Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Inilah Temuan Lima Mahasiswa UNS Solo Kembangkan Obat Penyakit Kanker dari Daun Ketepeng, Seperti Apa Penggunaanya?

Antonius Christian • Senin, 26 Agustus 2024 | 03:59 WIB
Proses penelitian dau ketepeng menjadi obat kanker oleh tim mahasiswa UNS. (Ist)
Proses penelitian dau ketepeng menjadi obat kanker oleh tim mahasiswa UNS. (Ist)

 

RADARSOLO.COM - Kanker masih menjadi salah satu penyakit mematikan di negeri ini. Salah satu metode pengobatan yang ampuh melalui proses kemoterapi. Namun, ada efek yang dialami pasien. Nah, kelompok mahasiswa asal Solo ini mengembangkan solusi obat penyakit ini dari bahan herbal.

Mahasiswa  ini tergabung dalam Tim Program Kreativitas Riset Eksakta (PKM-RE) Universitas Sebelas Maret. Tim ini dipimpin Setyanto Arief Wiedagdo beranggotakan Anjelika Putri Febriyanto, Valentina Kusumaningrum, Fasha Putri Arkhani, dan Rizky Eka Putera.

Gabungan dari mahasiswa kimia dan kedokteran ini membuat obat herbal dengan menggunakan tanaman hias ketepeng. Mereka mengklaim obat herbal ini rendah efek samping serta toksisitas.

Tim  mahasiswa UNS yang meneliti daun ketepeng. (Ist)
Tim mahasiswa UNS yang meneliti daun ketepeng. (Ist)

Setyanto menegatakan, munculnya inovasi tersebut didasari fakta bahwa kanker dikategorikan sebagai non-communicable disease atau penyakit tidak menular dengan angka kematian yang sangat tinggi. 

"Kemudian salah satu jenis kanker dengan angka kejadian tertinggi kedua adalah kanker payudara. Di Indonesia tercatat 400 ribu orang menjadi pasien kanker paudara. Lebih dari 240 ribu meninggal pada 2022," ujar Setyanto.

Dari data tersebut, lanjut Setyanto,  menunjukkan bahwa  pasien kanker payudara berasal dari Indonesia cukup tinggi. Dan lebih dari 50 persen pasien kanker payudara meninggal setelah terdiagnosis penyakit tersebut,

"Untuk itu, kami berinovasi membuat obat antikanker rendah efek samping dan toksisitas yang berasal dari herbal khas Indonesia untuk meningkatkan budidaya herbal lokal," urai dia.

Salah satu alasannya, kata Setyanto, pengobatan kanker saat ini yang berupa kemoterapi memiliki efek samping serta toksisitas yang menurunkan kualitas hidup pasien.

Penurunan kualitas hidup seperti rambut rontok, depresi, kehilangan berat badan dan juga kerusakan hati menyebabkan banyak pasien kanker enggan untuk melakukan kemoterapi. 

"Untuk itu, kami mencoba melakukan penelitian, di mana ketepeng ini ternyata bisa menjadi alternatif untuk pengobatan kanker payudara. Sebab, memiliki kandungan flavonoid aktif yang bersifat antioksidan dan antiinflamasi untuk membantu melawan sel kanker,” ujar dia.

Alasan ketepeng dipilih karena merupakan salah satu tanaman hias yang banyak dibudidayaka sehingga mudah didapat.

"Jadi sekarang selain untuk hiasan, ternyata daunnya memiliki manfaat lain," imbuh dia. 

Untuk mendapat senyawa tersebut daun ketepeng diambil ekstraksnya lalu di optimasi untuk mendapatkan hasil flavonoid tertinggi. Hasil flavonoid tertinggi didapatkan melalui pengukuran response surface methodology (RSM) pada variabel-variabel etanol dan suhu serta konsentrasi yang berbeda. 

Hasil dengan flavonoid tertinggi lalu dicek jenis flavonoid yang terkandung dalam ekstrak dengan metode kromatografi cair-spektrometri massa. Hasil tersebut akan dicek kecocokan dan kekuatan antioksidan serta antiinflamasi melalui metode docking dan in silico dari segi alergenitas dan toksisitas.

Tetapi, hasil ekstrak yang telah didapatkan dari daun ketepeng belum dapat digunakan secara langsung untuk pengobatan. Sebab, bioavailabilitasnya masih rendah serta bentuk sediaan yang masih hidrofilik.

"Sel dalam tubuh memiliki suatu lapisan terluar yang bersifat hidrofobik yang berguna untuk mencegah sel hancur," ujar dia. 

Untuk mengatasi hal tersebut, Setyanto dan tim menginovasikan penggunaan chitosan yang dikombinasikan dengan nano liposom sebagai pembawa ekstrak tersebut. Chitosan merupakan suatu zat mirip gula yang berasal dari cangkang hewan arthropoda yang saat ini masih kurang dimanfaatkan.

"Selain itu, kombinasi dengan nano liposom dapat membantu ekstrak tidak larut dalam plasma karena bentuknya yang hidrofobik. Dan penggunaan folic acid sebagai reseptor mampu menghantarkan ekstrak ke sel kanker secara spesifik," jelas dia.

Disinggung soal uji coba, dia mengatakan, hal tersebut butuh proses yang tidak sebentar serta harus dilakukan dalam beberapa tahap.  

"Tentu kami akan mengarah ke sana. Cuma memang butuh proses. Sejauh ini, dengan daun ketepeng, bisa diubah untuk obat luka," kata dia. 

Hasil dari penelitian ini nanti akan didaftarkan hak paten sederhana. Selain itu juga akan diseminasikan dalam konferensi internasional mendatang. 

"Semoga dengan adanya inovasi ini, diharapkan dapat menjadi alternatif baru dalam penyembuhan kanker payudara dengan efek samping dan toksisitas yang minimal dan meningkatkan nilai budidaya tumbuhan ketepeng," beber dia. (*/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#herbal #kanker #obat #UNS Solo #mahasiswa