal logis, umumnya disebabkan human error hingga kendaraan yang tidak laik jalan.
Di antaranya karena sopir kelelahan atau kehilangan konsentrasi. Termasuk kondisi kendaraan yang kurang baik, meliputi pecah ban hingga masalah pada sistem pengereman.
Namun dari sudut pandang warga sekitar tol di Sragen, kecelakaan tidak sekadar disebabkan hal-hal teknis. Namun juga dipengaruhi faktor nonteknis.
“Ada pemakaman warga yang letaknya tepat di samping tol. Bahkan jalan tolnya dulu sebagian mengenai makam,” kata Joko Prayitno, 46, warga Kecamatan Ngrampal.
Dia meyakini, kecelakaan yang terjadi di ruas tol antara Masaran hingga Gondang ada hubungannya dengan hal-hal mistis.
Mayoritas terjadi antara Exit Tol Pungkruk hingga Exit Tol Sragen Timur. Mengingat posisi jalan tol sedikit menikung dan agak menanjak (dari arah Solo).
Menurut keterangan salah seorang ketua RT di Desa/Kecamatan Sidoharjo, Sragen A. Nugroho, kawasan di sekitar Exit Tol Pungkruk dinilai cukup angker.
Menurut cerita yang beredar, kawasan tersebut menjadi tempat eksekusi bagi anggota PKI pada masa revolusi kemerdekaan.
“Di sekitar Exit Tol Pungkruk itu, dulu dipakai untuk membantai anggota PKI. Pernah ada supir truk yang melintas di sana, tiba-tiba mendengar namanya dipanggil. Padahal tidak ada orang sama sekali,” beber Nugroho.
Pemerhati budaya asal Sragen Agus Endarto menjabarkan, di beberapa titik di ruas tol terkenal angker. Tak hanya titik yang sebagian di bangun di atas pemakaman.
Di luar itu, konon jalur tol ini ada yang di bangun di atas situs era kerajaan Hindu-Budha hingga Mataram Islam.
Agus mencontohkan kawasan Desa Bandung, Kebonromo, Toyogo, hingga Gringging, Kecamatan Ngrampal.
Diindikasikan merupakan bekas situs jejak masa lampau. Semacam perkampungan zaman dulu, sehingga ada energi kuat di sana.
“Bisa jadi, zaman dulu di sana memang digunakan untuk permukiman. Dan sekarang sekarang secara fisik sudah menjadi jalan tol. Sehingga ada yang lain atau aura kuat yang masih mengisi wilayah itu,” paparnya.
Paling gres, kecelakan menewaskan warga negara asing (WNA) asal Jepang di ruas tol Desa Singopadu, Kecamatan Sidoharjo, awal Ramadan lalu. Lokasinya tak jauh dari pemakaman warga.
Saat dikonfirmasi, Kasatlantas Polres Sragen AKP Mustakim enggan mengaitkan kasus ini dengan hal-hal berbau mistis.
“Kejadian terakhir itu lokasinya di sebelah makam. Tapi kami tidak mengaitkan dengan hal semacam itu. Kami menilai dari faktor cuaca, sarana-prasarana jalan, kendaraan, hingga manusianya. Termasuk penerangan jalan,” urainya.
Soal kecelakaan yang menewaskan WNA asal Jepang, menurut Mustakim karena mobil oleng dan menabrak pembatas jalan.
Dia mengimbau pengguna jalan tol untuk berdoa sebelum dan setelah berkendara.
“Selalu mengecek kondisi kesehatan agar tidak kelelahan. Kemudian memeriksa kesiapan kendaraan seperti sistem pengereman, lampu, dan sebagainya sebelum bepergian,” pesannya. (din/fer)
Editor : Tri Wahyu Cahyono