RADARSOLO.COM - Pernikahan merupakan peristiwa sakral. Tak heran biasanya selalu menciptakan momen yang berkesan. Seperti pasangan asal Jakarta Vigi dan Monika ini. Mereka membawa konsep peduli lingkungan atau eco conscious dalam pernikahaannya. Ini pertama di Indonesia.
Momen pernikahan bagi Vigi dan Monika bukan hanya sekadar perayaan cinta. Tetapi juga wujud komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan. Mereka berhasil mengurangi jejak karbon di hari istimewa.
Tepatnya di 29 Juni 2024, pernikahan pasangan muda ini menjadi pertama yang melakukan carbon offsite di Indonesia.
"Karena pernikahan adalah acara sakral dan spesial, kami ingin momen ini memiliki dampak positif tidak hanya untuk kami, tetapi juga untuk lingkungan,” kata Vigi kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (5/9).
Dengan menerapkan tema eco-conscious wedding, Vigi bersama pasangannya mengharapkan bahwa pernikahan ini dapat menginspirasi banyak orang dan membantu bumi.
Pernikahan ramah lingkungan ini merupakan perayaan pernikahan yang dilakukan secara strategis untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Hal ini mereka terapkan dengan mengurangi jumlah limbah dan jejak karbon yang dihasilkan selama pernikahan berlangsung.
Berdasarkan data SRN Retairment, tercatat pernikahan Vigi dan Monika berhasil melakukan carbon offsite sebanyak 20 ton CO2e.
"Kami mencoba untuk melakukan retirement atau pengurangan emisi melalui bursa karbon. Jadi waktu itu di pernikahan kami, karbon retirement-nya saya jadikan salah satu gift untuk tamu undangan," jelas Vigi.
Upaya pengurangan jejak karbon yang dilakukan Vigi dan Monika meliputi tiga aspek, yakni di scoupe 1, 2, dan 3. Scope 1 mencakup emisi yang dihasilkan langsung oleh acara, seperti emisi dari pembakaran bahan bakar kendaraan pengantin, emisi dari generator dan katering makanan.
Scope 2 mencakup emisi tidak langsung yang dihasilkan dari pembangkitan energi. Seperti kebutuhan listrik di lokasi acara serta penggunaan teknologi pemanas atau pendingin ruangan.
Sementara itu, Scope 3 mencakup emisi tidak langsung lainnya, seperti emisi dari kendaraan tamu undangan saat menghadiri pernikahan, pengiriman dan logistik, penggunaan produk makanan dan minuman, serta pengelolaan limbah.
"Jadi, gift-nya berupa sertifikat yang menunjukkan bahwa meskipun tamu undangan menggunakan transportasi berbahan bakar fosil untuk datang ke pernikahan kami, emisi yang dihasilkan selama perjalanan itu telah kami kompensasikan dengan carbon offset atau pengurangan emisi karbon," terang Vigi.
Berbagai efisiensi energi itu dapat Vigi capai melalui proyek PLN Pembangunan Pembangkit Listrik Baru Berbahan Bakar Gas Bumi (PLTGU) Blok 3 PJB Muara Karang. Sebab. pernikahan mereka sendiri digelar di wilayah Jakarta.
Di samping menyeimbangkan emisi karbon dalam pernikahan mereka, Vigi dan Monika turut memilih souvenir kenang-kenangan yang consumables untuk mengurangi tumpukan barang. Dimana hadiah dikemas menggunakan kertas agar mudah terurai.
Selain itu, wadah air mineral yang disajikan menggunakan gelas kaca agar mengurangi penggunaan plastik. Serta mempersilakan tamu undangan untuk menikmati sajian dengan mindful agar mengurangi sampah sisa makanan.
"Memang, pernikahan ramah lingkungan ini kami pilih karena kami ingin membantu bumi, serta memberikan contoh yang baik bagi orang lain," urainya.
Menurut Vigi, pernikahan berkonsep ramah lingkungan memang telah berkembang. Dia turut berharap, dapat berdampak lebij baik bagi kelestarian lingkungan.
Dia pun mempersilakan masyarakat mengikuti konsep eco-conscious seperti acara pernikahannya. Dimana ide ini muncul seiring munculnya Bursa Carbon Indonesia yang diresmikan pemerintah pada tahun lalu.
"Menurut kami, pelestarian lingkungan bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk dalam menggelar acara pernikahan, selama hai itu turut berdampak baik bagi lingkungan sekitar," tukas Vigi. (ul/bun)
Editor : Kabun Triyatno