Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Kisah Ramayana: Raja Trisanku yang Begitu Rupawan yang Berakhir dengan Kutukan (3)

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 14 Agustus 2024 | 02:48 WIB

 

Photo
Photo

 

RADARSOLO.COM-Suatu hari, serombongan pasukan berkuda terlihat sedang mengiringi kereta kencana yang dinaiki raja dan kusirnya.

Mereka melewati jalan setapak yang di samping kirinya adalah pasar.
Kata salah seorang penduduk: “Itu raja muda Trisanku. Beliau hendak pergi ke mana?”

Jawab teman di sebelahnya, “Dengar-dengar, beliau sedang mencari seseorang untuk mewujudkan keinginannya”.

“Beliau sangat bangga dengan ketampanan yang dimiliki, hingga tidak ingin berpisah dengan raganya ketika mati. Beliau ingin masuk ke surga dengan membawa raganya yang penuh pesona itu,”.

Memang benar apa yang dikatakan orang itu. Raja Trisanku sungguh elok laksana pangeran dari kahyangan.

Rombongan itu sampai di depan asrama Resi Wasista. "Berhenti!" perintah Trisanku.
Trisanku masuk seorang diri ke dalam asrama Resi Wasista. "Salam, Guru," sembahnya.

"Salam, muridku," balas Wasista. "Semoga panjang umur. Ada keperluan apa kau datang ke sini?"

"Guru, aku adalah raja dinasti titisan Batara Surya yang ditakdirkan memiliki wajah tampan. Bahkan, aku sendiri mencintai ketampananku ini,”.

“Aku tidak ingin berpisah dengan ragaku ketika mati. Guru sangat sakti tiada tandingan, dengan pertolonganmu, kelak aku bisa naik ke surga bersama ragaku,"

Resi Wasista menggelengkan kepala. "Kali ini aku tidak bisa memenuhinya. Lupakan keinginanmu yang tidak mungkin terwujud itu."

Tidak puas dengan jawaban sang guru, Trisanku keluar dari asrama.

Salah satu pengawalnya bertanya, "Bagaimana Paduka Raja? Apakah Resi Wasista menerima permintaan Paduka?"

"Tidak. Beliau menolak keinginanku.

"Paduka tidak perlu berkecil hati, di asrama sebelah sana, tinggallah putra-putra Resi Wasista, siapa tahu mereka sanggup memenuhi keinginan Paduka,".

"Kuterima saranmu," kata Trisanku.
Trisanku segera masuk ke asrama milik putra-putra Resi Wasista.

"Salam, putra-putra guruku," sapa Trisanku.

“Salam Raja Trisanku,” balas putra-putra Wasista.

“Aku telah memohon kepada ayahandamu untuk mewujudkan keinginanku, tetapi beliau tidak dapat memenuhinya, aku berharap kalianlah yang sanggup melakukannya,”.

Raja Trisanku menceritakan keinginannya, mereka menjadi gusar. Kata salah satu dari mereka:

“Gila! Keinginanmu mustahil. Ayah kami saja tidak menyanggupi, apalagi kami!”
Kata yang lain, “Pergilah dari sini dan singkirkan keinginan gilamu!”.

Trisanku geram. “Kesaktian macam apakah yang kalian miliki? Ternyata kalian tidak memiliki kemampuan untuk membantuku. Aku akan mecari orang lain yang lebih mumpuni.”

“Lancang!” hardik putra Wasista. “Engkau telah lupa diri karena keindahan ragamu.

Trisanku lalu dikutuk. Semoga engkau menjadi seorang candala!.

Benar saja. Kondisi fisik Trisanku berubah buruk.

Penghuni istana tak lagi mengenal Trisanku.

Kata seorang prajurit, “Siapa kau? Seorang candala tidak boleh masuk ke dalam istana!”

“Aku adalah Trisanku, raja kalian.”

Trisanku menjadi buruk rupa denga pakaian kumal.

Dua prajurit lalu mencengkeram kedua lengan Trisanku.

“Ha..ha…ha! Ternyata kau orang gila yang bermimpi memiliki wajah setampan raja kami!”

Ayo kita usir orang kumuh ini!” seru prajurit lainnya.

Mereka menjatuhkan Trisanku ke luar dari istana. “Pergilah jauh-jauh dari sini!”

Para menteri dan rakyat tidak bisa mengenalinya lagi. Trisanku mengembara tak tentu arah.

Dia berjalan memasuki hutan, kemudian menjatuhkan diri tidak berdaya. “Aku lapar dan lelah,” rintihnya.

“Jika tidak segera kutemukan makanan dan tempat persinggahan, aku bisa mati...”

Tiba-tiba di depannya muncul sesosok tubuh dan berkata: “Bukankah kau adalah Raja Trisanku? Bagaimana kau bisa mengalami nasib yang sedemikian buruk? Siapa yang mengutukmu?

Trisanku mendongak ke atas menatap orang itu.

Pasti dia bukan orang sembarangan, pikirnya, hanya dia yang dapat mengenaliku.”

“Paduka yang mulia, aku adalah Wiswamitra. Ceritakanlah apa yang sedang terjadi, siapa tahu aku bisa menolong paduka.”

Maka, tanpa ragu-ragu, Trisanku menceritakan semua yang ia alami kepada Wiswamitra.
Wiswamitra tersenyum sesaat sebelum berkata.

“Aku sudah bisa menangkap keseluruhan cerita paduka. Akan kupersiapkan upacara korban yang memungkinkan paduka naik ke surga bersama dengan tubuh candala ini.”

Wiswamitra lalu menepuk bahu Trisanku. Trisanku girang bukan main.

“Terima kasih, Wiswamitra, terima kasih!”

Wiswamitra segera mengajak Trisanku ke asramanya, tempat dilaksanakannya upacara korban agung.

Seorang murid Wiswamitra melapor. “Guru, para resi dari berbagai penjuru sudah datang untuk upacara korban besar ini. Tidak ada yang berani menolak undangan guru, kecuali putra-putra Resi Wasista. Mereka justru menertawakan upacara korban yang akan dipimpin oleh guru,”

Mendengar laporan itu, amarah Wiswamitra meledak. “Laknat! Aku kutuk mereka mati dan terlahir selama tujuh generasi di sebuah suku yang ditakdirkan memakan daging anjing!” (tz/mg/wa)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#raja trisanku #kisah ramayana #wiswamitra #resi wasista