Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

  Upaya Bank Sampah Umum Gajah Putih di Laweyan Solo Angkat Ekonomi Warga; Setor Sampah Menjadi Tabungan, Perluas Budidaya Magot

Silvester Kurniawan • Rabu, 19 Juni 2024 | 03:23 WIB

 

Budidaya maggot di Karangasem, Laweyan disinergikan dengan upaya pengelolaan sampah rumah tangga. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)        
Budidaya maggot di Karangasem, Laweyan disinergikan dengan upaya pengelolaan sampah rumah tangga. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)      

RADARSOLO.COM - Sampah yang dianggap kotor dan menjijikkan bagi banyak orang bisa berubah menjadi gerakan ekonomi jika ditangani dengan baik. Cara ini dilakukan pengelola Bank Sampah Umum (BSU) Gajah Putih di Karangasem, Laweyan ini.

Gerakan  bank sampah warga RT 03 RT 09 Karangasem itu dimulai sejak 2017 lalu. Warga bersama Yayasan Gita Pertiwi yang fokus dalam gerakan sosial dan lingkungan itu mulai mengedukasi masyarakat akan pentingnya mengelola sampah. Tahun itu, BSU Gajah Putih mulai berdiri dan aktif menyortir sampah rumah tangga milik warga.

“Kami mulai 2017 dan setahun kemudian dapat SK. Kami mengajak warga memilah sampah untuk dijual lagi ke pengepul. Jadi warga yang rutin ini nanti akan mendapat semacam buku tabungan. Pencairannya setahun sekali. Jadi dari memilah sampah itu warga juga bisa dapat cuan di akhir tahunnya,” terang Pengurus BSU Gajah Putih Karangasem Sri Basuki Rahmat.

Selang beberapa tahun kemudian, BSU Gajah Putih mulai melebarkan usaha berbasis masyarakat. Pada 2021, mereka mulai melakukan budidaya magot yang berjalan apik hingga hari ini. P

engelola berpikir, budidaya maggot itu selaras dengan gerakan memilah sampah yang digeluti selama ini. Mereka pun berani naik kelas dari sekadar memilah menjadi kelompok yang bisa mengolah sampah menjadi benda lain yang memiliki nilai ekonomis.

“Awalnya kami itu harus bolak-balik sosialisasi ke pemilik resto dan katering untuk mengambil sampah sisa makanan dari mereka. Tapi ternyata setelah dibuka banyak sampah plastiknya daripada sisa makanannya. Tapi sekarang kami punya langganan sendiri,” terang Basuki.

Kunci dari budidaya maggot itu adalah kebutuhan makanan untuk si maggot hingga siap dipanen pasca 17 hari dari penetasan telur. Di luar itu hanya ketekunan dan ketelatenan dalam pemeliharaan.

Bahan pakan didapat dari para pemilik resto dan katering. Layaknya simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan, hubungan antara produsen sampah dan pembudidaya maggot juga demikian.

“Mereka untung karena tidak lagi repot harus membuang sampah sisa makanan. Kami untung karena dapat pakan untuk maggot. Dari pola itu akhirnya kami sudah punya langganan atau rekana sendiri yang bertahan sampai hari ini,” terang dia.

Saat ini, BSU Gajah Putih Karangasem bisa menghasilkan puluhan hingga ratusan kilogram magot setiap bulannya. Jika satu kilogram dijual dengan harga terendah Rp 5.000, maka budidaya maggot itu bakal menjadi usaha alternatif yang menjanjikan.

Yang perlu diperhatikan adalah pemilihan lokasi yang baik agar tidak mengganggu warga sekitar. Sebab, ruang produksi dan budidaya maggot seperti ini memiliki bau asam yang cukup menyengat.

“Selain dijual sendiri, magot-magot ini juga saya pakai untuk pakan budidaya lele di rumah. Lelenya ini juga akan kembali ke masyarakat. Ketika panen akan dijual dengan harga di bawah pasaran. Jadi dari warga untuk warga,” papar Kenthuk.

Perwakilan Yayasan Gita Pertiwi Alfian Khamal Mustafa membenarkan bahwa gerakan memilah dan mengolah sampah yang mereka tularkan ke masyarakat banyak yang sudah berbuah manis. Salah satu buktinya seperti di BSU Gajah Putih Karangasem itu.

“Awalnya kami hanya sosialisasi dan mengajak warga untuk memilah sampah. Setelah berjalan baik warga akhirnya antusias untuk memperluar program-program bank sampah itu,” beber Alfian. (*/bun) 

 

Editor : Kabun Triyatno
#ekonomi #bank sampah #magot #sampah