RADARSOLO.COM - Para perempuan yang tergabung dalam Komunitas Indonesia Merajut ini membuat karya spektakuler. Peta Indonesia rajut berukuran raksasa. Bagaimana prosesnya?
Tangan-tangan para wanita ini sangat lihai. Mengkait-kaitkan jarum berwarna silver dan benang polycherry. Kegiatan yang disebut merajut itu ditelateni oleh lima wanita di sebuah basecamp Komunitas Indonesia Merajut.
Berbeda seperti biasanya, wanita-wanita tersebut mengerjakan proyek yang cukup besar. Membuat karya tangan Peta Indonesia berbentuk raksasa. Nantinya peta ini bakal dipajang pada Festival Payung di Taman Balekambang, awal September.
"Ide awalnya malah lebih besar. Awalnya mau 16 x 40 meter, sebesar itu. Hanya saja, waktunya mepet. Dananya juga saya hitung-hitung besar sekali. Akhirnya kami perkecil," beber Inisiator Karya Peta Indonesia Rajut Raksasa Tutus DS kepada Jawa Pos Radar Solo.
Sejatinya, buah tangan ini sudah digodok sejak dua tahun silam. Hanya saja, ada sejumlah hal yang membuat Tutus menunda proyek ini. Termasuk dia yang sempat jatuh sakit dan lain sebagainya.
"Akhirnya baru terealisasi kemarin setelah saya pulang dari Jakarta, teman meminta ayo direalisasikan. Dan akhirnya saya semangat untuk merealisasikannya," sambung Tutus.
Awalnya, para perajut se-Indonesia ingin diajak oleh Tutus dalam karya ini. Namun setelah menimbang-nimbang ukurannya yang diperkecil, maka dia memutuskan untuk mengandalkan perajut di Solo Raya.
Total ada enam perajut yang membantu Tutus dalam pengerjaan proyek ini. Di antaranya Wiwien, Maria Dolorosa, Rini Widiastuti, Arini Dewi. Dan dua lainnya Riza serta Budha Istiqomah.
"Besok setelah Festival Payung kami ingin merencanakan buat yang lebih besar lagi. Mungkin juga bikin bentuk yang lain. Nanti melihat antusiasnya seperti apa," tambah Tutus.
"Ini ibaratnya sebagai prototype, bahwa kita bisa membuat karya dengan bekerja bersama-sama. Jika menggarap dengan perajut se Indonesia akan seru. Tapi untuk itu kami juga butuh dana," sambung dia.
Lantas bagaimana pembuatan karya ini? Terdapat pembagian pada proses perajutan. Ada yang mengerjakan lautan dengan warna biru muda. Ada juga yang menggarap daratan, yang mana menggambarkan pulau-pulau di Indonesia.
"Kalau lebih dari dua warna (harus menyambungkan, Red) itu saya sama Wiwien. Cuma yang satu warna bisa digarap sama teman-teman dengan cepat. Untuk daratan kami pakai teknik C2C, kalau laut pola rantai," ujar Tutus.
Sampel-sampel sudah disusun sejak awal Juli. Sekira akhir Juli hingga awal Agustus, ketujuh wanita ini mulai merajut satu per satu. Mereka menargetkan karya ini kelar akhir Agustus lalu.
Dalam kurun waktu pendek, banyak tantangan yang dihadapi para wanita perajut ini. Lelah hingga jenuh harus dirasakan oleh mereka.
"Saya kadang sampai mau mual. Dari situ saya harus istirahat. Kami di sini juga saling mem-backup," sambung Tutus.
Tantangan tak berhenti di situ. Karya ini digarap lebih dari satu orang. Di mana masing-masing perajut memiliki gaya sendiri-sendiri. Dari sana, mereka harus menyamakan ukuran.
"Istilahnya tarikannya harus disamakan. Makanya sejak awal saya memilih benang yang stretching-nya agak bagus. Jadi kalau ada perbedaan bisa tertutupi," sambungnya.
Hakpen-alat merajut-yang dikenakan oleh tujuh wanita ini juga berbeda-beda. Ada yang memakai nomor 2, 3, 4, dan sebagainya.
"Makanya kami ukur saja pokoknya dengan jumlah sekian, tusukan panjangnya harus sekian. Seperti itu," jelasnya.
Sementara itu, dari karya ini Tutus dan kawan-kawan ingin mengenalkan kepada masyarakat bahwa rajut itu bisa untuk macam-macam. Tidak hanya tas, baju. Bisa untuk pemandangan dan lain sebagainya. (nis/bun)
Editor : Kabun Triyatno