Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Kisah Ramayana: Tongkat Resi Wasista Lumpuhkan Kesombongan Wiswamitra (1)

Tri wahyu Cahyono • Senin, 12 Agustus 2024 | 20:23 WIB
Photo
Photo

RADARSOLO.COM-Wiswamitra merupakan batu landasan bagi keseluruhan bangunan cerita Ramayana.

Dia adalah seorang raja yang mencapai tingkat kesucian melalui tapa brata yang sangat berat.

Menjalani tapa brata yang sedemikian keras dan tekun hingga Batara Syiwa berkenan dan memberikan semua senjata yang dimiliki para dewa, iblis, dan resi.

Di tengah hutan, di luar asrama Resi Wasista, seekor kelinci dan kijang menoleh-noleh waspada, mendengar suara langkah kaki menginjak rumput.

Sedetik kemudian mereka lari ketakutan.

Dua orang murid Resi Wasista heran. “Kenapa binatang-binatang itu?”

“Lihat itu,” sambung seorang lagi,

“Wiswamitra datang!”

Wiswamitra berdiri di halaman asrama.

“Keluarlah Resi Wasista! Dulu ketika aku masih menjadi raja pernah menginginkan Sabala, lembumu,”.

Sabala adalah sumber segala kebutuhan yang tiada habis-habisnya.

Kemakmuran dan kesaktian semacam itu seharusnya menjadi milik seorang raja.

“Tetapi engkau menolak memberikannya. Pasukanku terpaksa menyeret Sabala,”.

Kondisi tersebut memicu terjadinya pertempuran antara pasukan Wiswamitra dan pasukan Resi Wasista.

Pasukan Wiswamitra kalah telak. Tidak hanya itu, putra-putranya juga banyak yang meninggal dunia.

“Lihatlah aku yang sekarang ini!” teriak Wiswamitra sambil menunjuk dadanya.

“Karena kekalahan itu, aku menyerahkan tumpuk kekuasaan kepada salah satu putraku. Lalu aku bertapa memohon kepada Batara Syiwa supaya dianugerahi kesaktian untuk mengalahkanmu!”

Dalam sekejap, muncul busur dan anak panah dari tangan Wiswamitra.

“Keluarlah Resi Wasista! Akan kuhancurkan seluruh asrama pertapaanmu!”

Wiswamitra kemudian membidikkan anak panahnya.

Anak panah Wiswamitra meluncur dahsyat seperti hendak melebur seisi hutan.

“Lari! Lari!” jerit murid-murid Resi Wasista.

Mereka berlari ke sana kemari. Anak panah itu menebas pohon besar dan akhirnya tumbang menimpa atap asrama murid Resi Wasista sampai hancur.

”Hai Resi Wasista! Seluruh asramamu akan kujadikan abu. Kalau aku mau, bahkan seluruh hutan ini!”

Kemudian Resi Wasista keluar menemui Wiswamitra.

Di tangannnya menggenggam brahmandanda, tongkat sakti.

“Semua itu bisa kau lakukan. Tetapi tidak terhadapku. Aku akan mengkhiri keangkuhanmu, wahai raja yang semena-mena!” kata Resis Wasista.

Dengan amarah yang memuncak, Wiswamitra kembali melontarkan anak panahnya.

Bersamaan dengan itu Resi Wasista mengacungkan tongkatnya.

Ajaib, anak panah Wiswamitra terserap masuk ke dalam tongkat itu.

“Kurang ajar!" seru Wiswamitra.

"Terimalah senjataku yang paling sakti ini. Semuanya akan lebur menjadi abu,".

Wiswamitra kemudian mengangkat tangannya ke atas, mengeluarkan brahmastra lalu muncul sebuah senjata pendek yang masing-masing ujungnya seperti tombak.

Langit gelap, petir menyambar-nyambar, ketika Wiswamitra mengeluarkan senjata pamungkasnya.

Kegelapan merayapi bumi seperti terjadi gerhana besar.

Wiswamitra segera melemparkannya, sesaat bumi pun berguncang.

Resi Wasista tersenyum sambil menancapkan tongkatnya ke tanah.

Tongkat itu memancarkan cahaya terang, menelan kegelapan yang ditimbulkan brahmastra.

Kekuatan brahmastra punah di hadapan brahmandanda.

Senjata Wiswamitra lebur menjadi abu di hadapan tongkat itu.

Wiswamitra terpaku, tidak mempercayai apa yang dilihatnya.

Apa gunanya kesaktian seorang kesatria? Pikirnya. Hanya dengan sebuah tongkat di tangan Resi Wasista, semua senjataku tak ada apa- apanya.

Batara Syiwa telah menipuku mentah-mentah. Sekarang, aku tidak punya pilihan lain selain menjadi brahmaresi seperti Wasista!"

"Hai Wiswamitra!" seru Resi Wasista. "Kubiarkan kau pergi hidup-hidup!"

Dengan penuh kekecawaan, Wiswamitra kemudian meninggalkan lokasi pertempuran.

“Aku akan meninggalkan tempat ini untuk melakukan tapa brata yang lebih berat. Aku akan mencapai tingkatan resi yang setara denganmu,”

Wiswamitra kemudian pergi menuju selatan, berjalan ke arah bukit. (tz/mg/wa)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#kisah ramayana #wiswamitra #resi wasista #sakti #pertarungan