Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Tari Topeng Ireng Hiasi Tradisi Sebar Apem di Pengging, Boyolali: Sarana Dakwah Waliyullah

Mannisa Elfira • Minggu, 8 September 2024 | 21:15 WIB
SEMARAK: Sejumlah penari menampilkan tarian Topeng Ireng dalam perayaan tradisi menyambut Maulid Nabi di Alun-Alun Pengging, Banyudono, Boyolali, Jumat (23/8/2024).
SEMARAK: Sejumlah penari menampilkan tarian Topeng Ireng dalam perayaan tradisi menyambut Maulid Nabi di Alun-Alun Pengging, Banyudono, Boyolali, Jumat (23/8/2024).

RADARSOLO.COM - Bunyi gemerincing menggema berkepanjangan. Suara-suara tersebut muncul dari lonceng yang diikat pada kaki-kaki para penari.

Mulai dari atas mata kaki hingga bawah lutut. Inilah ciri utama tari Topeng Ireng. Tari tradisional khas warga di lereng Gunung Merapi dan Merbabu.

Tari Topeng Ireng sering ditampilkan dalam momentum perayaan tradisi tertentu di Kota Susu.

Tak terkecuali saat tradisi sebar apem kukus keong mas di Alun-Alun Pengging, Kecamatan Banyudono, Jumat (23/8/2024) lalu.

Tarian ini cukup berkembang pesat di lereng Merbabu dan Merapi. Menggambarkan sekelompok prajurit yang berkamuflase dalam melawan penjajahan Belanda.

Penari dalam tarian Topeng Ireng ini terlihat tampil dengan penuh energi dan rasa percaya diri.

Topeng Ireng juga diinterpretasikan sebagai kesenian peninggalan seorang wali, dalam upaya menyebarkan agama Islam.

Tari ini sering ditampilkan dalam tradisi kirab. Seperti kirab budaya, bersih desa, dan arak-arakan pemasangan kubah masjid.

Saat tampil dalam kirab, masyarakat mengikuti gerakan tarian Topeng Ireng dengan iringan rebana dan syair pujian-pujian Islami. 

Saat perform di Alun-Alun Pengging, Topeng Ireng diiringi empat lagu. Gerakan tangan yang lugas dan kaki yang lincah dari para penari, membuat tarian tersebut cukup menarik perhatian.

Pengunjung tampak menikmati. Pola gerakan tarinya juga bermacam-macam. Kadang berbaris berjajar, kadang juga membuat lingkaran.

Persembahan ini cukup membius semua orang yang datang. Saking terpukaunya, tak sedikit dari mereka yang mengabadikan tarian tersebut menggunakan gawai. Entah itu berupa foto atau video. 

Adalah Siti Sholikhah dan Ani Suprapti, dua di antara sepuluh penari yang tampil membawakan Topeng Ireng saat itu.

Mereka berdua berasal dari sanggar yang berbeda. Lebih tepatnya sanggar Singo Mekar Budoyo (SMB) dan sanggar Turonggo Mudo Kencono (TMK).

“Dua sanggar ini diundang untuk tampil dalam tradisi sebar apem. Persiapan kamis sekitar dua minggu,” beber Siti. 

Siti menambahkan, biasanya Topeng Ireng melibatkan dua atau lebih sanggar seni. Berkolaborasi untuk menampilkan karya terbaik.

“Persiapan dalam latihan untuk tampil, biasanya tergantung dari jadwal undangan. Tapi di luar itu, sanggar kami memang intens melestarikan tarian tradisi. Terutama tari tradisi dari Boyolali,” imbuh Siti. (mg7/nis/fer)

Editor : Damianus Bram
#Boyolali #tradisi sebar apem #tarian tradisional #pengging #Tari Topeng Ireng