RADARSOLO.COM - Di tengah tren makanan cepat saji, Riko Diniskara justru melawan arus dengan menghadirkan inovasi dalam jajanan lokal. Dia mengubah pentol yang identik makanan kaki lima, menjadi naik kelas.
Ide inovasi Riko Daniskara telah membuahkan hasil. Setelah sekira dua tahun berproses, dia bersama sang istri akhirnya menemukan racikan pas untuk menyulap jajanan pentol menjadi makanan naik kelas.
Pembeli pun kini tak perlu risau untuk mengkonsumsi pentol yang sering dianggap camilan tak sehat. Sebab, produk milik Riko mengandung komposisi rempah-rempah.
"Produk kami adalah pentol rempah yang bisa dibilang makanan sehat dan halal, Kenapa sehat? karena bahan yang dipakai terbuat dari rempah-rempah alami dan tanpa pengawet," kata Riko saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di pameran Kenduren BI Solo 2024, belum lama ini.
Pentol rempah menjadi inovasi usaha Riko yang berjalan sejak akhir 2018. Kala itu, dia melihat potensi jajanan pentol banyak digemari masyarakat. Namun bahan yang digunakan pedagang cenderung tak jelas dan tak sehat.
Berawal dari inilah, pria 39 tahun ini mulai mengumpulkan ide mengubah citra rasa pentol sebagai makanan sehat yang bergizi. Termasuk saat pandemi Covid-19 datang, produknya mulai diburu masyarakat.
"Saat itu banyak orang mencari alternatif sehat dan alami, termasuk jamu. Namun, tidak semua orang menyukai jamu. Dari situ, saya terpikir untuk menggabungkan konsep rempah-rempah dengan pentol," jelas dia.
Pentol rempah buatan Riko mengutamakan bahan-bahan alami dan kesehatan. Berbeda dengan pentol konvensional yang biasanya menggunakan tepung terigu atau kanji.
Riko memilih sagu aren yang rendah gula dan kalori serta lebih baik untuk pencernaan.
"Kami menggunakan berbagai rempah-rempah Indonesia seperti jahe, kunyit, dan lengkuas, yang kami blender sehingga manfaatnya dapat masuk ke dalam tubuh secara maksimal," urainya.
Inovasi produknya mencakup varian rasa, dengan pilihan original dan rempah. Dimana produknya menawarkan tekstur yang berbeda dari pentol umumnya.
Produk pentol rempahnya lebih padat dan kenyal berkat adanya sagu aren, sehingga memberikan rasa kenyang lebih lama dan mengurangi rasa lapar dibandingkan dengan makanan berbasis nasi.
Itulah mengapa, pentol rempah buatan Riko berkhasiat untuk kesehatan. Tak hanya itu, produknya juga cocok untuk orang-orang yang tengah diet namun ingin mencicipi banyak jajanan.
"Untuk saat ini, varian rempah adalah yang paling laris. Namun, kami juga tengah mengembangkan kemasan kaleng untuk varian original," katanya.
Proses produksinya sendiri Riko lakukan secara manual di rumah, dengan kapasitas mencapai 1.000 hingga 3.000 butir pentol per hari. Riko dan istrinya mengelola semua aspek produksi dan distribusi secara mandiri, mulai dari pembuatan hingga pengemasan.
"Kami memilih untuk menggunakan sistem dry canning yang tidak memerlukan bahan pengawet. Ini membuat produk lebih sehat dan tahan hingga satu tahun," jelas Riko.
Dia pun turut memperhatikan aspek pemasaran dan edukasi kepada konsumennya. Tak selalu mulus, inovasinya juga kerap menghadapi tantangan.
Seperti saat proses pengenalan produknya ke pasar, karena persepsi masyaramat banyak mengenal pentol sebagau camilan sederhana.
"Kami ingin menunjukkan bahwa pentol bisa menjadi camilan yang sehat dan berkualitas tinggi, karena seringkali, istilah 'pentol' dianggap sama dengan cilok, padahal ada perbedaan signifikan. Pentol kami mengandung daging, sementara cilok hanya kanji," ujar dia.
Menurut dia, komposisi membuat pentol rempah memang harus dipertimbangkan dengan pas agar menghasilkan citra rasa yang diinginkan.
Terbukti dari hasil resep dan strategi pemasarannya yang berkembang. Pentol rempah ala Riko mampu menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk ke pulau-pulau besar di Indonesia seperti di Jawa, Sulawesi, dan Bali.
Dengan inovasinya, Riko juga membuktikan pentol mampu dipilih sebagai camilan yang sehat. Melalui pentol rempahnya, Riko juga menunjukkan bahwa dengan kreativitas dan komitmen, tradisi kuliner bisa beradaptasi dengan kebutuhan dan preferensi masa kini.
"Kunci membangun usaha memang lewat inovasi. Kami juga ingin masyarakat mengonsumsi makanan lebih sehat, namun tanpa mengorbankan hobi nyemil jajanan seperti pentol rempah ini," tukasnya. (ul/bun)
Editor : Kabun Triyatno