RADARSOLO.COM - Membangun bisnis tak melulu berorientasi pada profit. Namun bisa juga karena pertimbangan syariah dan orientasi dakwah. Hal inilah yang menginspirirasi Fachry Sofyan membentuk wadah Ojek Muslim (Jekmu).
Munculnya Jekmu sebenarnya berawal dari keresahan untuk melahirkan peluang usaha untuk meningkatkan perekonomian bagi umat di Solo Raya. Terutama di sektor transportasi syariah masih minim atau bahkan belum ada.
"Bagaimana jemaah kami yang notabene banyak yang menganggur ini bisa punya pekerjaan. Setelah dibahas, mengerucut pada komitmen kami membuat jasa transportasi berbasis Islami non aplikasi. Jadi via admin WA (WhatsApp) seperti taksi zaman dulu," ungkap Fachry ditemui di Markas Jekmu di Masjid Al-Islam Mojolaban, Sukoharjo.
Dari obrolan tersebut, kemudian dilakukan test drive atau uji coba pada saat Muktamar Muhammdiyah di UMS pada 2022 lalu. Setelah kegiatan situ, ternyata banyak yang berminat.
"Dari situ kami lihat ada peluang dari sisi dakwah dan amaliyah di bidang jasa transportasi syariah," ujar Fachry.
Dari test drive tersebut, mulai dilakukan penjaringan untuk mencari driver. Hingga terkumpul 100 orang driver baik pria maupun wanita.
"Setelah itu kami semakin serius mengembangkan ini dengan membentuk admin. Dua admin untuk ojek pria dan dua admin untuk ojek wanita. Untuk driver kami beri penanda berupa rompi biru. Kami launching Februari 2023," jelasnya.
Awal berdiri masih banyak masyarakat yang belum mengetahui adanya Jekmu ini. Dengan memamfaatkan media sosial dan sosialisasi di dalam kajian dari satu masjid ke masjid lain. Akhirnya layanan ini mulai dikenal, khususnya bagi umat muslim di Solo Raya.
"Alhamdulillah, saat ini kami sudah banyak dikenal. Bahkan ada ponpes, sekolah berbasis Islam, kemudian masjid yang kerja sama dengan kami untuk antarjemput jemaahnya yang akan berangkat kajian," ujar dia.
Untuk sistem yang dijalankan, lanjut Fachry, menggunakan kerja sama dalam ketakwaan.
“Jadi tidak dalam 100 persen profit, di mana admin full tidak mendapat dari jerih payah mereka. Uang dari penumpang full untuk driver. Kami sebagai admin sebatas pekerja amal, dalam konteks mencarikan pekerjaan untuk umat," kata dia.
Saat ini ada sekitar 200 driver yang tersebar di seluruh Solo Raya. Untuk driver perempuan ada 80 orang, sisanya pria. Ada yang bersatus full sebagai pengojek, ada pula yang hanya menjadikan sebatas mata pencarian sambilan.
"Kami memang fokuskan untuk melayani umat (terutama muslimah). Sebab, banyak dari jemaah muslimah ini kesulitan mencari driver wanita. Sebab, dalam syariat pria dan wanita yang tidak terikat pernikahan itu bukan mukhrim, tidak boleh berboncengan," katanya.
Selain layanan pengantaran penumpang, banyak juga menggunakan jasa Jekmu untuk mengirimkan barang atau pesan makanan.
"Biasanya ini dipesan oleh orang tuanya di luar kota yang anaknya mondok di Solo Raya. Jadi mau memesankan makanan, nanti dikirim ke ponpes tempat anaknya mondok. Untuk sementara pembayaran hanya bisa dilakukan secara tunai," ujarnya.
Untuk tarif, 1 sampai 5 kilomter ditarik tarif Rp15 ribu. Lebih dari itu per kilogram akan mendapat tarif tambahan Rp 3 ribu per kilometer. "Untuk layanan belum 24 jam. Untuk yang driver wanita sampai jam 17.00, untuk yang pria sampai pukul 22.00 malam," kata dia. (atn/bun)
Editor : Kabun Triyatno