RADARSOLO.COM -- Kampanye ramah anak terus dilakukan Forum Anak Kota Solo. Termasuk paparan dari asap rokok. Nah, menyambut Hari tanpa Tembakau Sedunia, mereka berkolaborasi dengan mahasiswa asing melakukan aksi sosial.
Belasan anak remaja tampak membawa kantong plastik sambil memunguti puntung rokok yang berserakan di sekitar Taman Cerdas Joyotakan. Yang menarik, di antara mereka ada beberapa mahasiswa asing ikut dalam aksi tersebut.
Ya, aksi sosial ini selain diikuti Komunitas Pemuda Penggerak bersama Forum Anak Kota Solo, juga bergabung sejumlah mahasiswa asing dari University College London (UCL).
“Saya sangat antusias dengan kegiatan kemarin. Kalau kami sudah sering melakukan ini. Tapi bagi mahasiswa asing baru kali ini. Jadi pengalaman yang sangat spesial buat mereka,” kata Galuh Nawangpuspita, 15, salah seorang anggota Forum Anak Kota Solo.
Siswa kelas X SMKN 4 Solo ini mengaku senang bisa mendapat kesempatan untuk berkegiatan bersama para mahasiswa asing ini. Sebab itu, dia memaksimalkan kegiatan selama 90 menit yang dilakukan di Taman Cerdas Joyotakan dan Taman Cerdas Jebres itu untuk berinteraksi.
Bahkan Galuh mengaku mendapatkan kesempatan untuk mengasah kemampuan bahasa asingnya saat berinteraksi dengan mahasiswa dari London itu.
“Baru kali pertama interaksi dengan mahasiswa asing. Kami bisa sharing soal forum anak, aktivitas kami, sampai situasi perokok di dua lokasi taman cerdas itu,” terang warga Pasar Kliwon itu.
Dalam kesempatan itu, para mahasiswa asing itu diajak untuk menengok situasi taman cerdas. Mereka juga diajak untuk terjun langsung dalam memungut sampah di taman cerdas, khususnya sampah puntung rokok yang masih banyak ditemukan di kedua taman cerdas itu. Menariknya, para mahasiswa asing itu bahkan tidak ragu untuk terlibat langsung di aksi kala itu.
“Teman-teman mahasiswa asing itu sepertinya juga tertarik dengan kegiatan ini karena di sana juga banyak perokok,” ujar Galuh.
Salah satu perwakilan mahasiswa asing dari UCL, Dongha mengaku terkesan dengan upaya yang dilakukan para pemuda di Kota Solo dalam kampanye bebas rokok tersebut. Semangat mereka untuk menegakkan aturan bebas rokok khususnya di lokasi-lokasi yang memang dilarang merokok menjadi motivasi bagi dia untuk berhenti merokok.
“Saya pernah jadi perokok aktif, saya berhenti karena ada keluarga yang sakit. Saya terpukau dengan anak-anak di Solo,” kata dia.
Mahasiswa asal Beijing, Tiongkok yang sudah sejak lama tinggal dan sekolah di London ini menilai upaya yang dikerjakan anak muda di Solo perlu juga diterapkan di sekitar tempat tinggalnya. Apalagi selama ini kondisinya tidak jauh beda karena masih banyak orang merokok bebas di berbagai tempat. (*/bun)
Editor : Kabun Triyatno