RADARSOLO.COM - Kehidupan masyarakat Kota Solo yang majemuk bakal diangkat menjadi film layar lebar. Lewat film berjudul Cocote Tonggo, Bayu Skak ingin mengangkat hiruk pikuk masyarakat Solo.
Sesuai dengan judulnya, Cocote Tonggo bila diartikan dalam bahasa Indonesia yakni cibiran tetangga. Ini menggambarkan kehidupan bersosial atau bertetangga yang tak akan jauh dengan omongan atau cibiran tetangga.
Mengambil latarbelakang warga Kota Solo, film ini mengambil lokasi syuting di kawasan Kampung Batik Laweyan, Lokananta hingga Colomadu, Karanganyar. Proses syuting Cocote Tonggo mulai digelar Minggu (1/9)
Sutradara Film Cocote Tonggo, Bayu Skak mengatakan, film ini mengambil latar kehidupan bertetangga di Kota Solo, termasuk dialognya berisi Bahasa Jawa khas Kota Bengawan.
Dia menuturkan memiliki alasan kuat memilih Kota Solo sebagai latar cerita. Kekentalan budaya Jawa menjadi ciri khas kota ini, seperti dialek bahasanya hingga tradisi ramuan jamu kesuburan. Termasuk perkembangan Kota Solo yang makin maju beberapa tahun terakhir.
Bahasa Jawa Mataraman Solo disebutnya menjadi tantangan tersendiri bagi para aktor Cocote Tonggo. Apalagi bahasa di Solo berbeda dengan bahasa di Jogjakarta, Semarang atau bahkan di kota-kota Jawa Timur.
"Itulah tantangannya bagi kami. Di sini (aktor) berasal dari berbagai daerah campuran, Jakarta, Semarang, Malang, dan Jogjakarta. Semuanya belajar dialek Solo. Tapi alur film komposisinya tetap 60 persen bahasa Jawa, 40 persen bahasa Indonesia," tutur Bayu.
Pria yang sudah menyutradari beberapa film ini mengatakan, film yang dikemas dalam bentuk humor ini menceritakan suami istri penjual jamu kesuburan di Kota Solo, tetapi justru mereka ini belum memiliki keturunan.
Kondisi ini membuat pasangan suami istri penjual jamu ini menjadi bahan gunjingan tetangga. Untuk mempertahankan pamor toko jamu kesuburan yang dikelola secara turun temurun inilah, sepasang suami isteri ini, harus berpura-pura hamil. Mengaku anak yang mereka temukan, sebagai anak sendiri.
“Kehidupan bertetangga berlatar warga Kota Solo ini bakal seru. Guncingan-gunjingan tetangga ini related dengan kehidupan sehari-hari lalu kita bawa ke dalam film,” ujar dia.
Sejumlah artis kawakan dari yang muda sampai senior bakal meramaikan film ini. Seperti Marwoto, Yati Pesek, Tatang Gepeng, Dennis Adhiswara, Ayushita, Asri Welas, termasuk Bayu Skak sendiri bakal bermain.
Selain itu ada Sundari Soekotjo, Ika Diharjo, Devina Aurel, Maya Wulan, Putri Manjo, Furry Setya, Benedictus Siregar, Firza Falaza, Ellea Brilliana Arfura, Delano Daniel, dan Intan Soekotjo.
"Kami mengusung konsep lokadrama. Para pemain juga seluruhnya putera puteri daerah. Kami yakin, film ini nantinya akan mendapat tempat di hati masyarakat," kata dia.
Tantangan mengambil peran pada fimini dirasakan para pemainnya. Seperti yang diungkapkan sang pemeran utama Dennis Adhiswara. Sebagai pria keturunan Malang, dia harus belajar Bahasa Jawa Mataraman Solo.
"Bahasa Jawa ini unik menurut saja. Meski sama-sama Jawa, jangankan dengan Malang, antara Solo dan Semarang saja beda logatnya," turur Dennis.
"Solo ini punya ciri khas logatnya sendiri. Istilahnya seperti lagu dangdut, punya cengkok sendiri. Jadi tantanganya bukan perannya, namun benar-benar membawa roh masyarakat Solo ini kedalam film. Sehingga butuh riset yang panjang sebelum kita syuting," imbuh Dennis.
Hal senada juga diungkapkan pemeran utama lainnya Ayushita. Memang ada darah Solo mengalir pada tubuhnya, namun sejak lahir hingga dewasa dia hidup di Jakarta. Sehingga dia tetap harus belajar untuk menguasai bahasa Jawa dengan gaya Solo-nya.
"Beban ada banget, tapi semua tim saling bantu untuk menggunakan bahasa Jawa, pasti diusahakan fasih karena latar (film) ada di tanah kelahiran eyang-eyangku," kelakar Ayushita. (atn/bun)
Editor : Kabun Triyatno