RADARSOLO.COM - Masyarakat kita sangat kental dengan fenomena-fenomena mistis, salah satunya adalah kesurupan.
Ternyata fenomena ini bukan hanya bisa dijelaskan dari sisi spiritual, namun juga bisa dijelaskan secara medis.
Di mana kerasukan ini erat hubunganya dengan gangguan kejiwaan.
Salah seorang Psikiater Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Dr Arif Zainuddin Surakarta Adriesti Herdaetha mengatakan dalam ilmu kejiwaan kesurupan ini sering disebut dengan istilah histeria.
"Kami tahu dalam masyarakat di Indonesia masih kental dengan unsur budaya yang tak bisa diubah. Ada beberapa kondisi-kondisi psikiatri dan fenomena yang erat berkaitan dengan budaya, sehingga sulit dijelaskan," paparnya.
Lebih lanjut Adriesti mengatakan gangguan ini disebut dengan Amok, yakni gejala hilangnya kesadaran karena gejala psikotik yang amat berkaitan dengan budaya.
Beberapa orang menyebut Amok sebagai kondisi serupa depresi yang menyebabkan ingin melukai atau bahkan membunuh orang lain.
Gangguan ini terlihat sebagai perilaku gelap mata, menyerang dengan membabi buta. Ada juga yang mengartikan amok sebagai serangan kegugupan mendadak yang mendorong perilaku agresif secara gila-gilaan.
Ada pula yang hanya sebatas menangis tiba-tiba, menjerit, serta merubah-rubah suara.
"Tidak hanya amok. Ilmu kebal, kemudian ada yang tiba-tiba bisa makan beling, Ini yang kita sebut gangguan psikiatri yang amat terkait dengan budaya," terang Adriesti
Lalu bagaimana hal tersebut bisa terjadi secara massal? Adriesti menuturkan hal ini terjadi bila orang di sekelilingnya juga dalam kondisi yang mentalnya lemah, sehingga mudah tersugesti.
"Sehingga tertular. Makanya sebaiknya apabila ada yang kesurupan, sebaiknya dipisahkan dengan kerumunan. Mencegah ada yang kondisinya mentalnya lemah ikut tertular," paparnya.
Wanita yang juga menjabat sebagai kepala Instalasi Rawat Inap RSJD DR Arif Zainuddin Surakarta ini menjelaskan, pada dasarnya manusia memiliki kondisi tak sadar.
Di mana pada kondisi ini, manusia bisa mengalami perubahan perilaku, perasaan, bahkan kepribadian. Hal ini terjadi karena dua faktor, yakni biologis maupun psikodinamika. Secara psikologis dia disebut dalam kondisi konversi atau histeria.
"Bila secara biologis, ada sesuatu yang terjadi secara mendadak yang menyebabkan perubahan pada neurotransmiter otak. Karena perilaku kita itu diatur oleh neurotransmitter, jadi semacam alat pada otak kita. Jadi ada hal yang mengganggu sistem kerja neurotransmitter kita," papar Adriesti.
Untuk penanganannya sendiri, mereka hanya butuh ditenangkan oleh orang-orang yang berada disekitarnya. Dengan begitu kondisi ini akan membaik dan dia akan sembuh dari gangguan tersebut.
Lebih lanjut, dalam dunia kejiwaan fenomena amok ini hanya terjadi sekejap. Bukan kondisi berulang. Apabila kejadian tersebut berulang bukan lagi kesurupan, namun sudah masuk dalam kondisi gangguan jiwa.
"Sehingga butuh asesmen khusus untuk mengetahui penyebabnya serta penanggulanganya," jelasnya. (atn/nik)
Editor : Damianus Bram