RADARSOLO.COM -- Kegigihan pasangan suami istri (pasutri) Santo Setiawan dan Diana Puspitasari ini dalam kegiatan sosial sangat menginsprasi. Keduanya yang terlahir tidak bisa melihat ini gigih menjadi guru mengaji bagi para penyandang tunanetra. Seperti apa perjuangan dia?
Lantunan ayat suci Alquran terdengar jelas dari luar ketika Radarsolo.com ini mendatangi sebuah rumah yang berada di Perum Graha Harmoni 3 No. B12, Desa Bulakrejo, Kecamatan Sukoharjo. Di bagian depan rumah, terpampang papan nama Yayasan Insan Menjemput Terang.
Ternyata suara merdu lantunan ayat suci Alquran ini dibacakan Setiawan dan Diana yang sedang mengaji bersama, mengisi waktu dipagi hari. Biasanya selain mereka berdua, terdapat sejumlah anak-anak tunanetra yang ikut mengaji di tempat tersebut. Namun karena masih suasana Lebaran, kegiatan mengaji masih diliburkan.
Baca Juga: Inspirasi Generasi Penerus: Pengusaha Muda Sukses Bangun Studio Foto Terbesar di Klaten
Alquran yang pasutri ini gunakan untuk mengaji merupakan Alquran braille. Setiawan mengatakan mulai menjadi guru mengaji bagi anak-anak tuna netra setelah memeluk agama Islam.
"Jadi saya ini mualaf, masuk agama Islam pada 2018. Setelah itu, saya berdoa kepada Allah, minta (dijodohkan) guru ngaji. Nah, akhirnya ketemu istri saya ini,” ujar dia.
“Jadi istri saya ini dulu guru ngaji saya. Terus kami nikah 2019. Ditarget 2021 harus bisa ngaji, kemudian akhir 2021 membentuk yayasan ini," sambung Setiawan.
Setiawan memilih menjadi guru mengaji bagi tunantera, karena dari pengalama pribadinya, tidak banyak orang yang mau membimbing anak-anak tunanetra mengaji. Memiliki nasib yang sama, akhirnya dia tergerak untuk itu.
"Saya ingin teman-teman tunanetra ini mentalnya kuat. Makanya harus didasari dengan pondasi yang kuat dulu. Nah, pondasi yang kuat itu apa, tentu agama," tuturnya.
Awalnya, dia belum memiliki niatan untuk membuat yayasan seperti ini. Semua berawal dari oborolan dia bersama temannya untuk membuat wadah bagi teman-teman tunanetra yang belum bisa mengaji dan belum terwadahi.
"Akhirnya kami coba, ternyata banyak yang minat. Mulai dari situ, kami mulai mewadahi mereka," jelas Setiawan.
Setiawan mengatakan, gerakannya ini amaliah, dalam arti tidak ada honor dan tidak ada penarikan dana kepada para peserta didik. Hal ini dilakukan semata-mata untuk ladang pahala.
Karena muridnya semakin banyak, akhirnya barulah disepakati bila gerakan ini diubah sebagai yayasan. Selain baca tulis Alquran sebagai program utama, ada pula kegiatan lain, seperti kelas komputer.
"Supaya teman-teman ini selain mendapat ilmu agama juga belajar ilmu keterampilan yang lain," tutur dia.
Untuk murid mengaji ada yang berasal dari Solo Raya, Pati, Purbalingga, Jogjakarta dan kota lainnya. Selain di Sukoharjo, untuk lokasi belajar mengaji juga ada di Pati dan Boyolali.
"Total ada 20 murid. Ada yang mahasiswa, ada yang masih pelajar,” ujar dia.
Dia menambahkan, untuk huruf Hijaiyah pada tulisan braille mengunakan huruf latin. Tetapi ada beberapa yang dibedakan, ada tanda khusus yang dibubuhkan.
"Untuk alat kami alhamdulilah sudah punya sendiri. Jadi selain membaca, anak-anak kami ajarkan menulis ayat suci (Alquran) juga," katanya.
Ke depan, Setiawan berharap kegiatan ini bisa menjadi lembaga yang lebih besar lagi. Bahkan dia bermimpi memiliki sekolah berbasis Islam di Solo yang dapat menampung anak-anak tunanetra.
"Bisa jadi motivasi juga untuk teman-teman tunanetra juga, bahwa kita harus mengutaman agama, sebelum melangkah hal lain, bisa jadi sesuatu," tuturnya.
Setiawan berprinsip bahwa manusia harus berusaha. Bila manusia memiliki niatan baik pastik Tuhan akan membantunya.
“Seperti kegiatan ini, kami tidak pernah menariki uang, atau meminta bantuan kepada siapapun. Namun Allah bekerja, menggerakan hati donatur untuk mengulurkan bantuan, di mana uangnya kami gunakan untuk operasional," ujar Setiawan. (atn/bun)
Editor : Kabun Triyatno