RADARSOLO.COM - Tari klasik Srimpi Sangupati dimainkan oleh sejumlah penari perempuan di Bangsal Smarakarta Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Senin malam (29/4/2024).
Tarian ini dibawakan dalam agenda Karaton Art Festival 2024. Tarian ini ciptaan ISKS Paku Buwana IX, sebagai simbol perlawanan terhadap pemerintahan Hindia Belanda.
Satu meja kecil beralaskan kain warna merah, diletakkan di tengah-tengah Bangsal Smarakarta Karaton Surakarta.
Di atasnya sudah ada dua gelas kecil beserta botolnya. Meja tersebut sudah disiapkan sebelum para penari datang.
Tak lama, merdunya suara sinden beserta gendhing Jawa mulai terdengar. Satu per satu penari melangkahkan kaki secara perlahan, masuk ke Bangsal Smarakarta Keraton Kasunanan. Mereka tampak anggun menggenakan pakaian berwarna merah.
Tiba di tengah bangsal, mereka mulai duduk seolah sedang melalukan penghormatan.
Kemudian dengan anggun mereka melenggak-lenggokkan tubuh sesuai irama gamelan. Memamerkan keelokan gerakan demi gerakan.
Setelah itu, meja yang tersedia dikelilingi empat penari. Masing-masing mengambil gelas dan botol. Menggerakkan tubuhnya bak menuangkan isi botol ke dalam gelas.
Beberapa saat kemudian meminumnya, lalu kembali menari. Inilah sekelumit gambaran tari klasik Srimpi Sangupati.
Tarian Srimpi Sangupati ini merupakan karya ISKS Paku Buwana IX. Memerintah Keraton Kasunanan pada 1788-1820. Ada makna tersendiri di balik penamaan tarian tersebut.
“Ketika ISKS Paku Buwana IX memerintah Keraton Kasunanan, beliau berkenan mengubah nama Sang Apati menjadi Srimpi Sangupati,” jelas pembawa acara agenda Karaton Art Festival 2024.
Ceritanya, pemerintahan Hindia Belanda dulu memaksa ISKS Paku Buwana IX agar mau menyerahkan tanah di pesisir pulau Jawa.
“Saat perundingan masalah tersebut, ISKS Paku Buwana IX menjamu para tamu Belanda dengan tari Srimpi Sangupati ini,” imbuhnya.
Sejatinya, tari Srimpi Sangupati bukan hiburan semata. Tarian ini sengaja disajikan untuk menghabisi perwakilan Hindia Belanda dalam perjamuan tersebut.
“Penarinya kan memakai properti pistol. Saat itu pistol-pistol yang dibawa penari itu sungguhan. Sudah didisi dengan peluru. Ini persiapan, seandainya perundingan gagal, para penari ini siap mengorbankan jiwanya,” bebernya.
Setelah ISKS Paku Buwana IX meninggal pada 1893 di usia 64 tahun, beliau digantikan oleh putranya ISKS Paku Buwana X.
Atas kehendak ISKS Paku Buwsna X, tarian Srimpi Sangupati dikembalikan lagi namanya jadi Srimpi Sangapati.
Tujuan pengembalian nama ini, agar semua hasil perbuatan maupun tingkah laku manusia, hendaknya selalu ditunjukan untuk menciptakan serta memelihara keselamatan maupun kesejahteraan bagi kehidupan.
“Tari Srimpi Sangapati yang sesungguhnya, sebagai gambaran keberhasilan manusia mengalahkan hawa nafsu. Berusaha selalu saling menang dan menguasai manusia itu sendiri,” bebernya. (nis/fer)
Editor : Damianus Bram