Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Lebih Dekat dengan RMTH Haryo Dananjoyo Adityo Bhawono, Asisten Pribadi Raja Mangkunegaran yang Getol Edukasi Penggunaan Bahasa Jawa lewat Musik

Silvester Kurniawan • Rabu, 12 Juni 2024 | 23:11 WIB
RMTH Haryo Dananjoyo Adityo Bhawono (paling kanan) saat mendampingi KGPAA Mangkunegara X (dua dari kanan) di acara Pura Mangkunegaran
RMTH Haryo Dananjoyo Adityo Bhawono (paling kanan) saat mendampingi KGPAA Mangkunegara X (dua dari kanan) di acara Pura Mangkunegaran

RADARSOLO.COM -- Menjalani tugas sebagai asisten pribadi KGPAA Mangkunegara X sekaligus menekuni musik menjadi tantangan tersendiri bagi RMTH Haryo Dananjoyo Adityo Bhawono. Lewat jalur ini dia memiliki misi mulia untuk melestarikan bahasa Jawa melakui musik.

Didapuk  menjadi asisten pribadi Pengageng Pura Mangkunegaran KGPAA Mangkunagara X merupakan tanggung jawab besar. Sekalipun diberikan bagi kerabat dekat sendiri.

Alasan itulah yang mendorong Raden Mas Tumenggung Haryo (RMTH) Haryo Dananjoyo Adityo Bhawono tergerak untuk terus berkarya. Bermodal kemampuan dan pengalaman bermusik, pria kelahiran Solo, 13 Januari 1982 itu berupaya mempopulerkan penggunaan bahasa Jawa lewat kaver lagu populer di kanal YouTube pribadinya.

RMTH Haryo atau akrab dipanggil Ryo
RMTH Haryo atau akrab dipanggil Ryo

“Saya sudah lama bergelut di bidang musik. Mulai belajar secara otodidak, pentas dan ikut festival dari berbagai kompetisi, bikin studio dan tempat les musik, sampai pernah coba masuk dapur rekaman walau belum berhasil,” ujar pria yang akrab disapa Ryo ini.

“Nah, setelah diminta untuk mendampingi Gusti Mangku (sebutan KGPAA Mangkunegara X) saya jadi merasa punya tanggung jawab untuk nguri-uri budaya,” kata dia ditemui Jawa Pos Radar Solo, Senin (10/6) malam.

Lahir dan besar di dalam lingkungan Pura Mangkunegaran membuat Ryo fasih dalam berbahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang dia dorong dalam semangat nguri-uri kabudayaan. Dikawinkan lewat kemampuan dalam bermusik selama sekian puluhan tahun terakhir.

Salah satu proyek yang dia garap dalam dua tahun belakangan ini adalah lewat kaver lagu populer menggunakan Bahasa Jawa seperti yang ada di channel YouTube pribadinya Ryosimase Solo.

“Kebetulan saya bisa bahasa Jawa dan bisa bermusik. Akhirnya cara saya merawat bahasa Jawa lewat cara seperti ini. Berkarya lewat musik dengan lirik bahasa Jawa. Menariknya di bagian interlud-nya saya sisipkan sanepan dan paribasan,” terang dia.

Melalui ayahnya yang masih kerabat dengan Mangkunegara IX, Ryo bersama kakak dan adik laki-lakinya mulai belajar sejumlah alat musik secara otodidak. Keinginan tersebut mendapat dukungan penuh dari sang paman yang tidak lain adalah Mangkunegaran IX.

Bahkan, grup musik keluarga yang pernah menamai diri sebagai West Gate itu pernah disuplai seperangkat alat band komplet oleh Mangkunegaran IX. Hal itu semakin menguatkan keinginan dia untuk bermusik hingga saat ini.

Baca Juga: Melirik Watu Gambir Park di Karangpandan, Karanganyar: Objek Wisata Keluarga yang Menawarkan Suasana Alam dan Penuh Wahana

“Belajarnya otodidak, kebetulan di Pura Mangkunegaran waktu itu kan ada ratiman musik rutin dan dipentaskan saat makan malam. Selain itu juga banyak konser musik yang pentas di dalam pura di waktu saya kecil itu,” beber Ryo.

Pria pemilik West Broder Music Studio itu pun mengakui bahwa dia lebih berminat dengan musik Barat ketimbang musik tradisional meskipun tinggal di dalam lingkungan adat dan tradisi Pura Mangkunegaran. Tapi semua itu bukan karena tidak mau belajar musik tradisional, namun lebih pada minat dan bakat semata.

“Beliau (Mangkunegaran IX) itu alat musiknya banyak dan komplet. Bahkan di dalam itu ada ruang musik, kami rutin bermain di sana. Saya mendengar dan melihat Gusti Mangkunegaran IX itu main. Akhirnya lama-lama makin suka dengan musik. Bahkan saya manggung pertama itu di ultah Mangkunegaran IX, waktu itu saya masih SMP,” terang dia.

Di usia yang sudah berkepala empat ini, Ryo sebetulnya sudah tidak memiliki keinginan muluk untuk menjadi pemusik profesional seperti yang dia kejar sewaktu muda dulu.

Meski demikian, dia merasa mempunyai tanggung jawab untuk bisa menuangkan ide-ide kreatif dan membagikan pengalamannya pada khalayak ramai.

Alasan inilah yang membuat West Brother tetap eksis sampai hari ini dan konsisten dengan tarif terjangkau agar anak-anak dari kelas ekonomi menengah ke bawah bisa belajar musik dengan nyaman.

“Les musik itu kan biayanya besar ya mas, makanya saya buat West Brother ini agar lebih terjangkau. Saat ini ada 250 siswa yang aktif sampai hari ini, tapi kalau bisnis ini kan sudah bisa berjalan setelah 20 tahun eksis. Jadi ini momennya saya untuk berkreasi lagi. Salah satunya lewat YouTube ini,” terang Ryo.

Lantas bagaimana cara membagi waktu untuk bermusik dengan tugas sebagai asisten pribadi KGPAA Mangkunagoro X? Ryo mengatakan akan terus mengabdikan diri pada Praja Mangkunegaran.

Hal ini tidak lepas karena darah trah Mangkunagaran yang mengalir pada dirinya. Selain itu karena tradisi, adat, juga budaya secara turun menurun itu.  

“Utamanya tetap melayani Kanjeng Gusti (Mangkunegara X), tapi jika ada hal yang berbenturan waktu dengan musik sering kali diberi izin oleh Kanjeng Gusti. Tapi saya tetap melayani beliau dengan maksimal. Baru kalau Kanjeng Gusti sedang keluar kota atau ke luar negeri dalam waktu lama biasanya saya manfaatkan untuk membuat karya seperti ini,” terang dia.

Saat ini  sudah enam karya kaver lagu orang lain yang diunggah di channel YouTube nya. Semua berbahasa Jawa sebagai ciri khas.

“Kebetulan karya-karya saya masih ada 20 lagu lebih. Ini bentuk eksistensi saya dalam bermusik, sekaligus upaya untuk melestarikan bahasa Jawa melalui karya musik,” terang Ryo. (*/bun) 

 

Editor : Kabun Triyatno
#musik #Pura Mangkunegaran #asisten pribadi #KGPAA Mangkunegara X #RMTH Haryo Dananjoyo Adityo Bhawono